Wednesday, September 17, 2014
Sudah Jatuh Tertimpa Durian dan Diberi Makan Ampas Pula
"Sumpah deh, baru kali ini gue dijadikan budak dan gue rela aja," ujar Sinta sembari duduk di kursi kerjanya sambil menghempaskan berkas-berkas yang tadinya dia pegang.
"Yeeee, dikasih kerjaan tuh harusnya bersyukur. Ingat Sin, apa tujuanmu dari awalnya." balas Juwita, yang duduk di sampingnya.
Sinta menghela nafas panjang
"Iya sih, tapi gue pikir ga seberat ini Wit," ujarnya lagi.
"Terus, elo maunya ongkang-ongkang kaki, ngetik ini itu sedikit, terus selebihnya tinggal kasih ke bos dan elu bisa sambil ngecat kuku gitu?"
"Ya ga juga sih, tapi kan ga gini-gini amat, kayak jadi budak tahu ga sih? Kadang gue jadi berpikir sendiri sebenarnya apa ya yang gue mau? Gue jg ga ngerti nih!"
"Nah itu dia, cari tahu dong. Hidup kan hidup elo sendiri, mau sesuatu yang fun, atau apa ya itu pilihan elu tapi apa elo udah ketemu? Parah ya nih anak"
Sinta terdiam.
***
Melodi mengalun lembut di telinga Sinta. Akhir-akhir ini, dia galau berat. Kata orang sih, kayak jadi mumi hidup gitu deh. Atau mungkin robot ya. Ya, pokoknya itulah kurang lebih keadaan Sinta. Dia sedang menikmati malam hari setelah pulang kerja. Penat, capek, letih, lesu, lemas, apa lagi ya. Ya pokoknya lagi ga berdaya gitu. Hidup segan, mati ga mau.
Masalahnya cuma 1, dia merasa hidup itu sia-sia. Bayangin aja (jangan kelamaan bayanginnya, hehehhe), Sinta baru tahu kalau dia hanyalah anak angkat. Orangtua yang selama ini begitu menyayanginya itu hanyalah orangtua angkat. Ga hanya itu, dia juga mendapati bahwa Boni, pacar keenamnya itu hanyalah pacaran dengannya supaya sang mantan cemburu. Nah, kalau elo pikir nasib Sinta apes banget, masih belum apa-apa tuh.
Karena putus dari sang pacar dan masih bingung bagaimana harus bereaksi menghadapi kenyataan kalau dirinya anak angkat, Sinta kan kerjanya jadi ga karuan. Karena itu, dia dipanggil sama bosnya. "Kerja kok ga profesional? Apa kamu pikir ini kantor milik orangtuamu?" ujar si Bos.
'Orangtuaku? Orangtuaku yang mana ya? Aku malah ga tahu yang asli itu ada dimana,' pikir Sinta dalam hatinya. Karena terkesan cuek, soalnya Sinta lagi mikirin masalah pribadinya itu, dia ditambah lagi 'pelajaran' dari si bos selama 2 jam dan ditambahin tugas-tugas kantor yang menumpuk.
"Kamu harus belajar di sini, biar jadi profesional. Nah, ini ada beberapa berkas yang harus kamu bereskan. Kalau ga ngerti, baru tanya saya. Tapi tolong selesaikan hari ini ya..." ujar si bos pada akhirnya.
"Gue kacau banget deh ini...apa gue harus cari orangtua asli gue ya? Hmmm, tapi nanti takut melukai hati orangtua gue sekarang. Gue harus berenti kerja apa ya? Soalnya gue terima gaji juga minim banget, rok gue aja kalau minimnya. Tapi kerjaannya kalau bos lagi baek sih, ya enak juga sih. Tapi gue sebenernya mau apa ya dalam hidup gue? Nah, belum lagi yang namanya X itu (X yang dimaksud Sinta adalah mantan pacarnya, yang males dia sebutin bahkan namanya). Gue harus cari yang lebih ganteng dari dia. Enak aja dia, dia pikir gue ini pesulap kali, sampai-sampai gue dipacarin biar pacarnya bisa balik.
Aaarrrrrrggggghhhhh, sebel sebel sebeeeeeellllllllll
Kacau nih dunia, mau sampai kapan gue kayak begini? Gue harus ngapain? Hidup gue ini buat apa sih? Apa sih yang gue cari?"
ujar Sinta dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya. Maunya dia sih teriak-teriak, cuma takutnya nanti malah dimasukin ke rumah sakit jiwa.
***
Sinta mencoba pergi ke restoran langganannya, yang ga jauh dari tempatnya bekerja.
Kata artikel yang dia baca tadi pagi, kalau lagi galau harus pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan hatinya. Jadi pegilah dia ke sana bermaksud makan mie kangkung kesukaannya.
Sepuluh menit pertama sih berhasil. Dia memusatkan perhatian pada menu, padahal udah pasti milihnya mie kangkung. Abis itu, dia ngobrol-ngobrol sama pemiliknya sekaligus sang koki andalannya. Tapi setelah itu, pikirannya kacau lagi.
"Duh, gue kira-kira gimana ya? Masa mau hidup begini terus? Dulu sih pegi ke sini bareng X. Ih ngapain gue ingat-ingat X mulu. Ingat apa ya? Masa ingat tentang status gue yang ga jelas ini?"
"Mbak...mbak....mbaaaaaaak" ujar si koki.
"Eh iya, sori bu, ini mie kangkung saya ya?" kata Sinta sambil mengambil mangkok di tangan ibu penjual mie. Ibu itu langsung aja menjauhkan mangkuk tersebut sambil berkata,
"Bukan mbak, ini buat mas sono. Tapi saya mau nanyain mbak mau minum apa?"
"Ooooooh, hehehhehehehe....minum teh manis aja bu" ujar Sinta salah tingkah.
Sewaktu mie kangkungnya disodorkan, Sinta harus dipersilahkan dua kali sebelum makan. Abis dia takut salah ambil lagi. Tapi setelah itu, dia makan dengan cepat seolah-olah ada yang memburunya. Dalam waktu 5 menit, mienya langsung abis. Si ibu hanya bisa memelototinya. Sinta tersenyum polos, seolah-olah tak tahu apa yang terjadi.
Sepanjang jalan menuju rumah, karena lewat gang-gang gitu, Sinta kali ini berjalan bagaikan vampir. Kayak loncat-loncat gitu lho, aneh kan yaaa
***
Sinta mencoba pergi ke pantai. Karena katanya pantai juga memberikan ketenangan. Pantai yang terdekat adalah Pantai Ancol, makanya dia menuju ke sana. Tapi kemudian dia menyesal karena sepertinya hanya dia yang pergi sendiri. Yang lain, ada yang pacaran di beberapa tempat, ada yang sekeluarga pergi jalan-jalan dan duduk sambil bersenda gurau. Di sana, Sinta juga melihat satu keluarga yang merayakan ulang tahun sang ayah.
'Dulu aku dan mami papi juga pernah seperti itu. Aku ulang tahun yang ke berapa ya? Kayaknya pas aku lagi remaja, kayaknya bahagia banget. Tiba-tiba aja diajak makan seafood kesukaanku, ditambah lagi dikasih uang saku yang lumayan banyak.' pikir Sinta sambil mengenang.
Dia ingat ketika orangtuanya mencium pipinya. Foto mereka bersama masih tersimpan di kamarnya, di sudut ranjang, di atas meja kecil, tempat yang selalu dia pandangi sambil berkata, "Betapa beruntungnya aku punya keluarga seperti ini"
'Tapi sekarang gimana? Mereka bukan lagi keluarga yang aku kenal dulu....' Sinta pulang dengan keadaan makin galau.
Beberapa hari dia seperti itu, pergi ke perpustakaan yang katanya bisa memberikan ketenangan. Ikut pergi ke gunung, padahal seumur-umur belum pernah pergi. Mencoba hang out dengan teman-teman lama, tapi di antara semua kegiatannya itu, pikiran-pikiran itu selalu terselip.
***
'Hari ini pergi ke mana ya? Bosen juga pegi-pegi, ngabisin duit aja. Juwita juga ga bisa, udah ada kencan sama pacarnya. Mungkin gue di kamar aja deh...' pikir Sinta siang itu di kantor.
Saat itu, pekerjaannya sudah sedikit memberikan kelegaan. Pekerjaannya sebagai konsultan akuntan itu memang menyita waktu. Tapi dia tahu inilah keinginannya sejak dari dulu. Dia suka jika diberi hitung-hitungan, angka-angka yang memusingkan kebanyakan orang, dia juga suka jika disuruh mengatur uang sumbangan saat ikut jadi panitia bantuan dalam keadaan darurat. Semuanya dimulai ketika dia masih kecil.
Sinta jadi ingat masa kecilnya deh, ini nih masa kecilnya.
Waktu itu umur Sinta baru 8 tahun. Karena dia anak tunggal, dia sering bermain sama sepupunya yang tinggal di dekat rumah. Sinta sendiri setiap hari diberi uang jajan. Tapi waktu itu di sekolah ada proyek "Menabung Untuk Memberikan". Tabungan itu rencananya akan digunakan untuk diberikan pada anak-anak yang menderita kanker tapi tak mampu membiayai pengobatannya. Karena ada proyek di sekolah, dia tidak bisa ikut jajan ketika melihat sepupunya beli es krim. Dia hanya bisa mupeng.
Kemudian dia datang kepada ayahnya. "Pi, tambahin uang jajanku dong..."
"Kenapa?"
"Itu si Dwi kok bisa makan es krim sedangkan aku ga bisa?"
"Lho, memangnya uang jajanmu dikemanain?"
"Itu Pi, aku tabungin buat project di sekolah, katanya mau dikasih buat anak-anak yang menderita kanker. Kanker itu apa sih Pi?"
"Kanker itu penyakit yang parah Sin. Kalau kamu mau tahu, sini duduk di sini, papi kasih tahu."
Lalu mulailah sang ayah mengajarkan pada anaknya tentang penyakit tersebut. Setelah penjelasan tersebut, ayahnya kembali bertanya, "Jadi, ada yang mau kamu tanyain?"
"Ada Pi"
"Apa?"
"Jadi, uang jajan Sinta ditambahin kan ya?"
Pertanyaan itu menimbulkan gelak tawa dari ayahnya. Sinta masih ingat bagaimana ayahnya kemudian dengan bijaksana memberikan masukan.
"Sin, uang jajan kamu kan nggak semuanya buat disumbangkan. Guru bilang hanya Rp 1000 kan? Nah, sisanya biasanya kamu apain?"
"Ya itu Pi, aku kadang beliin karet gelang, kadang buat jajan es keliling, kadang sih buat beli jajanan laen Pi. Kan di sekolah tuh banyak Pi jajanannya."
"Nah, kenapa ga coba kamu tabung aja lagi Sinta. Kan Papi kasih kamu Rp 2500 tiap hari. Rp 1000 buat kamu sumbangin, sisanya Rp 1500? Papi kasih usulan mau? Usulan Papi ini bisa bikin kamu kaya, bahkan kamu bisa jajan sepuasnya." Sinta pun mengangguk bersemangat.
"Cobalah untuk menyisihkan uang jajan kamu. Misalnya aja nih ya. Rp 1000 kan sudah buat proyek. Nah, misalnya Rp 1000 buat ditabungin, sisanya baru buat jajan. Kalau misalnya Rp 1000 ini tiap hari dikumpulin, selama sebulan kamu dapat Rp 30 ribu lho. Coba berapa banyak jajanan yang bisa kamu makan dengan Rp 30 ribu itu?"
"Wah, aku bisa makan es krim ribuan kali, kali ya Pi"
"Wkwkwkkwk, ga sampai ribuan sih, tepatnya bisa 60 kali dalam sebulan. Nah, banyak kan? Apalagi kalau kamu tabungin terus, kamu itung-itung nanti, kamu bisa beli sepeda lho"
Sinta yang waktu kecil memang doyan bersepeda, langsung mengangguk bersemangat. "Oke deh Pi, aku dibeliin celengan ya?"
Sinta mengenang kejadian itu dengan masih sangat jelas. Dia jadi kangen sama ayahnya, tapi dia kemudian menyadari bahwa ayahnya bukanlah ayah kandungnya. Namun, ayahnya inilah yang mengajarkan dia arti tentang uang.
Sorenya Sinta pulang ke rumah dengan lunglai. Selain pekerjaannya menguras tenaga, pikirannya pun ikut menguras tenaganya. Dia bermaksud ingin tidur cepat, tanpa makan malam.
"Nak, bolehkah Papi dan Mami ngomong sebentar?"
Sinta melihat ayah ibunya dengan perasaan kangen. Biasanya mereka bagaikan sahabat, curhat dan cerita serta saling mengejek dengan perasaan sayang. Sinta melihat keduanya yang seolah-olah takut ditolak. Sinta melihat kekuatiran dan juga permohonan yang tulus.
Sinta pun mengangguk
Mereka menuju ke ruang keluarga
Setelah duduk beberapa lama, ibunya mulai berkata.
"Nak, maafkan kami karena selama ini merahasiakannya darimu. Kami pikir itu yang terbaik, Nak tapi sesungguhnya tidak. Meskipun berat, harusnya kami katakan padamu.
Waktu itu, Mami sedih karena anak yang Mami kandung meninggal dunia. Nah, waktu itu kamu pun baru dilahirkan ke dunia. Mamamu yang sesungguhnya meninggal dunia karena melahirkan kamu. Papamu ingin bunuh diri, tapi keburu dicegah Papi. Saat itu, untung Papi ada di atas sana sambil merenung kenapa anak kami harus pergi dengan cepat."
Si ibu mencoba tabah, tapi tanpa sadar air matanyapun jatuh. Ayahnya terlihat memberikan tepukan di bahu sang istri. "Ayahmu kemudian pergi mengembara di lautan. Jangan salahkan dia Nak. Bukannya dia tidak sayang padamu, namun hatinya sedang sangat sedih waktu itu. Maklum, dia dan istrinya menikah tua, setelah bertemu lagi.
Mereka adalah teman SMP yang waktu itu saling jatuh cinta. Mereka pernah memperjuangkan cinta mereka namun ditentang. Nah, setelah usia 40an, mereka bertemu dan ternyata sama-sama sendiri. Ibumu ditinggal mati suami sebelumnya tanpa anak dan ayahmu status tak jelas karena ada di lautan. Itulah sebabnya mereka begitu senang ketika kamu ada di kandungan."
"Beberapa kali kami hendak cerai, tapi terus terang Nak hanya kamu yang bikin kami bertahan. Kalau ingat bagaimana kami berjuang dulu, bagaimana kami kehilangan harapan karena setelah itu kandungan ibu harus dikuret, tapi bagaimana Tuhan kasih kamu di dalam hidup kami, itu semua membuat kami bisa baikan lagi Nak."
Sinta pun mengalirkan air mata.
Ayahnya yang jarang menangis itu pun terlihat berkaca-kaca.
"Maafkan kami kalau kamu harus tahu dari ayah kandungmu yang tiba-tiba datang. Bagaimanapun juga dia ayah kandungmu. Dia ingin melihatmu, setelah bepergian mengarungi lautan selama ini. Ucapannya tentu bagai geledek ya nak bagimu, tapi kami pun waktu itu juga kaget. Kami memberikanmu waktu untuk berpikir, kami juga sangsi apakah kami tetap berharga di matamu meski kami tahu kamu sangat berharga bagi kami Nak."
"Aku juga berpikir tentang Mami dan Papi. Gimanapun juga aku sayang sama kalian berdua. Selama ini, kalian yang ngasih aku tahu harus bagaimana, apa yang terbaik buat aku. Katakan Mami, Papi apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku juga ingin bertemu dengan papa kandungku tapi bolehkah aku tetap jadi anak kalian?"
"Tentu Nak, tentu..." hanya itu yang mampu diucapkan....
***
Waktu yang menjawab semua. Waktu juga yang memberikan pemulihan di hati Sinta. Dia tidak hanya punya sepasang orangtua sekarang, tapi ditambah lagi satu ayah. Pekerjaannya pun berjalan dengan lancar, karena memang dia menyukai pekerjaan itu. Bagaimana dengan si X?
Kabarnya si X sudah punya pacar lagi. Sinta tidak peduli apakah karena benar-benar cinta atau sebagai pelampiasan semata. 'Yang penting gue kan sudah memaafkan dia. Lagian, kalau memang ga sreg buat apa dipaksain?' Tapi satu hal yang Sinta tahu. Seringkali kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan itu seolah-olah membuatnya merasa bahwa Tuhan itu tidak adil, jahat. Tapi sebenarnya, ada hikmah di balik semua itu.
Wednesday, September 10, 2014
Film Review : Hercules
Judul : Hercules
Karya :Metro Goldwyn Mayer (MGM)
Produksi : Paramount Picture
Tayang : September 2014
Sutradara : Brett Radner
Durasi : 98 menit
Jenis : Adventure Action
Karya :Metro Goldwyn Mayer (MGM)
Produksi : Paramount Picture
Tayang : September 2014
Sutradara : Brett Radner
Durasi : 98 menit
Jenis : Adventure Action
(copyright : imdb.com)
Di dalam masa kecil saya, Hercules adalah pahlawan yang tak terjangkau. Dia adalah seorang kelahiran setengah dewa, setengah manusia namun sangat perkasa. Tidak ada kelemahan dalam dirinya, dia sempurna, sama seperti dewa-dewa lainnya. Itulah cerita Hercules yang sering saya saksikan.
Berbeda dengan film yang satu ini dimana dia harus berjuang untuk melupakan masa lalunya yang pahit, dimana istrinya dan ketiga anaknya dibunuh secara brutal dan dia dituduh sebagai pelakunya. Dia pun merantau dan bertemu teman-teman yang kemudian menjadi seperti keluarganya sendiri. Untuk hidup, Hercules mencari nafkah sebagai tentara bayaran.
Sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Ergenia (Rebecca Ferguson) yang meminta bantuannya untuk melawan Rhesus (Tobias Santelmann) atas suruhan kerajaan Thrace yang bernama Raja Cotys (John Hurt). Tapi apa yang terjadi kemudian? Sesuatu yang tidak disangka-sangka membuat Hercules harus berperang kembali, meskipun dia sudah mengalahkan Rhesus.
Belum lagi, dia juga harus berperang melawan dirinya untuk mengatasi rasa kehilangan yang begitu nyata sampai dia sering bermimpi buruk. Sisi kemanusiaannya di film ini begitu jelas terlihat. Ternyata, Hercules bukanlah sosok yang terlalu diawang-awang. Dia juga punya perasaan, tapi juga kekuatan yang begitu besar di dalam dirinya.
Friday, September 5, 2014
5 Nasihat Tentang Perselingkuhan dari Amsal 5
(sumber gambar : google.com)
Amsal 5 merupakan kata-kata hikmat yang dituliskan untuk memberikan nasihat yang masih berlaku sampai sekarang. Di dalamnya, ada banyak nasihat yang bisa kita petik. Di ayat 17-23, ada satu pengajaran yang luar biasa tentang menghabiskan waktu bersama pasangan dan bagaimana akhir dari perselingkuhan. Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa diambil dari Amsal 5 : 17-23 versi MSG :
Musim Semi Dipupuk
Musim semi di dalam kehidupan rumah tangga adalah kehidupan yang bahagia, biasanya yang paling berkesan adalah awal-awal tahun pernikahan. Amsal menyatakan bahwa "Your spring water is for you and you only, not to be passed around among strangers. Bless your fresh-flowing fountain!"
Musim semi dengan air melimpah adalah seperti keluarga yang hidup dalam keharmonisan dan penuh cinta. Satu hal yang patut diperhatikan adalah jangan pernah membagikan keharmonisan itu kepada orang lain, dalam artian pihak ketiga yang dianggap sebagai orang asing. Jangan memberi celah pada orang lain untuk merusaknya
Menikmati Hidup Bersama Pasangan
"Enjoy the wife you married as a young man! Lovely as an angel, beautiful as a rose - don't ever quit taking delight in her body."
Tidak bisa dipungkiri bahwa hubungan intim merupakan salah satu cara untuk mengikat sebuah pernikahan. Amsal mengatakan bahwa kenikmatan di dalam hidup itu bisa didapatkan saat kita memang bersama suami / istri (dalam Amsal dituliskan bersama istri, karena memang laki-laki yang otaknya sebagian besar berisi tentang seksual, sehingga mereka lebih ditekankan. Yang laki-laki, no offense yaa). Lihatlah pasangan kita, pujilah dia, dan jangan pernah berhenti berbagi keintiman bersamanya. Karena itulah sebabnya mengapa keluarga diciptakan, untuk menunjukkan kasih satu sama lain."
Tulus Hati
Punyai sikap hati yang tulus dan ikhlas, serta rela berkorban. Jangan mengambil cinta seseorang hanya untuk suatu tujuan yang palsu, seperti yang Amsal katakan "Never take her love for granted". Punyai kasih yang tulus, setulus-tulusnya.
Jangan Tukar Dengan Sesuatu yang 'Murah'
"Why would you trade enduring intimacies for cheap thrills with a whore? for dalliance with a promiscuous stranger?"
Keintiman dengan pasangan merupakan sesuatu yang abadi, yang memang ditujukan untuk suatu hal yang mulia, namun banyak orang yang menukarnya untuk mendapatkan kesenangan yang bersifat murah. Pada akhirnya hal tersebut akan mengacaukan seluruh kehidupan Anda? Buat apa melakukan hal yang sia-sia dan membuang waktu seperti itu?
Tuhan Melihat dan Mengganjar Sesuai Perbuatan Kita
Ingatlah di dalam hati dan pikiran bahwa Tuhan melihat setiap perbuatan kita, tanpa satupun yang terlewatkan. "Mark well that God doesn't miss a move you make; he's aware of every step you take. The shadow of your sin will overtake you; you'll find yourself stumbling all over yourself in the dark. Death is the reward of undisciplined life; your foolish decisions trap you in a dead end."
Tidak hanya bersalah pada pasangan dan anak-anak, berselingkuh juga menyebabkan kita bersalah pada Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan mengganjar dengan sepantasnya sesuai dengan perbuatan kita. Perbuatan bodoh dengan berselingkuh itu pada akhirnya menjebak diri sendiri sampai kepada kesudahannya.
Jadi, jika sudah diberikan Tuhan anugerah untuk berkeluarga, ingatlah untuk mengutamakan Dia di dalam keluarga Anda. Yang kedua, utamakan pasangan dan anak-anak yang Anda punyai. Hiduplah sesuai dengan apa yang Dia katakan dan percayalah hidup keluarga Anda akan penuh berkat bahkan bisa menjadi contoh bagi orang lain.
Wednesday, August 27, 2014
Film Review : Guardians of the Galaxy
Judul : Guardians of the Galaxy
Karya : Marvel
Produksi : Walt Disney
Tayang : Agustus 2014
Sutradara : James Gunn
Durasi : 122 menit
Jenis : Adventure Sci fi
Peter Quill (Chris Pratt) hanyalah seorang manusia biasa yang berada di lingkungan yang salah, ditambah lagi pengalaman masa lalunya yang buruk karena melihat kematian ibunya sendiri, tanpa dia tahu harus bagaimana. Karena itulah, dia menjadi seorang penjahat. Setelah kematian sang ibu, Peter kemudian diangkat oleh pesawat luar angkasa ke planet lain oleh Yondu Udonta (Michael Rocker) dan dibesarkan sebagai penjahat.
Maka ketika disuruh mencari Orb, sebuah bola ajaib dengan imbalan besar, maka Peter pun melakukannya. Dia tidak tahu bahwa Orb juga diincar oleh Ronan (Lee Pace) yang ternyata ingin menguasai semua planet dan menghancurkan Xander, planet yang penuh damai.
Peter kemudian bertemu dengan Gamora (Zoe Saldana) anak buah Ronan sekaligus sakit hati kepada Ronan dan ayah angkatnya Thoran, penguasa yang paling ditakuti, karena merekalah pembunuh orangtua kandungnya. Gamora pun bertekad untuk melindungi Orb.
Di sisi lain, ada pula rakun yang bernama Rocket (yang disuarakan oleh Bradley Cooper) dan Manusia Pohon bernama Groot (yang disuarakan Vin Diesel) mengincar Peter karena bagi yang berhasil mendapatkannya, akan diberi hadiah yang luar biasa. Maka, mereka pun berkelahi satu sama lain sampai akhirnya ditangkap. Di dalam penjara, mereka pun bertemu dengan Drax the Destroyer (Dave Bautista) yang ternyata sakit hati pada Ronan.
Kita akan diajak bertualang bagaimana keluar dari penjara yang begitu ketat dijaga, penjara para penjahat yang paling jahat. Selain itu, akan ada petualangan melawan anak buah Ronan yang tahu keberadaan mereka karena tantangan Drax, sampai pada akhirnya pertempuran hidup mati antar dua kubu yang ingin menyelamatkan planet-planet dan yang ingin menghancurkannya.
Tapi ada pula kisah tentang kesetiakawanan, bagaimana pengorbanan seorang Groot yang begitu luar biasa, bagaimana hidup seseorang yang diubahkan karena ada orang lain yang peduli, semuanya itu akan bisa disaksikan dalam film ini.
Karya : Marvel
Produksi : Walt Disney
Tayang : Agustus 2014
Sutradara : James Gunn
Durasi : 122 menit
Jenis : Adventure Sci fi
Peter Quill (Chris Pratt) hanyalah seorang manusia biasa yang berada di lingkungan yang salah, ditambah lagi pengalaman masa lalunya yang buruk karena melihat kematian ibunya sendiri, tanpa dia tahu harus bagaimana. Karena itulah, dia menjadi seorang penjahat. Setelah kematian sang ibu, Peter kemudian diangkat oleh pesawat luar angkasa ke planet lain oleh Yondu Udonta (Michael Rocker) dan dibesarkan sebagai penjahat.
Maka ketika disuruh mencari Orb, sebuah bola ajaib dengan imbalan besar, maka Peter pun melakukannya. Dia tidak tahu bahwa Orb juga diincar oleh Ronan (Lee Pace) yang ternyata ingin menguasai semua planet dan menghancurkan Xander, planet yang penuh damai.
Peter kemudian bertemu dengan Gamora (Zoe Saldana) anak buah Ronan sekaligus sakit hati kepada Ronan dan ayah angkatnya Thoran, penguasa yang paling ditakuti, karena merekalah pembunuh orangtua kandungnya. Gamora pun bertekad untuk melindungi Orb.
Di sisi lain, ada pula rakun yang bernama Rocket (yang disuarakan oleh Bradley Cooper) dan Manusia Pohon bernama Groot (yang disuarakan Vin Diesel) mengincar Peter karena bagi yang berhasil mendapatkannya, akan diberi hadiah yang luar biasa. Maka, mereka pun berkelahi satu sama lain sampai akhirnya ditangkap. Di dalam penjara, mereka pun bertemu dengan Drax the Destroyer (Dave Bautista) yang ternyata sakit hati pada Ronan.
Kita akan diajak bertualang bagaimana keluar dari penjara yang begitu ketat dijaga, penjara para penjahat yang paling jahat. Selain itu, akan ada petualangan melawan anak buah Ronan yang tahu keberadaan mereka karena tantangan Drax, sampai pada akhirnya pertempuran hidup mati antar dua kubu yang ingin menyelamatkan planet-planet dan yang ingin menghancurkannya.
Tapi ada pula kisah tentang kesetiakawanan, bagaimana pengorbanan seorang Groot yang begitu luar biasa, bagaimana hidup seseorang yang diubahkan karena ada orang lain yang peduli, semuanya itu akan bisa disaksikan dalam film ini.
Tuesday, August 26, 2014
Lucunyaaa : Sunny Sandler
Hak cipta foto ini, bukan ada pada saya karena saya ambil di google...
Tapi melihat Sunny yang lucu, saya jadi ingin mengabadikannya dalam blog saya
Ini foto-fotonya yang menggemaskan
tampangnya so originallll
bapaknya si adam sandler pasti bangga banget ^^
Tapi melihat Sunny yang lucu, saya jadi ingin mengabadikannya dalam blog saya
Ini foto-fotonya yang menggemaskan
tampangnya so originallll
bapaknya si adam sandler pasti bangga banget ^^
Wednesday, August 13, 2014
Film Review : Teenage Mutant Ninja Turtle
Para ninja ini sebenarnya sungguh kasihan. Mereka adalah pahlawan yang tak dikenal di Kota New York. Mereka hidup di gorong-gorong / terowongan bawah tanah. Sekalipun mereka punya keahlian khususnya karate, namun mereka seperti harus bersembunyi jika tidak ingin mendapatkan masalah. Karena mereka memang beda.
Itulah sebabnya, ketika seorang reporter April O Neil berhasil menangkap gambar keempat kura-kura yang bisa bicara seperti manusia tersebut, dia mendapatkan ancaman. Sesungguhnya, O'Neil lah yang pada akhirnya menjadi penghubung dari semua cerita di film ini.
O'Neil lah yang mencari tahu siapakah pahlawan yang sesungguhnya yang berperang melawan Foot Clan, klan kejahatan terbesar di New York. O'Neil juga yang ternyata menjadi penyelamat bagi para kura-kura tersebut semasa kecilnya. Bahkan ironisnya, O'Neil juga yang pada akhirnya membuat kediaman mereka diketahui musuh secara tidak sengaja.
Perjuangan kura-kura yang sebenarnya masih berusia remaja tapi sudah setinggi hampir dua meter ini sungguh sangat berat. Mereka mengalami penyiksaan baik batin ataupun fisik. Saat guru sekaligus ayah mereka dipukuli oleh musuh, saat darah mereka harus dikuras sampai habis, saat melawan musuh yang begitu kuat.
Tapi kehidupan yang mereka lalui mengajarkan banyak hal. Mereka mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, yang secara fisik tentu sangat berbeda dengan mereka (4 kura-kura diasuh oleh seekor tikus). Mereka belajar mengenal alam sekitar, sekalipun terbatas (karena hidup di gorong-gorong), mereka juga mempunyai kesukaannya masing-masing, dan kasih sayang antar saudara yang begitu nyata.
Itulah sebabnya, ketika seorang reporter April O Neil berhasil menangkap gambar keempat kura-kura yang bisa bicara seperti manusia tersebut, dia mendapatkan ancaman. Sesungguhnya, O'Neil lah yang pada akhirnya menjadi penghubung dari semua cerita di film ini.
O'Neil lah yang mencari tahu siapakah pahlawan yang sesungguhnya yang berperang melawan Foot Clan, klan kejahatan terbesar di New York. O'Neil juga yang ternyata menjadi penyelamat bagi para kura-kura tersebut semasa kecilnya. Bahkan ironisnya, O'Neil juga yang pada akhirnya membuat kediaman mereka diketahui musuh secara tidak sengaja.
Perjuangan kura-kura yang sebenarnya masih berusia remaja tapi sudah setinggi hampir dua meter ini sungguh sangat berat. Mereka mengalami penyiksaan baik batin ataupun fisik. Saat guru sekaligus ayah mereka dipukuli oleh musuh, saat darah mereka harus dikuras sampai habis, saat melawan musuh yang begitu kuat.
Tapi kehidupan yang mereka lalui mengajarkan banyak hal. Mereka mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, yang secara fisik tentu sangat berbeda dengan mereka (4 kura-kura diasuh oleh seekor tikus). Mereka belajar mengenal alam sekitar, sekalipun terbatas (karena hidup di gorong-gorong), mereka juga mempunyai kesukaannya masing-masing, dan kasih sayang antar saudara yang begitu nyata.
Friday, August 1, 2014
Book Review : I've Got Your Number by Sophie Kinselle
Just reading this book :
Secara umum, aku bilang buku ini menarik banget, terutama jokesnya. Wuih, kriuk banget deh, bikin ketawa ngakak. wkwkwkwkkwkwkkwkwkw
Tapi dari sisi masuk akal tidaknya, well i don't think so.
Why?
Karena alasan utama terbentuknya cerita di buku ini ga masuk akal.
Kan si cewek nemu hp di tempat sampah, hp yang dibuang oleh Personal Assisten (PA) si cowok. Sampai di situ masih masuk akal, bahkan aku berharap dapat ketemuin hp di tempat sampah juga. Bisa dijual deh, wkwkwk
Lalu, yang ga masuk akal adalah ini : si cowok yang merupakan seorang pengusaha dengan 200 karyawan, mau meminjamkan hp milik perusahaan yang notabene di dalamnya ada file2 perusahaan dan juga file pribadinya. Apa dia gila kali ya minjemin tuh hp? Aku aja yang bukan siapa2, mana mau ngasih pinjem hapeku pada orang ga dikenal, meski emang ga ada rahasianya juga.
Ditambah lagi, si cowok bilang mau minta bagian IT-nya utk alihkan email2 di hp ke komputer. Tapi bagian IT-nya ga bisa?!?!?!? Hellooooow, mending nyewa gue aja kalau gitu (mayan buat nambah2in pendapatan gue selama ini). It's so easy. You just have to sign out in that handphone and sign in. All data will comes through where you were sign that email in to...
Ketiga, well it's less but aku agak sedikit 'terganggu' juga. Bekas PA si cowok yang buang tuh hp ke sampah, bisa2nya peduli pada apa yang terjadi dengan mantan bosnya, padahal dia sedang buru2 menuju ke New York utk modelingnya. Apalagi si cowoknya juga bisa2nya narok voicemail di komputer kantor sang PA ini.Utk orang yang pacaran, apalagi gaya Amrik, mereka kok bisa2nya peduli dengan voicemail, yang diakui PA sebagai voicemail yang ga ngerti apa maksudnya, sampe2 mau repot2 masukin ke komputer. Ok, tapi ini masih bisa diterima sih dikit.
Itu aja sih bagian yang ga gue setuju ada di buku ini, karena menurut aku itu ga masuk akal. Kalau gitu, harusnya si penulis bisa mencari alasan lain.
Tapi gaya bahasanya, cara dia ngungkapin kebenaran, cara dia bercerita, dan bagaimana realitas kehidupan yang harus dihadapi, semuanya sangat menarik untuk dibaca.
So, i recommend this book to you. Just ignore what's the imposible things happens in this book. Just read it. It's have a lot of fun. Yet can educate you about world. Ciaooooo
(sumber : www.iwannabeadomesticgoddess.com)
Secara umum, aku bilang buku ini menarik banget, terutama jokesnya. Wuih, kriuk banget deh, bikin ketawa ngakak. wkwkwkwkkwkwkkwkwkw
Tapi dari sisi masuk akal tidaknya, well i don't think so.
Why?
Karena alasan utama terbentuknya cerita di buku ini ga masuk akal.
Kan si cewek nemu hp di tempat sampah, hp yang dibuang oleh Personal Assisten (PA) si cowok. Sampai di situ masih masuk akal, bahkan aku berharap dapat ketemuin hp di tempat sampah juga. Bisa dijual deh, wkwkwk
Lalu, yang ga masuk akal adalah ini : si cowok yang merupakan seorang pengusaha dengan 200 karyawan, mau meminjamkan hp milik perusahaan yang notabene di dalamnya ada file2 perusahaan dan juga file pribadinya. Apa dia gila kali ya minjemin tuh hp? Aku aja yang bukan siapa2, mana mau ngasih pinjem hapeku pada orang ga dikenal, meski emang ga ada rahasianya juga.
Ditambah lagi, si cowok bilang mau minta bagian IT-nya utk alihkan email2 di hp ke komputer. Tapi bagian IT-nya ga bisa?!?!?!? Hellooooow, mending nyewa gue aja kalau gitu (mayan buat nambah2in pendapatan gue selama ini). It's so easy. You just have to sign out in that handphone and sign in. All data will comes through where you were sign that email in to...
Ketiga, well it's less but aku agak sedikit 'terganggu' juga. Bekas PA si cowok yang buang tuh hp ke sampah, bisa2nya peduli pada apa yang terjadi dengan mantan bosnya, padahal dia sedang buru2 menuju ke New York utk modelingnya. Apalagi si cowoknya juga bisa2nya narok voicemail di komputer kantor sang PA ini.Utk orang yang pacaran, apalagi gaya Amrik, mereka kok bisa2nya peduli dengan voicemail, yang diakui PA sebagai voicemail yang ga ngerti apa maksudnya, sampe2 mau repot2 masukin ke komputer. Ok, tapi ini masih bisa diterima sih dikit.
Itu aja sih bagian yang ga gue setuju ada di buku ini, karena menurut aku itu ga masuk akal. Kalau gitu, harusnya si penulis bisa mencari alasan lain.
Tapi gaya bahasanya, cara dia ngungkapin kebenaran, cara dia bercerita, dan bagaimana realitas kehidupan yang harus dihadapi, semuanya sangat menarik untuk dibaca.
So, i recommend this book to you. Just ignore what's the imposible things happens in this book. Just read it. It's have a lot of fun. Yet can educate you about world. Ciaooooo
Friday, July 25, 2014
Impianku Dalam Berumah Tangga
Setiap orang punya impian masing-masing dalam berumah tangga, masing-masing punya imajinasi yang berbeda. Tapi selalu ada satu hal yang sama yaitu MENGINGINKAN KEBAHAGIAAN.
Jika aku berumah tangga nanti, aku ingin yang seperti ini dalam imajinasiku :
Bangun pagi, saat pasangan belum bangun, aku akan menatapnya
Melihat bagaimana wajahnya menjadi anak-anak saat tertidur dengan lelap
Aku ingin kami berdua bersaat teduh bersama. Jika sudah ada anak, aku ingin anak-anakpun mengikuti saat teduh keluarga.
Aku ingin rumah tangga yang demokratis. Setiap anggota keluarga berhak mengemukakan pendapatnya dan akan dihargai, termasuk anak berumur 2 tahun sekalipun.
Aku ingin ada ayunan kayu dimana anak-anak biasa bermain
Aku dan pasangan duduk di taman sambil menikmati udara sore
Kami suka bercanda, kami juga suka berdebat
Tapi kami saling mengisi
Kami saling memberi
Kami saling menerima pribadi satu sama lain
Aku tahu kadang bisa saja aku berbuat salah, tapi dia pun tahu dan memaafkanku
Begitu juga sebaliknya
Aku ingin keluarga yang harmonis. Pertengkaran boleh saja ada, tapi hal itu malah membuat kami lebih lagi mengerti satu sama lain
Tapi aku tidak ingin ada perselingkuhan
Aku tidak ingin ada kekuatiran. "Dimana dia berada, kapan akan pulang, pergi sama siapa?"
Aku dan dia saling terbuka satu sama lain seperti layaknya satu jiwa dalam dua tubuh
Aku ingin hanya dengan tatapan, dia mengerti aku, aku mengerti dia
Kami melihat dunia sebagai suatu hal yang dapat kami lalui berdua
Tidak saling melawan satu sama lain tapi mendukung satu sama lain
Aku ingin, di saat tubuh tak kuat lagi, kami saling menopang, menjaga
Sampai maut memisahkan.
Tuhan menyatakan bahwa bahkan apa yang tak pernah aku pikirkan, aku duga, itulah yang Dia berikan kepadaku. Di saat ini, aku bertanya-tanya, bagaimanakah hasilnya hidupku ke depan nanti? Apakah lebih dari apa yang aku inginkan di atas? Yang seperti apa? Aku tak sabar menunggu, tapi aku akan menunggu waktunya Tuhan.
Jika aku berumah tangga nanti, aku ingin yang seperti ini dalam imajinasiku :
Bangun pagi, saat pasangan belum bangun, aku akan menatapnya
Melihat bagaimana wajahnya menjadi anak-anak saat tertidur dengan lelap
Aku ingin kami berdua bersaat teduh bersama. Jika sudah ada anak, aku ingin anak-anakpun mengikuti saat teduh keluarga.
Aku ingin rumah tangga yang demokratis. Setiap anggota keluarga berhak mengemukakan pendapatnya dan akan dihargai, termasuk anak berumur 2 tahun sekalipun.
Aku ingin ada ayunan kayu dimana anak-anak biasa bermain
Aku dan pasangan duduk di taman sambil menikmati udara sore
Kami suka bercanda, kami juga suka berdebat
Tapi kami saling mengisi
Kami saling memberi
Kami saling menerima pribadi satu sama lain
Aku tahu kadang bisa saja aku berbuat salah, tapi dia pun tahu dan memaafkanku
Begitu juga sebaliknya
Aku ingin keluarga yang harmonis. Pertengkaran boleh saja ada, tapi hal itu malah membuat kami lebih lagi mengerti satu sama lain
Tapi aku tidak ingin ada perselingkuhan
Aku tidak ingin ada kekuatiran. "Dimana dia berada, kapan akan pulang, pergi sama siapa?"
Aku dan dia saling terbuka satu sama lain seperti layaknya satu jiwa dalam dua tubuh
Aku ingin hanya dengan tatapan, dia mengerti aku, aku mengerti dia
Kami melihat dunia sebagai suatu hal yang dapat kami lalui berdua
Tidak saling melawan satu sama lain tapi mendukung satu sama lain
Aku ingin, di saat tubuh tak kuat lagi, kami saling menopang, menjaga
Sampai maut memisahkan.
Tuhan menyatakan bahwa bahkan apa yang tak pernah aku pikirkan, aku duga, itulah yang Dia berikan kepadaku. Di saat ini, aku bertanya-tanya, bagaimanakah hasilnya hidupku ke depan nanti? Apakah lebih dari apa yang aku inginkan di atas? Yang seperti apa? Aku tak sabar menunggu, tapi aku akan menunggu waktunya Tuhan.
Monday, May 26, 2014
Saya Seorang Minoritas di Bangsa Ini
Saya memang seorang minoritas di bangsa ini, persis seperti Ahok namun saya wanita. Seorang wanita keturunan Tionghoa (sesuai dengan Kepres jaman SBY, kita mulai pake Tionghoa ya) dan juga seorang Kristen.
Sewaktu saya kecil (kayaknya sih waktu saya mau masuk SD), mama papa memutuskan untuk pindah rumah. Dulu saya dikelilingi oleh orang-orang Tionghoa. Namun sejak pindah, kami hanya satu-satunya keluarga keturunan Tionghoa. Di situlah saya tumbuh besar dengan pemahaman bahwa kami berbeda. Sampai sekarang saya bingung, napa saya dianggap beda.
Awal pindah, sungguh sangat susah. Saya yang masih kecil waktu itu masih ingat ketika rumah kami sering dilempari batu. Saat itu anak-anak kecil yang melakukannya akan berteriak, "Dasar China, China..." Tusukan tajam yang membuat saya bingung, kenapa saya bisa dianggap berbeda.
Kami juga sering kemalingan. Papa yang memelihara ikan, seringkali dicuri karena kolam ikannya berada tepat di sisi tembok. Seringkali orang-orang datang dan saya melihat papa memberi mereka uang. Tidak hanya ikan, seringkali orang datang dan mencuri apa saja yang kelihatan berharga untuk dijual.
Berteman pun tak mudah bagi saya. Sebenarnya, sewaktu kecil, perbedaan etnis itu tak terlalu mencolok. Saya berteman dengan baik sekali kepada beberapa orang. Ada beberapa orang lagi yang punya kelompok geng lain. Hal yang lumrah menurut saya. Namun semakin dewasa, teman-teman mulai menjauhi saya. Saya seringkali mengkhayalkan teman bermain dan bermain sendirian atau hanya bermain dengan adik laki-laki saya, yang puji Tuhan selalu mau menemani saya sekalipun yang dimainkan hanyalah permainan 'anak cewek'. Saya total tidak punya teman di rumah sejak saya kelas 6 SD.
Dari situ, saya mulai anti sosial. Pernah sekali karena tak ingin merepotkan papa yang sibuk, saya pergi ke sekolah sendirian. Untuk menghemat ongkos, saya pikir jalan kaki lebih baik daripada naik becak. Dari gang rumah ke depan hanya makan waktu 15 menit jalan kaki. Tapi di situ, kembali tusukan tajam melukai hati saya. "Eh Cino, ado wong Cino, ado wong Cino.(Eh China, ada orang China, ada orang China)" Hal itu membuat saya lebih jarang keluar rumah.
Saya juga jadi benci pada orang-orang yang datang ke rumah. Mereka kalau nggak ngajakin papa berjudi, maka mereka minta 'jatah'. Thx God-nya, saya tidak melihat ada perlakuan kasar.
Saya tumbuh dengan pemahaman bahwa saya berbeda, bahwa saya tidak bisa diterima orang lain di luar lingkungan saya. Hal itu membentuk saya hanya bergaul dengan orang-orang sesama saya. Jika tidak, akan terasa aneh. Di sekolah, saya punya banyak teman. Tapi di rumah, saya tiap hari hanya bermain sendiri.
****
Bertumbuh dewasa, di kota kelahiran saya, saya melihat bahwa memang perbedaan itu nyata. Apalagi ketika peristiwa Mei 1998 itu terjadi. Saat itu, umur saya baru saja mencapai 16 tahun, saya duduk di bangku 1 SMA. Soeharto dilengserkan. Awalnya, saya melihat kengerian saat Semanggi berubah menjadi medan perang di televisi.
Entah kenapa, pada akhirnya 'perang' itu merembet orang Tionghoa. Awalnya, toko-toko dirusak dan dijarah. Kemudian lama-kelamaan saya banyak mendengar berita tentang para wanita Tionghoa yang mengalami kasus pemerkosaan. Ada yang digilir oleh belasan orang, ada yang kemaluannya dimasukkan benda keras sampai rusak, ada yang disiksa dan diikat tanpa belas kasihan. Kalau Anda bertanya mengapa saya terang-terangan menceritakan hal itu, Anda bisa lihat bahwa saya ingin Anda turut merasakan apa yang saya rasakan. Ketakutan yang luar biasa, ngeri melihat manusia sudah berubah menjadi monster.
Di Palembang saya melihat semua toko Tionghoa dirusak dan tutup, toko yang masih utuh hanyalah toko yang bertuliskan nama "Pribumi". Setelah saya cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia, pribumi berarti pribumi /pri·bu·mi/ n penghuni asli; yg berasal dr tempat yg bersangkutan.
Helo, meskipun saya China, saya penghuni asli Palembang. Saya lahir di Palembang. Nenek moyang saya kebanyakan lahir dan besar di Indonesia ini. Kami memang berasal dari tempat ini. Kalau kami bukan pribumi, lantas siapakah kami?
Saya dan mama melarikan diri ke Bangka, tempat kakek dan nenek saya berada. Di Bangka, keadaannya tidak parah. Masyarakat di sana berbaur satu sama lain, tapi mulai tercium gelagat perpecahan. Saya dan mama sempat bingung, akan kemanakah kami jika nanti timbul perpecahan di Bangka? Kami tak punya uang banyak, tidak punya passport, tidak punya tempat persembunyian. Kami dalam keadaan bahaya di tanah kelahiran kami sendiri.
***
Mama juga pernah bercerita, pada tahun 1966 pun pernah terjadi kerusuhan yang serupa. Saya hitung-hitung, umur mama waktu itu baru 11 tahun. Mama bercerita bahwa banyak dari mereka juga tidak selamat. Yang beruntung, adalah mereka yang berhasil dibawa kabur Pemerintah China. Salah satunya adik kakek yang berhasil menyelamatkan diri ke sana. Saat itu, kuota orang yang dapat dibawa ke sana sangat terbatas.
Sebelum kakek nenek dan keluarga mereka bisa ke sana, pemerintah China menghentikan membawa orang Tionghoa keluar Indonesia setelah Indonesia berjanji untuk tidak pecah perang lagi. Cerita ini membuat saya berpikir, bahwa pada akhirnya mungkin mama saya akan menikah dengan orang lain dan bukan papa dan saya tidak akan lahir dan mengalami kejadian menakutkan itu.
Namun, saya salut pada mama. Beliau sudah dua kali mengalami penderitaan yang sedashyat ini, bagaimana Beliau dengan tabahnya mengajak saya untuk melarikan diri ke Bangka. Kejadian yang bahkan kalau sekarang saya ingat, saya suka menangis. Saya menangisi mereka yang tak berdosa tapi ternoda. Saya menangisi bangsa saya yang dari dulu mengajarkan Bhineka Tunggal Ika tapi justru menghancurkan kebhinekaan itu.
***
Setelah kejadian Mei 1998 itu, saya berpikir untuk meninggalkan bangsa ini. Saya harus sekolah, bekerja, dan kemudian pindah ke luar negeri. Seiring pengalaman saya yang mengiringi perjalanan hidup saya, saya menemukan bahwa saya mencintai bangsa ini. Saya mungkin ingin pergi melihat negeri orang, tapi saya ingin mati di tanah kelahiran saya.
Saya ingat bagaimana saya suka ikut Pramuka. Saya ingat pengalaman saya dalam memimpin upacara. Saya ingat betapa bangganya saya memberikan hormat saat bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Di tengah 'kemerosotan akhlak' sebagian orang, saya bangga menjadi warga negara Indonesia, yang saya dapatkan melalui 'ius sanguinis', yang berarti darah orangtua saya pun mengalir Indonesia. Bahkan jika Indonesia menganut sistem kewarganegaraan 'ius soli', saya yang lahir di Palembang pun akan menjadi warga negara Indonesia. Jadi, ini takdir saya menjadi bagian dari bangsa ini.
Saya sedih saat kekayaan bangsa ini dikeruk oleh negara asing. Saya kehilangan kata-kata saat melihat kelompok minoritas di bangsa ini ditindas. Padahal di dalam lambang negara kita, Garuda Pancasila mengalir deras. Kita boleh beda agama, kita boleh berbeda suku, ras, bahasa, budaya, latar belakang, namun kita harusnya SATU. Saya lebih sedih lagi seorang yang mengaku mayoritas tapi mengeruk harta dari kedudukannya, atau yang membuat keputusan yang berakibat ribuan orang tersiksa ; dibunuh dan diculik. Ada pula yang main hakim sendiri dan mengisyaratkan agamanya yang paling benar.
Sebenarnya, apakah itu minoritas ataupun mayoritas? Apakah kita terlalu peduli dia itu China atau bukan? Apakah dia lahir di Jawa ataupun Bali, dia orang Kalimantan ataupun Sulawesi? Kulitnya coklat, kuning langsat ataupun merah. Apakah itu semua penting? Lebih penting dari kekayaan negara kita? Apakah agama lebih penting daripada Tuhan? Negara kita negara kaya. Selain alamnya, negara ini kaya budaya. Jadi jangan ditukar semua itu dengan pertentangan hal-hal yang kita tahu bahwa kita semua banyak perbedaannya.
Saya memang seorang minoritas di bangsa ini, tapi saya bangga sebagai bagian dari bangsa ini. Saya yakin bahwa suatu hari nanti saya melihat bangsa ini diubahkan Tuhan menjadi bangsa yang penuh berkat. Tidak apa-apa jika saat ini masih banyak warga yang hanya melihat ketenaran sehingga bisa mendudukkan pejabat yang notabene heboh dengan pernikahan sirinya ke kursi DPR. Tidak apa-apa jika ada tersangka yang diduga sebagai pelaku kejahatan Mei 98 tapi dapat mencalonkan diri sebagai presiden. Tidak apa-apa jika koruptor dapat kembali mencalonkan dirinya untuk duduk di pemerintahan. Tidak apa-apa jika kita pernah memilih yang salah. Tapi masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas. Toh kebenaran seseorang akan bersinar, bagaimanapun dia ditutupi.
Akhir kata, kiranya kasih Allah yang melampaui segala pikiran memberikan kepada kita hikmat dan kebenaran dalam menjalani kehidupan sebagai seorang pribadi, seorang warga, seorang anggota keluarga, sebagai apa kita di dalam bangsa ini dengan bijaksana.
Sewaktu saya kecil (kayaknya sih waktu saya mau masuk SD), mama papa memutuskan untuk pindah rumah. Dulu saya dikelilingi oleh orang-orang Tionghoa. Namun sejak pindah, kami hanya satu-satunya keluarga keturunan Tionghoa. Di situlah saya tumbuh besar dengan pemahaman bahwa kami berbeda. Sampai sekarang saya bingung, napa saya dianggap beda.
Awal pindah, sungguh sangat susah. Saya yang masih kecil waktu itu masih ingat ketika rumah kami sering dilempari batu. Saat itu anak-anak kecil yang melakukannya akan berteriak, "Dasar China, China..." Tusukan tajam yang membuat saya bingung, kenapa saya bisa dianggap berbeda.
Kami juga sering kemalingan. Papa yang memelihara ikan, seringkali dicuri karena kolam ikannya berada tepat di sisi tembok. Seringkali orang-orang datang dan saya melihat papa memberi mereka uang. Tidak hanya ikan, seringkali orang datang dan mencuri apa saja yang kelihatan berharga untuk dijual.
Berteman pun tak mudah bagi saya. Sebenarnya, sewaktu kecil, perbedaan etnis itu tak terlalu mencolok. Saya berteman dengan baik sekali kepada beberapa orang. Ada beberapa orang lagi yang punya kelompok geng lain. Hal yang lumrah menurut saya. Namun semakin dewasa, teman-teman mulai menjauhi saya. Saya seringkali mengkhayalkan teman bermain dan bermain sendirian atau hanya bermain dengan adik laki-laki saya, yang puji Tuhan selalu mau menemani saya sekalipun yang dimainkan hanyalah permainan 'anak cewek'. Saya total tidak punya teman di rumah sejak saya kelas 6 SD.
Dari situ, saya mulai anti sosial. Pernah sekali karena tak ingin merepotkan papa yang sibuk, saya pergi ke sekolah sendirian. Untuk menghemat ongkos, saya pikir jalan kaki lebih baik daripada naik becak. Dari gang rumah ke depan hanya makan waktu 15 menit jalan kaki. Tapi di situ, kembali tusukan tajam melukai hati saya. "Eh Cino, ado wong Cino, ado wong Cino.(Eh China, ada orang China, ada orang China)" Hal itu membuat saya lebih jarang keluar rumah.
Saya juga jadi benci pada orang-orang yang datang ke rumah. Mereka kalau nggak ngajakin papa berjudi, maka mereka minta 'jatah'. Thx God-nya, saya tidak melihat ada perlakuan kasar.
Saya tumbuh dengan pemahaman bahwa saya berbeda, bahwa saya tidak bisa diterima orang lain di luar lingkungan saya. Hal itu membentuk saya hanya bergaul dengan orang-orang sesama saya. Jika tidak, akan terasa aneh. Di sekolah, saya punya banyak teman. Tapi di rumah, saya tiap hari hanya bermain sendiri.
****
Bertumbuh dewasa, di kota kelahiran saya, saya melihat bahwa memang perbedaan itu nyata. Apalagi ketika peristiwa Mei 1998 itu terjadi. Saat itu, umur saya baru saja mencapai 16 tahun, saya duduk di bangku 1 SMA. Soeharto dilengserkan. Awalnya, saya melihat kengerian saat Semanggi berubah menjadi medan perang di televisi.
Entah kenapa, pada akhirnya 'perang' itu merembet orang Tionghoa. Awalnya, toko-toko dirusak dan dijarah. Kemudian lama-kelamaan saya banyak mendengar berita tentang para wanita Tionghoa yang mengalami kasus pemerkosaan. Ada yang digilir oleh belasan orang, ada yang kemaluannya dimasukkan benda keras sampai rusak, ada yang disiksa dan diikat tanpa belas kasihan. Kalau Anda bertanya mengapa saya terang-terangan menceritakan hal itu, Anda bisa lihat bahwa saya ingin Anda turut merasakan apa yang saya rasakan. Ketakutan yang luar biasa, ngeri melihat manusia sudah berubah menjadi monster.
Di Palembang saya melihat semua toko Tionghoa dirusak dan tutup, toko yang masih utuh hanyalah toko yang bertuliskan nama "Pribumi". Setelah saya cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia, pribumi berarti pribumi /pri·bu·mi/ n penghuni asli; yg berasal dr tempat yg bersangkutan.
Helo, meskipun saya China, saya penghuni asli Palembang. Saya lahir di Palembang. Nenek moyang saya kebanyakan lahir dan besar di Indonesia ini. Kami memang berasal dari tempat ini. Kalau kami bukan pribumi, lantas siapakah kami?
Saya dan mama melarikan diri ke Bangka, tempat kakek dan nenek saya berada. Di Bangka, keadaannya tidak parah. Masyarakat di sana berbaur satu sama lain, tapi mulai tercium gelagat perpecahan. Saya dan mama sempat bingung, akan kemanakah kami jika nanti timbul perpecahan di Bangka? Kami tak punya uang banyak, tidak punya passport, tidak punya tempat persembunyian. Kami dalam keadaan bahaya di tanah kelahiran kami sendiri.
***
Mama juga pernah bercerita, pada tahun 1966 pun pernah terjadi kerusuhan yang serupa. Saya hitung-hitung, umur mama waktu itu baru 11 tahun. Mama bercerita bahwa banyak dari mereka juga tidak selamat. Yang beruntung, adalah mereka yang berhasil dibawa kabur Pemerintah China. Salah satunya adik kakek yang berhasil menyelamatkan diri ke sana. Saat itu, kuota orang yang dapat dibawa ke sana sangat terbatas.
Sebelum kakek nenek dan keluarga mereka bisa ke sana, pemerintah China menghentikan membawa orang Tionghoa keluar Indonesia setelah Indonesia berjanji untuk tidak pecah perang lagi. Cerita ini membuat saya berpikir, bahwa pada akhirnya mungkin mama saya akan menikah dengan orang lain dan bukan papa dan saya tidak akan lahir dan mengalami kejadian menakutkan itu.
Namun, saya salut pada mama. Beliau sudah dua kali mengalami penderitaan yang sedashyat ini, bagaimana Beliau dengan tabahnya mengajak saya untuk melarikan diri ke Bangka. Kejadian yang bahkan kalau sekarang saya ingat, saya suka menangis. Saya menangisi mereka yang tak berdosa tapi ternoda. Saya menangisi bangsa saya yang dari dulu mengajarkan Bhineka Tunggal Ika tapi justru menghancurkan kebhinekaan itu.
***
Setelah kejadian Mei 1998 itu, saya berpikir untuk meninggalkan bangsa ini. Saya harus sekolah, bekerja, dan kemudian pindah ke luar negeri. Seiring pengalaman saya yang mengiringi perjalanan hidup saya, saya menemukan bahwa saya mencintai bangsa ini. Saya mungkin ingin pergi melihat negeri orang, tapi saya ingin mati di tanah kelahiran saya.
Saya ingat bagaimana saya suka ikut Pramuka. Saya ingat pengalaman saya dalam memimpin upacara. Saya ingat betapa bangganya saya memberikan hormat saat bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Di tengah 'kemerosotan akhlak' sebagian orang, saya bangga menjadi warga negara Indonesia, yang saya dapatkan melalui 'ius sanguinis', yang berarti darah orangtua saya pun mengalir Indonesia. Bahkan jika Indonesia menganut sistem kewarganegaraan 'ius soli', saya yang lahir di Palembang pun akan menjadi warga negara Indonesia. Jadi, ini takdir saya menjadi bagian dari bangsa ini.
Saya sedih saat kekayaan bangsa ini dikeruk oleh negara asing. Saya kehilangan kata-kata saat melihat kelompok minoritas di bangsa ini ditindas. Padahal di dalam lambang negara kita, Garuda Pancasila mengalir deras. Kita boleh beda agama, kita boleh berbeda suku, ras, bahasa, budaya, latar belakang, namun kita harusnya SATU. Saya lebih sedih lagi seorang yang mengaku mayoritas tapi mengeruk harta dari kedudukannya, atau yang membuat keputusan yang berakibat ribuan orang tersiksa ; dibunuh dan diculik. Ada pula yang main hakim sendiri dan mengisyaratkan agamanya yang paling benar.
Sebenarnya, apakah itu minoritas ataupun mayoritas? Apakah kita terlalu peduli dia itu China atau bukan? Apakah dia lahir di Jawa ataupun Bali, dia orang Kalimantan ataupun Sulawesi? Kulitnya coklat, kuning langsat ataupun merah. Apakah itu semua penting? Lebih penting dari kekayaan negara kita? Apakah agama lebih penting daripada Tuhan? Negara kita negara kaya. Selain alamnya, negara ini kaya budaya. Jadi jangan ditukar semua itu dengan pertentangan hal-hal yang kita tahu bahwa kita semua banyak perbedaannya.
Saya memang seorang minoritas di bangsa ini, tapi saya bangga sebagai bagian dari bangsa ini. Saya yakin bahwa suatu hari nanti saya melihat bangsa ini diubahkan Tuhan menjadi bangsa yang penuh berkat. Tidak apa-apa jika saat ini masih banyak warga yang hanya melihat ketenaran sehingga bisa mendudukkan pejabat yang notabene heboh dengan pernikahan sirinya ke kursi DPR. Tidak apa-apa jika ada tersangka yang diduga sebagai pelaku kejahatan Mei 98 tapi dapat mencalonkan diri sebagai presiden. Tidak apa-apa jika koruptor dapat kembali mencalonkan dirinya untuk duduk di pemerintahan. Tidak apa-apa jika kita pernah memilih yang salah. Tapi masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas. Toh kebenaran seseorang akan bersinar, bagaimanapun dia ditutupi.
Akhir kata, kiranya kasih Allah yang melampaui segala pikiran memberikan kepada kita hikmat dan kebenaran dalam menjalani kehidupan sebagai seorang pribadi, seorang warga, seorang anggota keluarga, sebagai apa kita di dalam bangsa ini dengan bijaksana.
Wednesday, March 26, 2014
Pelajaran Hidup dari Pak Satpam di Kantorku
Namanya Pak Yunus D. Wanggai. Dia seorang satpam di kantor tempat aku bekerja. Aku baru mengetahuinya tadi siang kalau dia sudah meninggal dunia, karena ginjalnya bermasalah. Dia harus selalu cuci darah. Aku pernah melihatnya saat dia masih sehat. Dia kelihatan begitu gagah. Namun penyakit membuatnya lemah. Dia terlihat seperti kakek-kakek umur 70 tahun, badannya sangat kurus padahal dia baru berusia 40 tahun-an.
Ketika dia sudah sakit, dia masih harus bekerja. Dia memang ingin bekerja. Karena sakitnya, dia harus 2 minggu sekali cuci darah. Setiap kali cuci darah, uang banyak keluar. Dia bercerita banyak padaku, dengan sikap yang santai, seolah-olah itu hanyalah masalah sepele.
Kami berbincang-bincang suatu hari di depan kantor. Duduk di tangga marmer, aku bertanya dan dia bercerita. Dia bercerita bahwa penyakitnya ini bisa disembuhkan, tapi dia butuh ginjal yang tepat. Sampai saat itu, ginjal yang tepat itu belum ditemukan.
Di samping bercerita, Pak Yunus juga bertanya padaku. Apakah aku sudah punya pasangan? Di dalam hatiku langsung muncul pertanyaan seperti ini, "Bagaimana mungkin di tengah sakitnya, dia masih begitu perhatian kepada orang lain dan mampu melihat masalah orang lain?"
Aku pun bercerita padanya. Banyak hal yang kuceritakan dan dia betul-betul mendengarkanku. Perhatiannya dan kesederhanaannya dalam bertutur membuat aku terkesima. Dia mengerti apa yang kukatakan, dia benar-benar perwakilan Tuhan di dunia ini. Penuh belas kasihan dan peduli.
Satu hal yang dia pesankan kepadaku. Mungkin kata-katanya tak persis seperti ini. Namun dia pernah berkata, "Non, jangan pernah putus asa. Pasti dapet kok. Doa aja sama Tuhan. Memang susah-susah gampang tapi non pasti dapat."
Wow, berbicara dengannya sekitar 30 menit hari itu membuatku begitu bersyukur. Tuhan kirimkan malaikat-Nya untukku. Namun yang lebih berarti lagi, dia salah satu orang yang paling tidak egois yang pernah aku temukan. Itulah pertama kalinya aku berbincang dengan Pak Yunus secara mendalam. Itu juga yang menjadi perbincangan terakhir kami.
Tak lama setelah itu, dia tidak kelihatan lagi di kantor. Menurut kabar dia pulang ke kampungnya. Sampai akhirnya aku mendengar berita kematiannya ini. Semua yang ada di bawah matahari, tidak ada yang kekal. Namun pelajaran hidup yang dia bagikan akan terus melekat di hatiku.
Ketika dia sudah sakit, dia masih harus bekerja. Dia memang ingin bekerja. Karena sakitnya, dia harus 2 minggu sekali cuci darah. Setiap kali cuci darah, uang banyak keluar. Dia bercerita banyak padaku, dengan sikap yang santai, seolah-olah itu hanyalah masalah sepele.
Kami berbincang-bincang suatu hari di depan kantor. Duduk di tangga marmer, aku bertanya dan dia bercerita. Dia bercerita bahwa penyakitnya ini bisa disembuhkan, tapi dia butuh ginjal yang tepat. Sampai saat itu, ginjal yang tepat itu belum ditemukan.
Di samping bercerita, Pak Yunus juga bertanya padaku. Apakah aku sudah punya pasangan? Di dalam hatiku langsung muncul pertanyaan seperti ini, "Bagaimana mungkin di tengah sakitnya, dia masih begitu perhatian kepada orang lain dan mampu melihat masalah orang lain?"
Aku pun bercerita padanya. Banyak hal yang kuceritakan dan dia betul-betul mendengarkanku. Perhatiannya dan kesederhanaannya dalam bertutur membuat aku terkesima. Dia mengerti apa yang kukatakan, dia benar-benar perwakilan Tuhan di dunia ini. Penuh belas kasihan dan peduli.
Satu hal yang dia pesankan kepadaku. Mungkin kata-katanya tak persis seperti ini. Namun dia pernah berkata, "Non, jangan pernah putus asa. Pasti dapet kok. Doa aja sama Tuhan. Memang susah-susah gampang tapi non pasti dapat."
Wow, berbicara dengannya sekitar 30 menit hari itu membuatku begitu bersyukur. Tuhan kirimkan malaikat-Nya untukku. Namun yang lebih berarti lagi, dia salah satu orang yang paling tidak egois yang pernah aku temukan. Itulah pertama kalinya aku berbincang dengan Pak Yunus secara mendalam. Itu juga yang menjadi perbincangan terakhir kami.
Tak lama setelah itu, dia tidak kelihatan lagi di kantor. Menurut kabar dia pulang ke kampungnya. Sampai akhirnya aku mendengar berita kematiannya ini. Semua yang ada di bawah matahari, tidak ada yang kekal. Namun pelajaran hidup yang dia bagikan akan terus melekat di hatiku.
Subscribe to:
Posts (Atom)







