Showing posts with label kisah nyata. Show all posts
Showing posts with label kisah nyata. Show all posts

Wednesday, March 14, 2018

Namaku Hardy, Rasa Anak Angkat yang Pernah Ada



Namaku Hardy, sebelum aku menceritakan kisahku, sejujurnya aku ingin melupakan apa yang telah terjadi. Sayangnya, aku ini tipe manusia yang mempunyai long term memory. Aku masih ingat bagaimana aku belajar berjalan, aku masih ingat bagaimana aku jatuh dari tangga 25 tahun yang lalu, aku masih mengingatnya seolah kejadian itu baru kemarin. Sayangnya aku juga masih ingat kejadian yang ingin aku lupakan di dalam hidupku ini.

Aku lahir dari keluarga yang tidak berada. Sebelum aku lahir, kesembilan saudaraku sudah hadir ke bumi duluan. Dengan adanya aku, keluarga kami makin banyak anggotanya. Tentunya makin banyak biaya yang dikeluarkan, karena menambah satu mulut lagi untuk disuap. Mungkin inilah sebabnya mengapa aku hanya bersama keluarga kandungku selama 4 bulan.

Selebihnya, keluarga baru datang secara resmi untuk mengadopsiku. Aku kemudian mulai mengenal wanita lain sebagai ibuku, dan suaminya sebagai ayahku. Sejak aku mulai bisa berbicara, merekalah yang pertama kali aku panggil sebagai ayah dan ibu.

Ibuku baru menikah dengan ayah saat usianya sudah mencapai 40 tahun, hal inilah yang mungkin menyebabkan mereka susah punya anak. Atau mungkin karena ayahku mandul, entahlah aku tidak tahu banyak tentang hal itu. Gosip tetangga yang mungkin menyakitkan telinga, atau omongan orang yang kurang sedap didengar, mungkin itulah aku berada di sini bersama keluarga baruku.

Mengenai keluarga kandungku sendiri, aku tidak pernah bertemu dengan mereka lagi sejak saat itu, bahkan setelah aku tahu aku anak angkat ataupun ketika aku sudah dewasa seperti sekarang ini. Di dalam pemikiranku, di satu sisi aku pikir mereka pasti merasa bersalah karena telah memberikanku kepada orang lain. Di sisi lain, aku tidak mau menyakiti wanita yang sekarang aku panggil ibu.

Aku juga tidak ingin tahu mengapa mereka menyerahkan aku kepada orang lain. Kurasa mereka tidak punya pilihan lain dengan kondisi yang seperti itu. Bagi aku, hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Aku tidak banyak tahu juga tentang bagaimana aku diadopsi, ayah jarang bicara soal hal itu. Mungkin penyebabnya karena dia sendiripun anak angkat.

Dengan menjadi anak angkat, bukan berarti hidupku sepenuhnya bahagia. Tapi kalau aku disuruh memilih, menurutku situasinya akan sama saja. Belum tentu juga kalau aku tinggal bersama keluarga kandungku aku akan bahagia. Meski tinggal di rumah kontrakan, aku dengan keluarga angkatku ini, suasana di rumah kami pernah penuh dengan canda tawa. Rasa itu begitu sederhana tapi aku bahagia.

Namun, ada saat-saat kelam yang membuat rasa itu kemudian punah. Ayahku seorang KDRT. Ibuku selalu jadi sasarannya. Lama-kelamaan perbuatan KDRT ayah semakin parah. Suatu hari, dia mengancam ibu akan membunuhnya. Hal itulah yang kemudian membuat ibu lari dari rumah. Sejak ibu lari dari rumah, akulah yang menjadi sasarannya. Yang menyakitkan adalah ketika ayah lagi stress, dia suka bilang, "Lu bukan anak gua..." Hal itu masih membekas di hati. Aku tinggal bersama ayah selama dua tahun sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pindah ke panti jompo.

Sejak ayah pindah ke panti jompo, aku kembali tinggal bersama ibuku. Dia tinggal di rumah adik bungsunya. Aku pindah dengan membawa "monster" yang diciptakan ayah di dalam diriku. Karena kemudian, aku pun menjadi monster seperti ayahku, meski aku tidak melakukan kekerasan fisik tapi kata-kataku dan nada suaraku penuh dengan teriakan kepada ibu yang seharusnya aku kasihi. Aku seringkali harus mengontrol monster itu, tapi terkadang monster itu keluar tak terbendung.

Kalau ibu lagi over protective, seringkali dia memaksa saya harus menuruti perkataannya. Sedangkan aku, aku tentu punya cara pandang sendiri. Ditambah lagi, ada latar belakang suara adiknya yang bikin suasana bertambah keruh.

Adiknya suka ngomong, "Orang tua tidak bisa mengajar anak."

Yang lebih membuat aku kesal adalah ibu lebih mendengarkan adiknya dibandingkan aku. Ibu sendiri, dari sejak kecil selalu di rumah menjaga nenek, sehingga pergaulan pun kurang, sementara adik-adiknya bebas. Mungkin itulah yang menyebabkan ibu percaya semua perkataan adiknya, terutama tentang diriku. 

Sementara aku, merasa muak dengan mereka. Kalau di hadapan ibu, aku dianggap sebagai keponakan Tapi saat ibu tidak ada di TKP, siapalah aku ini. 
"Lu itu dianggep keluarga, makanya nurut." begitu kata mereka jika ibu ada.
"Lu numpang di sini karena kami mandang mama lu," begitu kata mereka ketika ibu tidak ada.

Berulang kali, perkataan-perkataan mereka menusuk ke hati. Berulang kali pula, mereka mengatakan hal berbeda jika ada ibu. Selama tiga tahun tinggal bersama adik bungsu ibu, aku selalu dianggap sebagai orang luar. 

Tahun 2013, suami adik ibu mengusirku. Saat itu, ibu ada di tempat kejadian, tapi ibu punya kuasa apa. Ibu toh juga menumpang. Gara-garanya? Aku telat membersihkan halaman rumah. Aku juga lupa perintah mereka untuk memasukkan kura-kura kembali ke dalam air. Kata mereka, kura-kura bisa mati kalau tanpa air. Hmmm....Jadi, kura-kura aja jauh lebih penting dibandingkan aku yang kata mereka dianggap anggota keluarga. Ternyata perlakuan mereka kepadaku seperti aku ini jongos.

Akhirnya aku ngekos selama kurang dari dua tahun. Memang waktu itu, kost ku dibayarin adik mama karena merasa bersalah akibat kelakuan suaminya. Sampai akhirnya, adik ibuku yang satu lagi tahu kalau aku diusir oleh adik iparnya. Awalnya, dia ngajakin aku dan mamaku pindah ke rumahnya. Awalnya, aku pikir dia bakalan berbeda.

Aku hanya bertahan selama enam bulan di rumahnya. Aku akui istrinya memang baik. Tapi pamanku dan anak-anaknya ya bajingan. Kesalahan kecil dicari dan diungkit. Tiap hari dia ribut. Mereka buat aturan yang bikin aku terikat. Memang, dia juga yang merekomendasikan aku untuk bekerja, tapi gaji Rp 1,5 juta cukup untuk apa? Kekecilan gaji tiap hari diteror untuk pindah. Pernah juga, dia bilang niat untuk membantu aku usaha ojek online. Pas sudah daftar, eh dia berubah pikiran. Aku pun udah jadi males mau ngomong lagi. Aku sempat satu bulan ga ngomongan sama pamanku ini.

Suatu hari, enam bulan setelah tinggal di rumahnya, aku ditawari kerja sama temanku di Cikarang. Saat aku mau pamitan untuk pindah, aku malah diusir. "Kalau memang ga sejalan, ya kamu memang harus keluar dari sini biar ga konflik," itu kata mereka. Sejak saat itu, aku ga tinggal lagi dengan 'keluargaku'. Aku setahun di Cikarang, dan sekarang aku hidup di Bali. Lebih baik begini. Aku ga mau dianggap beban sehingga terpaksa nampung aku. Aku menjaga diri sendiri agar tidak menyakiti mereka, sekalipun aku sudah disakiti.

Saat tahun baru Imlek, aku pernah pulang ke Jakarta. Teman-temanku meyakinkanku bahwa ini demi ibuku. Akhirnya, aku harus ketemu mereka kembali. Adik ibuku sempat memintaku untuk menginap sehari di rumahnya, begitu pula dengan ibuku. Namun, aku ingat kata-kata mereka. Daripada konflik, mendingan aku pergi. Mama maksa aku untuk baikan dengan mereka, tapi bagi aku memaafkan ga harus akrab. Cukup ambil jalan masing-masing. 

Sekarang ini, aku masih terluka tapi aku sudah memaafkan mereka. Luka butuh waktu untuk sembuh, lagian lukaku ini baru dua tahun. Seringkali tetap perlakuan mereka terbawa dalam malam-malam yang kelam. Aku memaafkan perlakuan mereka. Kalau mereka tak ingin punya hubungan dengan aku juga ga masalah. Saat mama sudah tiada, saat itulah hubunganku dengan mereka pun berakhir. Kadang aku pengen sekali bisa amnesia, apalagi ingatanku ini masih begitu jelas seperti kejadian kemarin. Hanya saja aku punya long term memory, jadinya suasananya masih begitu hidup di ingatanku. Inilah kisah kehidupanku, namaku Hardy.

Sumber : Hardy Chen

Kalian bisa tuker pikiran dengan narasumber mengenai kisah hidupnya di :
https://www.facebook.com/hussainshelomo.sudarshan

Tuesday, December 20, 2016

Sering Nemenin Akhirnya Malah Jatuh Cinta



Aku mulai suka dengan cewek ini waktu SMP kelas 3, kamipun kemudian pacaran sampai kelas 1 SMA. Tapi kami pacarannya diem-diem. Dia ga mau kalau sampe ada yang ngelaporin ke orang tuanya kalau dia udah pacaran. Jadi, kami pun main kucing-kucingan.
Kalau di tempat umum, dia sih oke-oke aja. Tapi kalau di sekolah, kami ga kayak pacaran. Kami pun melakoninya selama 2 tahun-an. Lalu hubungan kamipun mulai merenggang setelah kelas 2 SMA.

Sewaktu pacaran, aku sering mengajak temenku jalan bertiga. Maksudnya, ya biar kami ga terlalu kelihatan seperti orang yang pacaran. Biar temenku ini jadi penengah. Temenku yang sekaligus merupakan kakak kelasku ini sudah aku kenal akrab, karena dia dan aku sering banget pergi ke sekolah bareng naik bis.

Tiba-tiba suatu hari, ga ada angin, ga ada ujan, temenku ini mengaku jujur juga menyukai pacarku ini. Kontan aja pengakuannya tidak aku terima.

“Maksudmu apa bilang gitu?” tanyaku kepadanya

Dia malah emosi dan kemudian main fisik. Kamipun berantem pada saat itu. Namun, kami kemudian dilerai. Sejak itu, kami ga bisa kayak dulu lagi yang berteman akrab.

Kedua kalinya, kami bertemu di kantin secara tidak sengaja. Saat itu lagi ramai namun kami coba ngomong baik-baik dengan teman-teman gengku juga. Awalnya, kami ngomong-ngomong seperti biasa. Namun tiba-tiba dia pun kembali emosi. Kami pun berantem. Saking hebohnya, sewaktu dia hendak memukulku, akupun menghindar. Hal itu membuatnya tersungkur di meja dan menyebabkan meja tersebut rusak. Kamipun kemudian dilerai lagi. Namun, masalah ga sampai di situ aja. Kami pun harus menghadap guru BP.

Usut punya usut, ternyata teman baikku ini pernah menyatakan cinta kepada cewek yang aku pacari selama 2 tahun. Rupanya, setelah dia putus dengan pacarnya yang juga merupakan temen cewekku, dia mulai melirik pacar temennya sendiri. Sewaktu temenku ini mengungkapkan perasaannya kepada cewekku, memang tidak terjadi apa-apa. Hubungan kami udah ga bisa baik kembali. Tapi masalah ga selesai sampai di situ.

Aku sama cewekku ini memang sudah menjalin hubungan yang dingin selama bertahun-tahun kemudian. Terlepas dari pengkhianatan temenku, kami pun sudah sering putus sambung. Malahan, aku mendapati bahwa cewekku ini berkhianat dengan pria lain. Waktu ketahuan, cewekku ini malah marah, “Ngapain sih kamu ngikut-ngikutin aku?”
Aku mencoba lagi. Aku mencoba menaruh harapan positif di dalam hubungan kami dan memberikan dia kesempatan lagi. Kami pun tetap pacaran meski kami pacaran jarak jauh, karena aku harus kuliah di Malaysia. Namun, hubungan kami tuh sudah begitu dingin, seperti hanya status aja.

Setahun kemudian akupun memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Aku katakan padanya bahwa aku sangat capek. Sejak saat itu, dia baru bereaksi. Dia baru bertanya-tanya, mengapa. Dia baru mencoba untuk memperbaiki keadaan. Padahal selama ini, aku yang berdarah-darah dan dia yang tidak peduli. Bahkan dari beberapa temenku, dia didekati oleh beberapa cowok dan temenku pun menyarankan bahwa lebih baik melepaskan dia.

Aku memang terlalu naif. Cinta itu tidak seindah apa yang dibayangkan. Setelah 4 tahun mencoba, ternyata tak berhasil juga. Aku perlu 1 tahun untuk benar-benar bisa melupakan cinta monyetku ini. Namun, ada pelajaran yang aku tarik.

Mungkin aku ini tidak begitu realistis dalam melihat cinta. Yang pasti, aku menyadari bahwa tentunya aku juga punya andil dalam hubungan yang tidak berjalan dengan baik ini. Aku jadikan ini pengalaman dan belajar dari situ. Aku juga belajar untuk melihat kekuranganku, dan mau mulai belajar untuk mempercayai orang lebih lagi.
Kepercayaan itu penting banget menurut aku. Jadi aku akan mencoba belajar percaya dan mempercayai lebih banyak lagi.

Aku sadar bahwa ada sifat-sifat jelek yang mungkin keluar saat aku memulai hubungan yang baru, emosiku bisa aja meledak-ledak di dalam hatiku. Namun aku belajar untuk menahannya tetap berada di dalam dan setelah itu mulai berpikir dan merefleksikan diri. Aku bertekad untuk menjadi dewasa. Tidak mengatakan sesuatu yang bakalan membuat kita menyesal.

Sumber : data pribadi berinisial HS

Monday, December 5, 2016

Kisah Cinta Ahok dan Veronica : Dari Kaki Naik ke Hati


Setelah bercerita tentang bagaimana Jokowi bertemu dengan Iriana (baca di sini), kali ini saya ingin menceritakan kisah cintanya Ahok dengan Veronica. Saya ambil dari berbagai sumber. Kisah cinta mereka ternyata cukup unik lho. Kamu penasaran gimana mereka bisa bertemu, jatuh cinta, dan akhirnya menikah? Ini kisahnya :


Ahok (kelahiran 29 Juni 1966) pertama kali bertemu dengan Veronica pada tahun 1994 di Gereja Kristus Yesus, Pluit, Jakarta Utara. Umur Ahok sembilan tahun lebih tua dari Veronica. Saat itu umur Ahok 28 tahun maka Veronica berumur 19 tahun. Nah, ada kisah unik saat pertemuan mereka itu.
“Waktu itu aku udah kerja, Bu Vero baru kuliah. Pertama ketemu di gereja. Enggak sengaja keinjek kakinya. Jadi ini bukan dari mata turun ke hati tapi dari kaki naik ke hati,” ujar Ahok sambil dengan muka berseri. Ahok mengaku saat itulah dia berfokus pada kaki Veronica. Ahok mengakui terus terang kalau kaki Veronica bagus. Menurutnya, kaki yang bagus berarti memiliki kepribadian yang kokoh.

Ternyata Veronica juga melayani di gereja sebagai pemain piano. Seraya tersipu Ahok mengatakan, “Karena permainan piano di gereja dan nyanyi juga,” ujarnya. Itulah yang membuatnya kemudian jatuh cinta kepada perempuan asal Medan, Sumatera Utara tersebut. Keduanya memang pemuda dan pemudi yang aktif di gereja.

“Ya gue pikir gini ajalah, dia bisa main piano dan bisa nyanyi. Siapa tahu suatu hari gue jadi pendeta, lagi kemana-mana, ada yang bisa nyanyi dan main piano,” cerita Ahok dalam acara Rosi.

Keduanya sempat berucap bahwa ada sedikit paksaan agar Ahok dan Veronica cepat menikah. Kala itu Ahok dan Veronica masih dalam tahap pendekatan, ayah Ahok, Indra Tjahaja Purnama divonis sudah tidak lama lagi usianya karena mengidap penyakit kanker stadium 4, sehingga dia ingin melihat anak sulungnya ini cepat menikah dan dirinya memiliki menantu.

“Ya udah, akhirnya aku datang ke emaknya (Veronica) bilang mau nikah. Emaknya aja kaget waktu itu, “Eh, anak gue bunting ya?” cerita Ahok. Akhirnya Ahok pun harus menjelaskan tentang keadaan ayahnya dan diterima oleh keluarga Veronica.

Tiga tahun setelah kaki Veronica terinjak, Ahok menikahi Veronika tepatnya pada tanggal 6 September 1997. Mereka sekarang dikaruniai tiga buah hati yaitu Nicholas Sean (kelahiran 1998), Nathania (kelahiran 2001) dan Daud Albeener (kelahiran 2006).

Apa yang membuat Veronica setuju untuk menikah dengan Ahok? “Dia preman, berani. Diajak kawin langsung, enggak pakai dipacarin,” ujarnya. Menjadi istri Ahok, Veronica mengaku sudah kebal terhadap berbagai perlawanan terhadap sang suami.

Ahok dan Veronica bukanlah manusia sempurna. Mereka juga kerap berselisih pendapat, namun biasanya tidak berlangsung lama. Misalnya saja. Ahok ingin ketiga anaknya mandi pagi. Tapi Veronica minta anaknya mandi siang saja kalau liburan. Akhirnya, Ahok menuruti permintaan istrinya tersebut.\

“Konflik-konflik terjadi, ya enggak ada masalah. Paling yang bikin ribut kadang-kadang kayak ngatur anak bisa beda pendapat.” Ucap Ahok

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Basuki_Tjahaja_Purnama

Tuesday, November 22, 2016

Bagaimana Jokowi dan Iriana Bisa Bertemu di Pelaminan?

Setiap orang pasti punya cerita unik bagaimana jatuh cinta dengan pasangan hidupnya sekarang ini. Saya sendiri penasaran dengan bagaimana Pak Jokowi jatuh cinta pada Ibu Iriana. Apakah mereka dijodohkan? Mungkin mereka bertemu secara ga sengaja karena nabrak satu sama lain seperti di tivi-tivi? Nah, maka saya pun mulai merangkum dari berbagai sumber dan menyajikannya buat para pembaca bloggerku ini. Ini kisahnya :


Tumbuh dan berkembang di lingkungan usaha kayu dan bambu membuat Jokowi jatuh cinta pada lingkungan yang satu ini. Inilah yang membuat dia memilih Fakultas Kehutanan Jurusan Teknologi Kayu di Universitas Gajah Mada. Dia bisa menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 4,5 tahun, salah satu yang lulus tercepat di jurusan yang dia ambil.

Pada tahun 1982, Joko Widodo pun memulai kisah cintanya dengan Iriana. Saat itu Jokowi masih menjadi mahasiswa semester 3, sementara Iriana masih duduk di bangku SMA kelas 3. Iriana bukanlah orang yang asing bagi Jokowi karena Iriana merupakan teman adiknya sendiri, Iid Sriantini. Saat Jokowi melihat Iriana, Jokowi pun jatuh cinta. Hal ini dikatakannya secara terang-terangan apa yang membuatnya jatuh cinta. Dia jatuh cinta pada Iriana karena 'sederhana dan ndeso banget'.

Lantas apa yang membuat Iriana jatuh cinta pada Jokowi? Iriana mengatakan bahwa sosoknya yang pintar dan tidak banyak omonglah yang membuatnya jatuh cinta. "Kelihatan pintar dan feeling saya akan jadi orang besar," katanya.

Mereka pun lantas berpacaran selama empat tahun sebelum akhirnya menikah pada 24 Desember 1986. Bekal pernikahan mereka adalah seperangkat alat sholat, tafsir Alquran, dan cincin kawin yang saat itu senilai Rp 24 ribu rupiah yang sampai saat ini masih melingkar di jari manis mereka.

Di dalam buku pernikahan mereka, ada catatan yang bertuliskan "Tidak Mau Dimadu". Catatan ini dibuat oleh Iriana untuk tidak mau dimadu dengan alasan apapun. Hal ini dibuat bukan karena ketidakpercayaan Iriana akan kesetiaan Jokowi padanya. Karena buktinya, pernikahan mereka yang sudah berlangsung hampir 30 tahun itu tetap langgeng dan jauh dari gosip.

Setelah menikah, Iriana langsung diboyong ke Aceh karena mendapat pekerjaan di sana. Di Aceh, Jokowi sering membawa Iriana jalan-jalan ke danau ataupun sekedar makan mie Aceh. Gibran Rakabumi pun dikandung ketika mereka berada di Aceh. Lalu menjelang waktu kelahiran Gibran, mereka lalu pindah ke Solo.

Akhir kata, saya juga ingin membagikan apa yang pernah disampaikan Iriana untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia. "Biasa-biasa saja, kita jalani biasa-biasa saja. Nggak usahlah saya sampaikan harus begini begitu. Kita ya adanya seperti ini. Apa adanya mengalir," ujar wanita yang akrab disapa Ana ini.
Dari perkataan yang diucapkan oleh Iriana tersebut, inilah yang saya tangkap maknanya :
-Biasa-biasa saja (jangan menanggapi secara berlebihan ataupun berkekurangan segala sesuatu)
-Nggak usah sampaikan harus begini begitu (ga menuntut)
-Kita ya adanya seperti ini (jadilah diri sendiri)
-Apa adanya mengalir (terbuka dan jujur satu sama lain)
Entahlah, apakah kalian setuju?

sumber :
https://nasional.tempo.co/read/news/2014/07/27/078596104/jokowi-jatuh-cinta-pada-iriana-karena-ndeso
http://intisari-online.com/Unique/Others/Ulang-Tahun-Presiden-Joko-Widodo-Saat-Jokowi-Muda-Patah-Hati
http://www.tabloidbintang.com/articles/berita/sosok/14246-menengok-lagi-kisah-cinta-jokowiiriana
http://news.detik.com/berita/2649514/ketika-jokowi-iriana-tersipu-malu-ungkap-kisah-kasih-semasa-muda

Tuesday, October 18, 2016

Ini Kisah Bagaimana Pernikahan yang Hampir Hancur Dapat Diselamatkan

Aku nangis abis baca kisah ini, kisah ini dibuat oleh seorang pria Amerika bernama Richard Paul Evans, yang bergumul di dalam pernikahannya yang sudah hampir di ambang kehancuran. Ketika aku baca artikel ini, aku ngerasa ada hal yang penting di dalam sebuah pernikahan yaitu menempatkan ego pribadi untuk kepentingan bersama. Nah, setuju atau nggak, coba baca aja deh.



"Anak tertua saya, Jenna, baru-baru ini mengatakan kepada saya, "Ketakutan terbesar saya dalam menjadi anak adalah bahwa papa dan mama akan bercerai. Lalu, ketika saya berumur 12 tahun, saya memutuskan bahwa itu memang langkah yang lebih baik," Lalu dia menambahkan dengan senyuman, "Saya senang bahwa kalian berdua mampu mengatasi kesulitan itu."

Selama bertahun-tahun, istri saya Keri dan saya bergumul. Melihat ke belakang, saya tidak tahu persis apa yang membuat kami bersatu, padahal kepribadian kami sangat jauh berbeda. Mendapatkan 'ketenaran dan kekayaan' tidak membuat pernikahan kami jauh lebih mudah. Kenyataannya, malah memperburuk persoalan kami.

Tensi di antara kami sangat buruk sehingga pergi keluar rumah merupakan sebuah kelegaan, namun sepertinya setelah itu kami harus 'membayarnya' lagi. Pertengkaran kami menjadi konstan sehingga sulit membayangkan kedamaian dalam hubungan. Kami menjadi mempertahankan diri masing-masing, membangun benteng-benteng emosi di hati kami. Kami di ujung perceraian dan lebih dari sekali kami telah mendiskusikannya.

Saya sedang dalam perjalanan ketika sesuatu muncul di kepala. Kami baru saja bertengkar hebat di telepon dan Keri memutuskan telepon. Saya merasa sendirian dan kesepian, frustasi dan marah. Saya sudah mencapai batas saya Itu ketika saya datang ke Tuhan. Atau 'menyalakan` Tuhan. Saya tidak tahu jika Anda mungkin menyebutnya sebagai doa - mungkin berteriak kepada Tuhan bukanlah doa, mungkin itu adalah - tapi apapun yang saya rasakan waktu itu tidak akan pernah saya lupakan.

Saya sedang berdiri di bawah pancuran air di Buckhead, Atlanta Ritz Carlton sambil berteriak kepada Tuhan atas pernikahan yang salah dan saya tidak bisa lagi melakukannya. Meskipun saya membenci ide perceraian namun rasa sakit saat bersama sudah terlalu besar. Saya juga bingung. Saya tidak bisa mengerti mengapa pernikahan dengan Keri begitu berat. Saya adalah seorang yang baik. Mengapa kami tidak bisa bersama? Mengapa saya menikah dengan seseorang yang begitu berbeda dengan saya? Mengapa dia tidak berubah?

Sampai akhirnya, serak dan patah, saya duduk di pancuran dan mulai menangis. Di tengah keputusasaan saya terdalam, sebuah inspirasi datang kepada saya. "Kamu tidak bisa mengubahnya, Rick. kamu hanya bisa mengubah dirimu sendiri."

Saat itu juga saya mulai berdoa. "Tuhan, kalau begitu ubahlah saya."

Saya berdoa sampai larut malam. Saya berdoa keesokan harinya dalam perjalanan saya pulang. Saya berdoa ketika saya membuka pintu dan bertemu dengan istri yang begitu 'dingin' yang bahkan tak mempedulikan saya. Malam itu, saat kami berbaring di kamar tidur kami, sebuah inspirasi datang. Saya tahu apa yang harus saya lakukan.

Keesokan harinya, saya berguling di ranjang ke sebelah Keri dan bertanya, "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

Keri melihat saya dengan rasa marah. "Apa?"

"Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

"Kamu tidak bisa," katanya. "Mengapa kamu bertanya itu?"

"Karena saya sungguh-sungguh." jawab saya. "Saya hanya ingin tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membuat harimu lebih baik."

Dia memandang sinis kepada saya, "Engkau ingin melakukan sesuatu? Pergilah membersihkan dapur." Lalu dia sepertinya mengharapkan saya marah.

Namun saya hanya mengangguk. "Oke." Saya bangun dan membersihkan dapur.

Keesokan harinya, saya bertanya hal yang sama. ""Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

Matanya menyipit. "Bersihkan garasi."

Saya mengambil nafas panjang. Saya sebenarnya sudah menghadapi hari yang sibuk dan saya tahu bahwa permintaannya itu dia buat seenaknya. Saya tertantang untuk mengamuk, namun saya hanya berkata, "Oke."

Saya bangun dan untuk dua jam ke depan saya membersihkan garasi. Keri tidak tahu harus berpikir bagaimana.

Keesokan harinya datang. "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

"Tidak ada!" katanya. "Kamu tidak bisa melakukan apa-apa. Hentikan ucapan itu."

"Saya minta maaf." kata saya. "Tapi saya tidak bisa. Saya sudah membuat komitmen kepada diri saya sendiri. Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

"Mengapa kamu melakukan ini?"

"Karena saya peduli padamu," kata saya lagi. "dan pada pernikahan kita,"

Hari berikutnya saya tanyakan lagi dan begitu juga hari berikutnya, dan berikutnya. Lalu, selama minggu kedua, sebuah mujizat terjadi. Saat saya menanyakan pertanyaan tersebut, mata Keri dipenuhi dengan air mata. Lalu dia menangis. Ketika dia bisa bicara dia berkata," Tolong hentikan menanyakan hal itu. Bukan kamu masalahnya. Tapi aku. Aku susah diajak hidup bersama. Aku tidak mengerti mengapa kamu masih bersamaku."

Dengan lembut saya mengangkat dagunya sampai dia melihat mata saya. "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu."

"Kamu harus." kata saya. "Tapi tidak sekarang. Saat ini, saya yang harus berubah. Kamu harus tahu betapa berartinya kamu bagiku."

Dia menaruh kepalanya di dada saya. "Saya minta maaf sudah begitu kasar."

"Saya mencintaimu." kata saya.

"Saya mencintaimu." balasnya.

"Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

Dia melihat mata saya dengan manis, "Bisakah kita mungkin menghabiskan waktu bersama-sama?"

Saya tersenyum. "Saya suka itu."

Saya terus bertanya hal yang sama selama lebih dari sebulan. Dan keadaan memang berubah. Pertengkaran berhenti. Lalu Keri mulai bertanya, "Apa yang kamu butuhkan dariku? Bagaimana saya bisa menjadi istri yang lebih baik?"

Tembok-tembok di antara kami mulai runtuh. Kami mulai mempunyai diskusi yang bermakna tentang apa yang kami inginkan dalam hidup dan bagaimana kami bisa membuat satu sama lain lebih bahagia. Tidak, kami tidak bisa menyelesaikan semua masalah kami. Saya bahkan tidak bisa berkata bahwa kami tidak pernah bertengkar lagi. Namun pertengkaran kami tidak sama seperti dulu lagi.

Bukan hanya makin hari makin berkurang, pertengkaran itu tidak lagi punya energi. Kami menghilangkannya bersama udara. Kami hanya tidak punya hati untuk menyakiti satu sama lain lagi.

Saat ini Keri dan saya sudah menikah lebih dari 30 tahun. Saya tidak hanya mencintai istri saya, saya menyukainya. Saya suka saat bersamanya. Saya lapar akan dia. Saya butuh dia. Banyak perbedaan kami menjadi kekuatan dan perbedaan lainnya jadi tidak begitu penting. Kami belajar bagaimana menjaga satu sama lain dan yang paling penting, kami meraih hasrat untuk melakukannya.

Pernikahan itu keras. Namun begitu juga dengan menjadi orangtua, tetap sehat, menulis buku, dan hal lain yang penting dalam hidup saya. Untuk memiliki pasangan hidup adalah hadiah yang begitu berharga. Saya juga belajar bahwa institusi pernikahan bisa memulihkan kita di tempat yang paling membutuhkan. Dan kita semua punya tempat seperti itu.

Berjalannya waktu saya belajar bahwa pengalaman kita adalah ilustrasi pengetahuan yang lebih besar tentang pernikahan. Pertanyaan yang harus ditanyakan di dalam komitmen pernikahan yang signifikan adalah "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

Itulah cinta. Novel romantis (dan saya sudah menulis beberapa) adalah tentang hasrat dan bahagia sampai akhir, namun bahagia sampai akhir tidak datang dari hasrat - setidaknya tidak dalam bayangan potret keromantisan yang ditawarkan.

Cinta sejati bukan karena menginginkan seseorang, namun hasrat untuk kebahagiaan mereka - kadang, bahkan, kebahagiaan kita sendiri dikorbankan. Cinta sejati tidak membuat satu sama lain jadi serupa. Cinta sejati akan memperbesar kapasitas kita untuk bertoleransi dan peduli, untuk secara aktif mencari kebahagiaan pasangan.

"Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

sumber : brightside.me

Monday, August 1, 2016

Belajar Untuk Jadi Orang yang Baik dari Hari ke Hari

Setiap manusia punya persoalan hidup. Saat mengalaminya, semua orang merasa bahwa masalahnya begitu berat. Tapi setelah kita melewati masalah itu, sering ga kita merasa begini, "Wah ternyata masalahnya ga begitu berat." atau "Kayaknya masalahnya jadi sekecil kelingking doang ya"

Dulu waktu aku masih kecil, aku sudah bercita-cita untuk punya satu pacar dan kemudian menikah. Makanya, ketika aku pacaran pertama kali, aku menghabiskan waktu 7 tahun untuk menyadari bahwa aku tidak bisa menikah hanya dengan pacaran satu kali.

Aku pun perlu bertahun-tahun sampai akhirnya aku berhasil membuka diri kembali, sayangnya lagi-lagi dengan orang yang salah.Hal itu masih berlangsung sampai sekarang. Sepertinya, aku masih saja mencari orang yang salah untuk dijadikan pendamping hidup.

Awalnya, aku berpikir dia adalah yang terakhir di dalam hidupku. Kami bertemu di sebuah situs jodoh. Meskipun jarak jauh, aku bisa tenang menjalani hubungan ini. Kami bertemu sebulan dua kali, kadang aku yang ke tempatnya, kadang dia yang datang ke tempatku. Aku suka traveling, jadi rasanya menyenangkan mengenal dunia baru. Sampai akhirnya, aku tahu bahwa dia masih menghubungi mantannya. Saat itu, aku masih berharap dia berubah, namun ternyata aku yang berubah. Aku tak bisa percaya lagi padanya, kami sering bertengkar dan kami pun putus sambung beberapa kali. Sampai akhirnya, aku menyadari bahwa diapun bukan yang aku cari.

Lalu datang lagi seseorang dalam hidupku. Meskipun sudah setahun lebih aku putus dari yang sebelumnya, aku belum siap menghadapi hubungan yang baru. Namun kegigihannya, membuat aku bertanya-tanya, "Apakah dia Tuhan?" Jika dulu-dulu aku tidak berdoa saat hendak berpacaran, kali ini aku berdoa puasa selama sebulan. Namun, sebenarnya tanda-tandanya cukup jelas dan harusnya aku sudah dapat melihat dengan jelas. Sebelum sebulan doa puasa itu selesai, aku menemukan bahwa dia pun masih menghubungi mantannya.

"Apa yang kutakutkan, itulah yang terjadi padaku" Itulah yang Ayub katakan saat dia dicobai. Aku berpikir bahwa aku tak mau lagi punya pacar yang ga sungguh-sungguh, yang masih menoleh ke belakang, tapi ternyata itulah yang kudapatkan.

Sepertinya aku belum dewasa dalam menentukan sebuah keputusan. Aku juga punya harapan yang tinggi bahwa kali ini akan jadi yang terakhir. Aku berharap inilah yang terakhir. Kami punya banyak perbedaan, meski kami juga punya banyak kesamaan. Ketika kami sedang baik-baik saja, maka kami seperti seorang sahabat. Melakukan hal-hal konyol dan menyenangkan hati. Namun ketika perbedaan itu muncul, kami seperti musuh bebuyutan.

Lama-kelamaan, kami saling egois dan beberapa kali pula kami putus sambung. Namun sepertinya keadaan tidak membaik. Makin lama makin runcing. Masalah kecil jadi besar. Sampai suatu hari, kami juga bertengkar hebat.

Sama seperti mantanku yang lainnya, akupun diajak bertemu dengan kedua orangtuanya. Bedanya dengan yang lain adalah ketika kami pulang dari sana, kami pun bertengkar hebat dan saat itulah dia memutuskanku. Ironis bukan? Diputuskan hanya setelah diajak bertemu camer. Aku kecewa berat. Sebelum bertemu camer, mungkin hubungan kami belum serius. Jadi wajar saat emosi memuncak, kami mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan dan kemudian kami putus sambung. Aku pikir saat hubungan ini sudah semakin serius, maka kata-kata itu jadi tabu. Kecuali jika benar-benar ingin berpisah, namun nyatanya tidak begitu.

Ironisnya lagi, setelah aku diputusin, dia malah memberikanku cincin pertunangan. Aku jadi bingung, baru kali ini aku benar-benar bingung, hubungan macam apa yang sedang aku jalani. Kalau aku itung-itung, sejak dia mengajakku bertemu camer, empat kali aku diputusin. Empat kali pula aku diajak baikan lagi. Yang keempat ini sebenarnya kami tidak bisa dibilang putus karena sejak yang ketiga, kami ga pacaran lagi meskipun tetap dekat.

Empat kali diputusin itu seperti menderaku. Apakah aku begitu tidak berharganya sampai harus terus menerus diputusin dan diajak balikan lagi, seperti dianggap enteng. Apakah sifatku begitu jeleknya sampai pantas diperlakukan seperti itu. Belum lagi, ternyata dia juga mulai langsung 'bergerak'. Saat pacaranpun tidak ada status ataupun foto tentang kebersamaan kami. Apakah itu yang pantas aku dapatkan, untuk apapun kekurangan yang ada padaku.

Aku tidak mau mengalami siklus yang sama terus-menerus, sampai kapan aku harus mengalami hal itu. Makanya aku mau melangkah. Tuhan pasti mau mengajarkan sesuatu padaku meski saat ini yang kurasakan hanyalah rasa sakit. Aku mau seperti Daniel, yang berdoa untuk mengucap syukur dan pujian pada-Nya. Aku percaya, pujian dan ucapan syukur jauh lebih menguntungkan daripada bersedih tak ada ujungnya. Sebenarnya, bukanlah waktu yang akan benar-benar menyembuhkan kita, tapi hanyalah lewat belajar dan bersandar. Kita punya Tuhan yang hebat. Makanya aku juga perlu belajar untuk lebih baik lagi, menjadi orang yang terbaik dari diriku. Tapi aku juga perlu belajar untuk lebih bersandar pada Allah. Menggantungkan harapanku di tempat yang tepat.

Thursday, June 11, 2015

Angeline, Malaikat 8 Tahun yang Dipatahkan Sayapnya Secara Paksa

Delapan tahun lalu, seorang bocah mungil lahir dari Rosidi dan Hamida. Suami istri asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu senang sekaligus sedih menyambut kedatangan sang buah hati. Mereka tak memiliki uang sedikit pun untuk membiayai kebutuhan hidup bayi mungil tersebut.


Seorang kerabat mengenalkan Rosidi dan Hamida dengan pasangan suami istri yang bertempat tinggal di Denpasar, Bali. Demi masa depan sang buah hati, maka orangtuanya mengijinkan Margaret dan suaminya yang berkewarganegaraan asing, untuk mengangkat bayi mungil itu sebagai anak. Bayi itu pun menjadi anak mereka sejak dia baru berusia 3 hari dan kemudian diberi nama Angeline.




Angeline tumbuh besar dengan kedua saudara angkatnya bernama Christine dan Ivone. Dia diberikan tugas khusus yaitu harus memberi makan sekitar 50 ayam sebelum berangkat ke sekolah, ini menurut pengakuan wali kelasnya. Namun, jika dia melalaikan tugas tersebut, Angeline sering dimarahi oleh ibu angkatnya, ujar Agus sang sopir yang akhirnya menceritakan semuanya setelah jasad Angeline ditemukan. Bahkan Angeline harus jalan kaki berangkat ke sekolah dan karenanya sering telat.

Bagaimana ceritanya pembunuhan Angeline terjadi? Pada 16 Mei 2015, tutur Ipung seorang aktivitis mengulang pengakuan Agus, sopir yang baru seminggu kerja di rumah tersebut dan mengaku tahu banyak kasus ini. Angeline saat itu tengah menggambar di kamarnya. Lalu, Margaret memanggil Angeline. Bocah yang masih duduk di bangku kelas 2 SD itu pun berlari menuju kamar ibu angkatnya tersebut. Namun, tiba-tiba terdengar jeritan pilu Margareth dan menyebut-nyebut nama Angeline. Ini kisah lengkapnya.

Pada malam harinya, Agus mengaku dipanggil Margareth dan memintanya untuk menguburkan Angeline di dekat kandang kuda. Kemudian, Margareth melaporkan anaknya hilang saat bermain di depan rumah. Angeline dilaporkan hilang saat bermain di depan rumahnya, Sabtu (16/5/2015) sekitar pukul 15.00 Wita, oleh orangtua angkatnya. Namun, sampai sekarang Margareth tidak mau mengakui keterlibatannya. Ini kronologi pelaporan hilangnya Angeline.

Rabu, 10 Juni 2015, jasad Angeline pun ditemukan. Ini berita tentang penemuan tersebut. Menurut hasil otopsi, Angeline mengalami kematian karena luka di kepalanya. "Yang menyebabkan kematiannya adalah kekerasan tumpul pada wajah dan kepala yang mengakibatkan pendarahan pada otak. Kita menyimpulkan bahwa waktu kematian dari korban adalah sekitar tiga minggu yang lalu," kata Kepala Bagian SMF Kedokteran Forensik RS Sanglah, Denpasar, Bali, dr Ida Bagus Putu Alit, Rabu (10/6/2015).

Ada yang menyebut bahwa pembunuhan Angeline didasarkan pada motif warisan yang dia terima. Beritanya di sini. Saat ini Agus dijadikan tersangka karena berdasarkan pengakuannya sendiri, dia telah memperkosa Angeline setiap hari, sejak pertama kali dia kerja di rumah tersebut, selama seminggu sebelum dibunuh. Ini laporan dari Siti Sapurah, anggota P2TP2A, salah satu lembaga layanan bagi korban kekerasan terhadap perempuan. 

Anak yang seringkali mengalami penganiayaan biasanya tidak mau bercerita tentang hal itu. Selain menyakitkannya, kejadian itu membuatnya merasa tak berharga. Dia menganggap hal itu terjadi karena kesalahannya. Karena itu, dia tidak akan bercerita.

Pada akhirnya, yang jadi korban tetaplah anak-anak. Jangan biarkan hal ini terjadi lagi. Orang dewasa harusnya lebih peduli, karena merekalah generasi penerus bangsa. Jika mereka dirusak, lantas bagaimana nasib bangsa ini? Bagaimana nasib mereka dan bagaimana luka itu akan merusak mereka, masa depan yang seharusnya indah.

Mulai sekarang, jika Anda melihat kejanggalan di sekeliling Anda terutama yang terjadi pada anak-anak silahkan hubungi Komisi Perlindungan Anak Indonesia di :


Jl. Teuku Umar No. 10 Gondangdia Menteng Jakarta Pusat DKI Jakarta, Indonesia
Telepon:
(+62) 021-319 015 56
Fax:
(+62) 021-390 0833
Email:
info@kpai.go.id
humas@kpai.go.id
pengaduan@kpai.go.id
Web:
www.kpai.go.id

Foto dan sumber berita : dari berbagai sumber

Thursday, April 30, 2015

Andrew Chan, Kisah Pertobatan Sampai Eksekusi Mati

Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, Bali Nine

Andrew Chan (31) baru kemarin (29/4/2015) dieksekusi mati dengan 7 terpidana lainnya. Untuk tahu dari awal kisah penangkapan mereka, lihat di sini. Seharusnya ada 9 orang yang dieksekusi mati, tapi pada jam-jam terakhir Mari Jane lolos karena ada yang mengaku bahwa Mary Jane hanyalah pesuruh yang tidak tahu apa-apa. Hal ini diakui oleh Kristina Sergio. Beritanya lihat di sini. Sampai saat ini keputusan untuk Mary Jane masih ditangguhkan.

Sudah bertahun-tahun kasus Andrew Chan dkk ini menggantung. Selama proses itu, Andrew Chan dkk terus meminta pencabutan hukuman mati namun yang terakhir ditolak oleh Joko Widodo, sebagai presiden RI. Ini ekspresi 9 napi saat mendengar hukuman mati mereka. Selama bertahun-tahun pula, Andrew Chan kemudian mengalami perubahan hidup. Dia kemudian mengakui kesalahannya, bertobat, dan mengenal kasih Yesus. Berkat usaha orang-orang yang sering melayani mereka juga termasuk wanita yang pada akhirnya jadi istrinya, Febyanti Herewila, akhirnya Andrew Chan mengenal Yesus.

Proses pertobatan Andrew memakan waktu 10 tahun sampai hari eksekusinya. Ini yang pendetanya katakan soal dirinya. Setelah bertobat, Andrew Chan mengalami banyak perubahan. Dia bahkan membuka pusat rehabilitasi bagi para pecandu narkoba di Lapas Kerobokan. Hal ini diungkapkan oleh Juli, sahabat Andrew Chan.

Selain membuka pusat rehabilitasi, Andrew Chan bersama Myuran mengajar para napi di sana. Dia mengajarkan para napi tersebut bahasa Inggris, komputer, dan tenis. Bahkan menurut pengakuan Juli, ada napi yang berhasil bekerja di hotel karena mendapatkan keahlian dari Chan semasa di penjara. Myuran sendiri mengajar melukis dimana hasil lukisannya digunakan untuk membeli alat musik dan alat olahraga di lapas.

Yang lebih mengharukan adalah, ada seorang napi yang rela menggantikan Andrew Chan karena dia merasa Andrew Chan tidak layak menerima hukuman mati tersebut. Entah siapa napi tersebut, namun kerelaannya untuk bertukar nyawa dengan Andrew Chan seolah-olah membuktikan bahwa Andrew Chan adalah sosok yang benar-benar berbeda dan pantas untuk tetap hidup.

Beberapa bulan sebelum hari eksekusi, Andrew Chan bersama Malinda Rutter, membuat sebuah film dokumenter tentang kehidupan Andrew Chan. Inilah yang Malinda ceritakan. Chan sendiri mengaku di dalam film dokumenter itu bahwa hidupnya merupakan sebuah pelajaran penting tentang bagaimana menghidupi kehidupan dengan kesia-siaan. Dia tidak ingin generasi penerus melakukan hal serupa dirinya. Inilah yang mereka lakukan selama berada di tahanan. Ini dibuat hanya 2 bulan sebelum kematian mereka.




Inilah video tentang bagaimana keluarga napi memohon agar mereka tidak dihukum mati. Di video ini juga dijelaskan dengan lengkap apa yang mereka kerjakan di lapas, bagaimana mereka memberi dampak buat orang lain.

Andrew Chan juga bertekad untuk menjadi warga negara Indonesia jika hukumannya tidak jadi dilaksanakan. Karena dia ingin menebus kesalahannya dengan mengajarkan hal yang benar pada orang lain. Namun ternyata, hukum berkata lain. Setelah penentuan hari eksekusi tersebut. Para narapidana inipun kemudian menyampaikan permintaan yang dituliskan di sini :

Raheem Agbaje Salami
Permintaan : Organ tubuh didonorkan, minta dimakamkan di Madiun

Martin Anderson
Permintaan : Minta dimakamkan di Bekasi

Mary Jane
Permintaan : Dipulangkan dan dimakamkan di Filipina

Zainal Abidin
Permintaan : Dimakamkan di Nusa Kambangan

Myuran Sukumaran
Permintaan : Dipulangkan dan dimakamkan di Australia

Andrew Chan
Permintaan : Dinikahkan dengan pacarnya di Surabaya dan dimakamkan di Australia

Ada 3 anggota lainnya yang belum menyatakan apa permintaannya pada saat itu yaitu :
Sylvester Obiek
Okwudili Oyatanze
Rodrigo Gularte

Karena permintaan itulah, pada akhirnya Andrew pun menikah dengan Feby satu hari sebelum hari eksekusi. Inilah momen yang diceritakan oleh adiknya, Michael Chan. Selain itu, keluarga dekat mereka pun terus berdatangan.

Pada hari pelaksanaan, mereka pun menyanyikan lagu-lagu rohani. Ini Lagu yang Dinyanyikan di Detik-Detik Terakhir Kehidupan Mereka. Sebelum ditembak mati, mereka menolak dipasangkan penutup muka. Mereka berani menghadapi kematian karena tahu mereka akan diterima di surga. Mereka berdoa bersama keluarga, berpelukan, dan maju menghadapi kematian. Inilah yang terjadi pada saat kematian mereka :
Rest in Peace
You're all already with God
I know that you were in heaven, i'm sure

Monday, May 26, 2014

Saya Seorang Minoritas di Bangsa Ini

Saya memang seorang minoritas di bangsa ini, persis seperti Ahok namun saya wanita. Seorang wanita keturunan Tionghoa (sesuai dengan Kepres jaman SBY, kita mulai pake Tionghoa ya) dan juga seorang Kristen.
Sewaktu saya kecil (kayaknya sih waktu saya mau masuk SD), mama papa memutuskan untuk pindah rumah. Dulu saya dikelilingi oleh orang-orang Tionghoa. Namun sejak pindah, kami hanya satu-satunya keluarga keturunan Tionghoa. Di situlah saya tumbuh besar dengan pemahaman bahwa kami berbeda. Sampai sekarang saya bingung, napa saya dianggap beda.
Awal pindah, sungguh sangat susah. Saya yang masih kecil waktu itu masih ingat ketika rumah kami sering dilempari batu. Saat itu anak-anak kecil yang melakukannya akan berteriak, "Dasar China, China..." Tusukan tajam yang membuat saya bingung, kenapa saya bisa dianggap berbeda.
Kami juga sering kemalingan. Papa yang memelihara ikan, seringkali dicuri karena kolam ikannya berada tepat di sisi tembok. Seringkali orang-orang datang dan saya melihat papa memberi mereka uang. Tidak hanya ikan, seringkali orang datang dan mencuri apa saja yang kelihatan berharga untuk dijual.
Berteman pun tak mudah bagi saya. Sebenarnya, sewaktu kecil, perbedaan etnis itu tak terlalu mencolok. Saya berteman dengan baik sekali kepada beberapa orang. Ada beberapa orang lagi yang punya kelompok geng lain. Hal yang lumrah menurut saya. Namun semakin dewasa, teman-teman mulai menjauhi saya. Saya seringkali mengkhayalkan teman bermain dan bermain sendirian atau hanya bermain dengan adik laki-laki saya, yang puji Tuhan selalu mau menemani saya sekalipun yang dimainkan hanyalah permainan 'anak cewek'. Saya total tidak punya teman di rumah sejak saya kelas 6 SD.
Dari situ, saya mulai anti sosial. Pernah sekali karena tak ingin merepotkan papa yang sibuk, saya pergi ke sekolah sendirian. Untuk menghemat ongkos, saya pikir jalan kaki lebih baik daripada naik becak. Dari gang rumah ke depan hanya makan waktu 15 menit jalan kaki. Tapi di situ, kembali tusukan tajam melukai hati saya. "Eh Cino, ado wong Cino, ado wong Cino.(Eh China, ada orang China, ada orang China)" Hal itu membuat saya lebih jarang keluar rumah.
Saya juga jadi benci pada orang-orang yang datang ke rumah. Mereka kalau nggak ngajakin papa berjudi, maka mereka minta 'jatah'. Thx God-nya, saya tidak melihat ada perlakuan kasar.
Saya tumbuh dengan pemahaman bahwa saya berbeda, bahwa saya tidak bisa diterima orang lain di luar lingkungan saya. Hal itu membentuk saya hanya bergaul dengan orang-orang sesama saya. Jika tidak, akan terasa aneh. Di sekolah, saya punya banyak teman. Tapi di rumah, saya tiap hari hanya bermain sendiri.
****
Bertumbuh dewasa, di kota kelahiran saya, saya melihat bahwa memang perbedaan itu nyata. Apalagi ketika peristiwa Mei 1998 itu terjadi. Saat itu, umur saya baru saja mencapai 16 tahun, saya duduk di bangku 1 SMA. Soeharto dilengserkan. Awalnya, saya melihat kengerian saat Semanggi berubah menjadi medan perang di televisi.
Entah kenapa, pada akhirnya 'perang' itu merembet orang Tionghoa. Awalnya, toko-toko dirusak dan dijarah. Kemudian lama-kelamaan saya banyak mendengar berita tentang para wanita Tionghoa yang mengalami kasus pemerkosaan. Ada yang digilir oleh belasan orang, ada yang kemaluannya dimasukkan benda keras sampai rusak, ada yang disiksa dan diikat tanpa belas kasihan. Kalau Anda bertanya mengapa saya terang-terangan menceritakan hal itu, Anda bisa lihat bahwa saya ingin Anda turut merasakan apa yang saya rasakan. Ketakutan yang luar biasa, ngeri melihat manusia sudah berubah menjadi monster.
Di Palembang saya melihat semua toko Tionghoa dirusak dan tutup, toko yang masih utuh hanyalah toko yang bertuliskan nama "Pribumi". Setelah saya cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia, pribumi berarti pribumi /pri·bu·mi/ n penghuni asli; yg berasal dr tempat yg bersangkutan.
Helo, meskipun saya China, saya penghuni asli Palembang. Saya lahir di Palembang. Nenek moyang saya kebanyakan lahir dan besar di Indonesia ini. Kami memang berasal dari tempat ini. Kalau kami bukan pribumi, lantas siapakah kami?
Saya dan mama melarikan diri ke Bangka, tempat kakek dan nenek saya berada. Di Bangka, keadaannya tidak parah. Masyarakat di sana berbaur satu sama lain, tapi mulai tercium gelagat perpecahan. Saya dan mama sempat bingung, akan kemanakah kami jika nanti timbul perpecahan di Bangka? Kami tak punya uang banyak, tidak punya passport, tidak punya tempat persembunyian. Kami dalam keadaan bahaya di tanah kelahiran kami sendiri.
***
Mama juga pernah bercerita, pada tahun 1966 pun pernah terjadi kerusuhan yang serupa. Saya hitung-hitung, umur mama waktu itu baru 11 tahun. Mama bercerita bahwa banyak dari mereka juga tidak selamat. Yang beruntung, adalah mereka yang berhasil dibawa kabur Pemerintah China. Salah satunya adik kakek yang berhasil menyelamatkan diri ke sana. Saat itu, kuota orang yang dapat dibawa ke sana sangat terbatas.
Sebelum kakek nenek dan keluarga mereka bisa ke sana, pemerintah China menghentikan membawa orang Tionghoa keluar Indonesia setelah Indonesia berjanji untuk tidak pecah perang lagi. Cerita ini membuat saya berpikir, bahwa pada akhirnya mungkin mama saya akan menikah dengan orang lain dan bukan papa dan saya tidak akan lahir dan mengalami kejadian menakutkan itu.
Namun, saya salut pada mama. Beliau sudah dua kali mengalami penderitaan yang sedashyat ini, bagaimana Beliau dengan tabahnya mengajak saya untuk melarikan diri ke Bangka. Kejadian yang bahkan kalau sekarang saya ingat, saya suka menangis. Saya menangisi mereka yang tak berdosa tapi ternoda. Saya menangisi bangsa saya yang dari dulu mengajarkan Bhineka Tunggal Ika tapi justru menghancurkan kebhinekaan itu.
***
Setelah kejadian Mei 1998 itu, saya berpikir untuk meninggalkan bangsa ini. Saya harus sekolah, bekerja, dan kemudian pindah ke luar negeri. Seiring pengalaman saya yang mengiringi perjalanan hidup saya, saya menemukan bahwa saya mencintai bangsa ini. Saya mungkin ingin pergi melihat negeri orang, tapi saya ingin mati di tanah kelahiran saya.
Saya ingat bagaimana saya suka ikut Pramuka. Saya ingat pengalaman saya dalam memimpin upacara. Saya ingat betapa bangganya saya memberikan hormat saat bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Di tengah 'kemerosotan akhlak' sebagian orang, saya bangga menjadi warga negara Indonesia, yang saya dapatkan melalui 'ius sanguinis', yang berarti darah orangtua saya pun mengalir Indonesia. Bahkan jika Indonesia menganut sistem kewarganegaraan 'ius soli', saya yang lahir di Palembang pun akan menjadi warga negara Indonesia. Jadi, ini takdir saya menjadi bagian dari bangsa ini.
Saya sedih saat kekayaan bangsa ini dikeruk oleh negara asing. Saya kehilangan kata-kata saat melihat kelompok minoritas di bangsa ini ditindas. Padahal di dalam lambang negara kita, Garuda Pancasila mengalir deras. Kita boleh beda agama, kita boleh berbeda suku, ras, bahasa, budaya, latar belakang, namun kita harusnya SATU. Saya lebih sedih lagi seorang yang mengaku mayoritas tapi mengeruk harta dari kedudukannya, atau yang membuat keputusan yang berakibat ribuan orang tersiksa ; dibunuh dan diculik. Ada pula yang main hakim sendiri dan mengisyaratkan agamanya yang paling benar.
Sebenarnya, apakah itu minoritas ataupun mayoritas? Apakah kita terlalu peduli dia itu China atau bukan? Apakah dia lahir di Jawa ataupun Bali, dia orang Kalimantan ataupun Sulawesi? Kulitnya coklat, kuning langsat ataupun merah. Apakah itu semua penting? Lebih penting dari kekayaan negara kita? Apakah agama lebih penting daripada Tuhan? Negara kita negara kaya. Selain alamnya, negara ini kaya budaya. Jadi jangan ditukar semua itu dengan pertentangan hal-hal yang kita tahu bahwa kita semua banyak perbedaannya.
Saya memang seorang minoritas di bangsa ini, tapi saya bangga sebagai bagian dari bangsa ini. Saya yakin bahwa suatu hari nanti saya melihat bangsa ini diubahkan Tuhan menjadi bangsa yang penuh berkat. Tidak apa-apa jika saat ini masih banyak warga yang hanya melihat ketenaran sehingga bisa mendudukkan pejabat yang notabene heboh dengan pernikahan sirinya ke kursi DPR. Tidak apa-apa jika ada tersangka yang diduga sebagai pelaku kejahatan Mei 98 tapi dapat mencalonkan diri sebagai presiden. Tidak apa-apa jika koruptor dapat kembali mencalonkan dirinya untuk duduk di pemerintahan. Tidak apa-apa jika kita pernah memilih yang salah. Tapi masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas. Toh kebenaran seseorang akan bersinar, bagaimanapun dia ditutupi.
Akhir kata, kiranya kasih Allah yang melampaui segala pikiran memberikan kepada kita hikmat dan kebenaran dalam menjalani kehidupan sebagai seorang pribadi, seorang warga, seorang anggota keluarga, sebagai apa kita di dalam bangsa ini dengan bijaksana.

Wednesday, March 26, 2014

Pelajaran Hidup dari Pak Satpam di Kantorku

Namanya Pak Yunus D. Wanggai. Dia seorang satpam di kantor tempat aku bekerja. Aku baru mengetahuinya tadi siang kalau dia sudah meninggal dunia, karena ginjalnya bermasalah. Dia harus selalu cuci darah. Aku pernah melihatnya saat dia masih sehat. Dia kelihatan begitu gagah. Namun penyakit membuatnya lemah. Dia terlihat seperti kakek-kakek umur 70 tahun, badannya sangat kurus padahal dia baru berusia 40 tahun-an.
Ketika dia sudah sakit, dia masih harus bekerja. Dia memang ingin bekerja. Karena sakitnya, dia harus 2 minggu sekali cuci darah. Setiap kali cuci darah, uang banyak keluar. Dia bercerita banyak padaku, dengan sikap yang santai, seolah-olah itu hanyalah masalah sepele.
Kami berbincang-bincang suatu hari di depan kantor. Duduk di tangga marmer, aku bertanya dan dia bercerita. Dia bercerita bahwa penyakitnya ini bisa disembuhkan, tapi dia butuh ginjal yang tepat. Sampai saat itu, ginjal yang tepat itu belum ditemukan.
Di samping bercerita, Pak Yunus juga bertanya padaku. Apakah aku sudah punya pasangan? Di dalam hatiku langsung muncul pertanyaan seperti ini, "Bagaimana mungkin di tengah sakitnya, dia masih begitu perhatian kepada orang lain dan mampu melihat masalah orang lain?"
Aku pun bercerita padanya. Banyak hal yang kuceritakan dan dia betul-betul mendengarkanku. Perhatiannya dan kesederhanaannya dalam bertutur membuat aku terkesima. Dia mengerti apa yang kukatakan, dia benar-benar perwakilan Tuhan di dunia ini. Penuh belas kasihan dan peduli.
Satu hal yang dia pesankan kepadaku. Mungkin kata-katanya tak persis seperti ini. Namun dia pernah berkata, "Non, jangan pernah putus asa. Pasti dapet kok. Doa aja sama Tuhan. Memang susah-susah gampang tapi non pasti dapat."
Wow, berbicara dengannya sekitar 30 menit hari itu membuatku begitu bersyukur. Tuhan kirimkan malaikat-Nya untukku. Namun yang lebih berarti lagi, dia salah satu orang yang paling tidak egois yang pernah aku temukan. Itulah pertama kalinya aku berbincang dengan Pak Yunus secara mendalam. Itu juga yang menjadi perbincangan terakhir kami.
Tak lama setelah itu, dia tidak kelihatan lagi di kantor. Menurut kabar dia pulang ke kampungnya. Sampai akhirnya aku mendengar berita kematiannya ini. Semua yang ada di bawah matahari, tidak ada yang kekal. Namun pelajaran hidup yang dia bagikan akan terus melekat di hatiku.

Tuesday, January 21, 2014

Pertolongan Tuhan Tidak Pernah Terlambat

Suatu hari, keadaan keuangan Anggun begitu mendesak. Uang kost udah ditagih, setelah dua hari lamanya dari masa tenggat uang kost belum dibayar. Hari Minggu itu, Anggun menunggu transfer dari teman yang telah berjanji akan membayar uang hasil jasanya dari fotografi. Uang kostnya pun terpakai Rp 100.000 dalam pekerjaan itu sehingga dia kekurangan uang. Tunggu punya tunggu, Anggun tetap tidak dikirimin uang.
Dia mencoba cara lain, meminta temannya yang lain yang berhutang padanya.
"Ani, kalau bisa kirimin aku uang, hutangmu yang waktu itu dong, penting banget nih..."
"Aduh, Anggun, kok ga bilang dari tadi? Aku barusan dari ATM. Kamu kan tahu sendiri daerah di sini, ATM-nya jauh dan perlu satu jam untuk pergi ke sana."
Anggun pun menyadari hal itu dan dia mengerti mengapa Ani tak bisa mengirim uang itu pada saat dia butuhkan. Jadi dia pun tambah kebingungan.

***

Di tempat yang lain, pada waktu yang hampir bersamaan, Lisa baru saja selesai ibadah. Dia berniat mampir ke pernikahan temannya, Nani, meskipun terlambat. Sudah beberapa kali Nani bilang ke Lisa bahwa dia harus datang. Mungkin karena Nani bertemu dengan suaminya karena kegiatan yang diadakan oleh Lisa. Bahkan Nani mengirimkan undangan pernikahan itu khusus untuk Lisa. Lisa pun sudah berdandan, maksud hati biar langsung tampil oke sesampainya di pesta, sandal widges-nya yang cantik itu pun sudah dipakainya (cuit-cuitttt)
Namun, ternyata hujan deras mengguyur jalanan dengan derasnya, padahal Lisa ga bawa payung. Setengah jam kemudian, hujan pun menjadi rintik-rintik. Jam menunjukkan pukul 19.30 WIB, dia sudah terlambat setengah jam ke pernikahan Nani.
Lisa buru-buru ke tempat perhentian bus, menunggu bus yang menuju tempat pernikahan itu dilangsungkan. Setengah jam menunggu, ternyata bus nya tak juga datang. Lisa pun akhirnya membatalkan niatnya ke pernikahan Nani karena percuma saja. Sesampainya di sana, pesta pasti sudah bubar. Ternyata ada maksud Tuhan dari kejadian tersebut.

***
Penantian Anggun tak juga berbuahkan jawaban. Anggun yang duduk di kursi salah satu gerai toko itu hanya bisa termenung. Lama-kelamaan, air mata menetes di pipinya. Dia merasa saat itu berada pada titik yang paling rendah dalam hidupnya.
Uangnya hanya kurang Rp 100.000 untuk membayar kost, namun sepertinya tidak ada jalan keluar lagi. Temannya yang bekerjasama dengannya saat melakukan job itu pun tidak punya uang di banknya. Semua cara yang ditempuh Anggun mengalami jalan buntu.
Di tengah hujan yang mengguyur, air matanya pun membasahi pipinya. Namun nampaknya tidak seorang pun yang duduk di sana peduli. Anggun hanya menangis dalam diam. Berjam-jam menunggu janji yang tak pasti, Anggun pun akhirnya pulang. Dia menunggu bus yang akan membawanya pulang.
Sebelum pulang, Anggun sempat berdoa. "Tuhan, jikalau memang uang itu belum ada malam ini, maka jangan biarkan aku bertemu dengan pemilik kost." doa Anggun sungguh-sungguh. Dia malu bertemu pemilik kost karena tak mampu bayar uang sewa kamar.

***
Lisa berlari-lari menuju halte untuk menunggu bus yang lain yang akan membawanya pulang ke rumah. (Bukan rumah Bapa yang di surga ya, hehehhe). Lama ditunggu, busnya tidak datang-datang juga. Tapi apa daya, karena memang bus itu shuttle khusus pulang ke rumahnya dan satu-satunya, Lisa pun menunggu.
Singkat cerita, setelah sejam menunggu, bus shuttle itupun datang.
"Lisa..."
"Wah, bisa ketemuan di sini yaa, aku duduk di sebelahmu aja yaa"
Lisa pun langsung duduk di sebelah Anggun.
Dalam perjalanan, mereka bercerita tentang segala hal yang terjadi di dalam hidup mereka. Perjalanan satu setengah jam itu pun tak terasa.
Setelah sampai di terminal, Lisa dan Anggun masih harus melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor sekitar 10 menit lamanya. Lisa mengajak Anggun membonceng motornya, karena kebetulan saat itupun hujan masih terus turun meski hanya rintik-rintik.
Di situlah Anggun meminta pertolongan Lisa untuk meminjam uang Rp 100.000. Lalu, apa yang terjadi? Percaya atau tidak, di dompet Lisa sendiri tersisa Rp 100.000, uangnya pas untuk menolong Anggun.

***
Keesokan harinya, uang hasil jasanya Anggun sudah ditransfer (ingat, dia menunggu uang itu kemarin sore sampai malam hari), sehingga dia pun bisa membayarnya kembali kepada Lisa. Saat itu, Anggun bercerita bahwa kemarin dia mengalami kesulitan keuangan gara-gara uang Rp 100.000 saja. Bagaimana Anggun berusaha mencari jalan, namun tak ada jalan keluar.
"Mungkin bagi orang lain Rp 100.000 itu kecil, tapi bagi saya kemarin, saya begitu terpuruk. Saya berada di titik yang paling rendah. Saya sama sekali ga bisa bayar uang kost meski hanya kurang Rp 100 ribu," cerita Anggun kepada Lisa.
"Tapi ketika saya menyerah, Tuhan baru campur tangan. Seolah-olah Tuhan mau mengajarkan saya agar saya bergantung pada-Nya dan melihat bagaimana Dia bekerja," ujar Anggun kemudian. Memang pertolongan Tuhan tak pernah terlambat. Di saat Anggun begitu putus asa, Tuhan mengirimkan Lisa untuk membantunya.
Ini kisah nyata yang mengajarkan pada kita bahwa ada Tuhan yang bersama kita. Di saat masalah itu datang, berserah aja pada Tuhan. Mungkin kita sudah putus asa banget, ga tahu harus gimana, ga tahu harus ngapain, tapi jangan menyerah. Lihatlah, pertolongan Tuhan tak pernah terlambat. Apa yang ga kita pikirkan, itulah yang Tuhan sediakan. Kita akan terkagum-kagum dibuat-Nya.

Wednesday, September 22, 2010

Berenang Tanpa Kaki Tangan

Seorang pria Prancis berenang menyeberangi Channel selebar 33 km, Minggu. 16 tahun lalu ia kehilangan semua anggota tubuhnya dalam satu kecelakaan. Pria dua anak itu mengatakan ia adalah "orang paling bahagia".

Philippe Croizon (42), mantan pekerja, mengatakan ia telah mengukir prestasinya untuk memberi ilham kepada mereka "yang mengira hidup cuma penderitaan".

Ia berangkat dari Folkestone di Inggris selatan sebelum pukul 08:00 waktu setempat pada Sabtu, dan tiba di pantai Prancis, dekat Wissant, menjelang pukul 21:30 waktu setempat. Ia berenang dengan menggunakan kaki palsu yang dibuat seperti sirip.

Croizon, yang menyeimbangkan dirinya dengan memanfaatkan sisa tulang tangannya, mempertahankan kecepatan konstan sementara cuaca cerah. Ia ditemani oleh dua ikan lumba-lumba liar saat menyeberangi Channel, sepanjang 33 kilometer, kata tim pendukungnya.

"Untuk sejenak, saya tak menyadari apa yang telah saya kerjakan. Baru malam itu lah, ketika saya mau tidur, tiba-tiba saya tertawa, dan mengatakan kepada diri saya, `Kau berhasil!`," kata Croizon melalui telefon dari rumahnya di Prancis utara.

Pada 1994, Croizon terkena strum 20.000 volt, sewaktu ia berusaha memindahkan antena televisi dari satu atap rumah dan arus listrik menyentak dia dari satu tiang listrik di dekat rumah itu.

"Aku terbaring di ranjang rumah sakit, mereka baru saja memotong kaki terakhir saya. Anda dapat bayangkan bagaimana rasanya. Dan kemudian saya melihat dokumenter televisi mengenai seorang perempuan yang berenang menyeberangi Channel," ia menjelaskan.

"Saat itu lah saya bertanya kepada diri saya, `Mengapa bukan aku pada suatu hari?`," katanya.

Croizon berlatih selama dua tahun dan bulan Agustus menyelesaikan berenang selama 12 jam antara pelabuhan Noirmoutier dan Pronic di pantai Atlantik, Prancis, tapi upaya terakhirnya menyeberangi Channel jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan.

"Di satu titik, saya memberitahu diri saya, "Wih, pelan-pelan, kamu takkan pernah sampai ke sana, jika kau mempertahankan kecepatan ini`. Saya ingin pelan-pelan, tapi tak bisa. Motor beroperasi," katanya. Ditambahkannya, ia mulanya menduga bakal berada di laut selama 24 jam.

"Besar sekali. Saya berada di daerah itu. Saya berada di dalam kepala saya. Saya tak mau mengecewakan siapa pun," katanya. Ia menyatakan tantangan jarak jauhnya yang berikut ialah berenang antara Eropa dan Afrika.

Sumber : Antaranews.com tgl 20 September 2010

Friday, July 23, 2010

Pengantar Pizza Selamatkan Nyawa Seorang Pria


Tidak peduli seburuk apapun nasib yang menimpa kita, asalkan kita tetap bersyukur dan menerima kenyataan hidup, terus melaju dan terus melakukan perbuatan baik, tidak pernah berhenti berharap tanpa pernah menyerah, suatu hari nanti pasti kita akan mendapatkan kebaikan. Inilah yang terjadi dengan seorang pria di Denver.
Pria ini harus mengalami pengalaman pahit karena menjadi salah seorang staf paramedis yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Kemudian dia pindah dari Illionis ke Colorado dan beralih menjadi pengantar pizza untuk mencari nafkah. Pria ini bernama Christopher Wuebben yang saat ini berumur 22 tahun.
Peristiwa itu terjadi pada akhir pekan lalu tepat saat pengantar pizza tersebut sampai di pintu tempat tinggal pria yang sangat memerlukan pertolongan itu. Wuebben sedang mengantar pizza ke George Linn tinggal di pinggir kota Denver, saat dia mendengar istri Linn berteriak minta tolong, menurut keterangan bos Wuebben, John Keiley.
“Chris memberi tahu perempuan itu bahwa dia dilatih dalam CPR dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Ia meletakkan pria tersebut di lantai dan menyelamatkan nyawanya sebelum petugas pemadam muncul.” Kata Keiley, pemilik Johnny’s New York Pizza. Jantung George Linn sempat berhenti berdenyut mendadak sebelum akhirnya diselamatkan oleh Wuebben.
Keiley mengatakan bahwa Wuebben yang merupakan veteran militer itu sebenarnya belum dijadwalkan bekerja di restoran pizza tersebut sampai akhir pekan, tapi memang inilah kebaikan Tuhan terhadap Wuebben. Dia dapat bekerja lebih awal dan akhirnya dapat menyelamatkan seseorang sekaligus dapat membangkitkan kembali karir medisnya.
Keiley mungkin takkan lama bisa memberi pekerjaan kepada pegawai barunya itu. Belum lama ini satu departemen pemadam dan satu rumah sakit setempat telah menghubungi Wuebben untuk menawarkan dia pekerjaan di bidang yang dia mau setelah mereka mendengar kisah kepahlawanannya.
Meskipun dia mungkin kehilangan karyawan barunya tersebut, namun dia tetap memberikan dukungan. “Dia adalah anak baik yang tak peduli mengenai apa yang dia kerjakan dan diharap ini akan berhasil buat dia,” kata Keiley. Kiranya kita juga menanamkan perbuatan baik kemanapun kita pergi.

Worship is Your Lifestyle

Kata-kata itulah yang bergema di otakku hari ini. Dikisahkan seorang remaja putri yang baru berusia belasan tahun, telah melakukan 15x aborsi. Yang lebih parah adalah dia adalah pelayan Tuhan. Tiap minggu melayani singer, usher, dan rajin beribadah. Namun, dia sudah melakukan sebanyak itu aborsi....Matanya pun menatap kosong tanpa harapan.
Wow, aku tidak bisa berkata-kata lagi....
Dia bertemu dengan pendeta ini. Pendeta Andy Cokro. Beliau bingung apa yang harus dikatakan kepada anak ini. Jika berkotbah tentang kebaikan Tuhan dan pengampunan Tuhan, dia sudah sering mendengarnya tiap minggu dan tidak akan berpengaruh apa-apa padanya. Di sanalah, kemudian remaja ini diminta untuk melakukan penyembahan.
Saat dia mulai menyembah, di situlah hadirat Tuhan dia rasakan kemudian. Dia menyembah dan menyembah dan dia merasakan pelukan tangan yang kuat. Tangan itu bukan tangan papanya yang selalu melakukan kekerasan kepada dirinya, bukan juga tangan pria-pria yang hanya menginginkan tubuhnya, tapi tangan itu adalah tangan yang penuh kasih yang memberikan kekuatan dan kasih yang luar biasa dalam hidupnya.
Ketika kita merasakan kehidupan begitu menghimpit kita, masalah kita datang menyerang membabi buta, tidak ada lagi kekuatan dalam diri kita, mulailah tiap hari menyembah Tuhan. Menyembah bukan berarti di gereja saja. Ketika Anda di rumah, di mobil, di tempat kerjaan, di sekolah, di kampus, di mall, di parkiran, di setiap sudut kota, di semua tempat Anda dapat menyembah Tuhan.
Sejak saat itu, remaja ini diubahkan. Dia bersungguh-sungguh dalam melayani Tuhan dan telah menumbuhkan komunitas 40 orang yang pernah melakukan aborsi dan bertobat. Mereka menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Tidak hanya itu saja. Remaja ini kemudian mendapatkan beasiswa di Amerika. Suatu hari, pastor di sana menelepon Pastor Andy dan mengatakan, "Thank you that you send this little crazy girl..." Remaja itu bersemangat sekali dalam memberitakan kasih Yesus sehingga 2000 orang yang pernah melakukan aborsi ataupun orang yang pernah kepahitan karena akan diaborsi, diselamatkan oleh kesaksiannya.
Wooooowwwwww, di sini saya tidak bisa berkata-kata, tapi air mata keluar...Wooowwww, that's an amazing story.
Mulai hari ini, aku ingin selalu menyembah Tuhan dimanapun. Tidak ada lagi istilah worship mode on, worship mode off, tapi 24 hours mode on. Mulai hari ini, aku ingin seperti Daud yang menyembah Tuhan setiap saat dan untuk itulah Tuhan selalu menyebutkan perilaku raja-raja Israel dan Yehuda yang tidak seperti Daud.