Tuesday, October 18, 2016

Ini Kisah Bagaimana Pernikahan yang Hampir Hancur Dapat Diselamatkan

Aku nangis abis baca kisah ini, kisah ini dibuat oleh seorang pria Amerika bernama Richard Paul Evans, yang bergumul di dalam pernikahannya yang sudah hampir di ambang kehancuran. Ketika aku baca artikel ini, aku ngerasa ada hal yang penting di dalam sebuah pernikahan yaitu menempatkan ego pribadi untuk kepentingan bersama. Nah, setuju atau nggak, coba baca aja deh.



"Anak tertua saya, Jenna, baru-baru ini mengatakan kepada saya, "Ketakutan terbesar saya dalam menjadi anak adalah bahwa papa dan mama akan bercerai. Lalu, ketika saya berumur 12 tahun, saya memutuskan bahwa itu memang langkah yang lebih baik," Lalu dia menambahkan dengan senyuman, "Saya senang bahwa kalian berdua mampu mengatasi kesulitan itu."

Selama bertahun-tahun, istri saya Keri dan saya bergumul. Melihat ke belakang, saya tidak tahu persis apa yang membuat kami bersatu, padahal kepribadian kami sangat jauh berbeda. Mendapatkan 'ketenaran dan kekayaan' tidak membuat pernikahan kami jauh lebih mudah. Kenyataannya, malah memperburuk persoalan kami.

Tensi di antara kami sangat buruk sehingga pergi keluar rumah merupakan sebuah kelegaan, namun sepertinya setelah itu kami harus 'membayarnya' lagi. Pertengkaran kami menjadi konstan sehingga sulit membayangkan kedamaian dalam hubungan. Kami menjadi mempertahankan diri masing-masing, membangun benteng-benteng emosi di hati kami. Kami di ujung perceraian dan lebih dari sekali kami telah mendiskusikannya.

Saya sedang dalam perjalanan ketika sesuatu muncul di kepala. Kami baru saja bertengkar hebat di telepon dan Keri memutuskan telepon. Saya merasa sendirian dan kesepian, frustasi dan marah. Saya sudah mencapai batas saya Itu ketika saya datang ke Tuhan. Atau 'menyalakan` Tuhan. Saya tidak tahu jika Anda mungkin menyebutnya sebagai doa - mungkin berteriak kepada Tuhan bukanlah doa, mungkin itu adalah - tapi apapun yang saya rasakan waktu itu tidak akan pernah saya lupakan.

Saya sedang berdiri di bawah pancuran air di Buckhead, Atlanta Ritz Carlton sambil berteriak kepada Tuhan atas pernikahan yang salah dan saya tidak bisa lagi melakukannya. Meskipun saya membenci ide perceraian namun rasa sakit saat bersama sudah terlalu besar. Saya juga bingung. Saya tidak bisa mengerti mengapa pernikahan dengan Keri begitu berat. Saya adalah seorang yang baik. Mengapa kami tidak bisa bersama? Mengapa saya menikah dengan seseorang yang begitu berbeda dengan saya? Mengapa dia tidak berubah?

Sampai akhirnya, serak dan patah, saya duduk di pancuran dan mulai menangis. Di tengah keputusasaan saya terdalam, sebuah inspirasi datang kepada saya. "Kamu tidak bisa mengubahnya, Rick. kamu hanya bisa mengubah dirimu sendiri."

Saat itu juga saya mulai berdoa. "Tuhan, kalau begitu ubahlah saya."

Saya berdoa sampai larut malam. Saya berdoa keesokan harinya dalam perjalanan saya pulang. Saya berdoa ketika saya membuka pintu dan bertemu dengan istri yang begitu 'dingin' yang bahkan tak mempedulikan saya. Malam itu, saat kami berbaring di kamar tidur kami, sebuah inspirasi datang. Saya tahu apa yang harus saya lakukan.

Keesokan harinya, saya berguling di ranjang ke sebelah Keri dan bertanya, "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

Keri melihat saya dengan rasa marah. "Apa?"

"Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

"Kamu tidak bisa," katanya. "Mengapa kamu bertanya itu?"

"Karena saya sungguh-sungguh." jawab saya. "Saya hanya ingin tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membuat harimu lebih baik."

Dia memandang sinis kepada saya, "Engkau ingin melakukan sesuatu? Pergilah membersihkan dapur." Lalu dia sepertinya mengharapkan saya marah.

Namun saya hanya mengangguk. "Oke." Saya bangun dan membersihkan dapur.

Keesokan harinya, saya bertanya hal yang sama. ""Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

Matanya menyipit. "Bersihkan garasi."

Saya mengambil nafas panjang. Saya sebenarnya sudah menghadapi hari yang sibuk dan saya tahu bahwa permintaannya itu dia buat seenaknya. Saya tertantang untuk mengamuk, namun saya hanya berkata, "Oke."

Saya bangun dan untuk dua jam ke depan saya membersihkan garasi. Keri tidak tahu harus berpikir bagaimana.

Keesokan harinya datang. "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

"Tidak ada!" katanya. "Kamu tidak bisa melakukan apa-apa. Hentikan ucapan itu."

"Saya minta maaf." kata saya. "Tapi saya tidak bisa. Saya sudah membuat komitmen kepada diri saya sendiri. Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

"Mengapa kamu melakukan ini?"

"Karena saya peduli padamu," kata saya lagi. "dan pada pernikahan kita,"

Hari berikutnya saya tanyakan lagi dan begitu juga hari berikutnya, dan berikutnya. Lalu, selama minggu kedua, sebuah mujizat terjadi. Saat saya menanyakan pertanyaan tersebut, mata Keri dipenuhi dengan air mata. Lalu dia menangis. Ketika dia bisa bicara dia berkata," Tolong hentikan menanyakan hal itu. Bukan kamu masalahnya. Tapi aku. Aku susah diajak hidup bersama. Aku tidak mengerti mengapa kamu masih bersamaku."

Dengan lembut saya mengangkat dagunya sampai dia melihat mata saya. "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu."

"Kamu harus." kata saya. "Tapi tidak sekarang. Saat ini, saya yang harus berubah. Kamu harus tahu betapa berartinya kamu bagiku."

Dia menaruh kepalanya di dada saya. "Saya minta maaf sudah begitu kasar."

"Saya mencintaimu." kata saya.

"Saya mencintaimu." balasnya.

"Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

Dia melihat mata saya dengan manis, "Bisakah kita mungkin menghabiskan waktu bersama-sama?"

Saya tersenyum. "Saya suka itu."

Saya terus bertanya hal yang sama selama lebih dari sebulan. Dan keadaan memang berubah. Pertengkaran berhenti. Lalu Keri mulai bertanya, "Apa yang kamu butuhkan dariku? Bagaimana saya bisa menjadi istri yang lebih baik?"

Tembok-tembok di antara kami mulai runtuh. Kami mulai mempunyai diskusi yang bermakna tentang apa yang kami inginkan dalam hidup dan bagaimana kami bisa membuat satu sama lain lebih bahagia. Tidak, kami tidak bisa menyelesaikan semua masalah kami. Saya bahkan tidak bisa berkata bahwa kami tidak pernah bertengkar lagi. Namun pertengkaran kami tidak sama seperti dulu lagi.

Bukan hanya makin hari makin berkurang, pertengkaran itu tidak lagi punya energi. Kami menghilangkannya bersama udara. Kami hanya tidak punya hati untuk menyakiti satu sama lain lagi.

Saat ini Keri dan saya sudah menikah lebih dari 30 tahun. Saya tidak hanya mencintai istri saya, saya menyukainya. Saya suka saat bersamanya. Saya lapar akan dia. Saya butuh dia. Banyak perbedaan kami menjadi kekuatan dan perbedaan lainnya jadi tidak begitu penting. Kami belajar bagaimana menjaga satu sama lain dan yang paling penting, kami meraih hasrat untuk melakukannya.

Pernikahan itu keras. Namun begitu juga dengan menjadi orangtua, tetap sehat, menulis buku, dan hal lain yang penting dalam hidup saya. Untuk memiliki pasangan hidup adalah hadiah yang begitu berharga. Saya juga belajar bahwa institusi pernikahan bisa memulihkan kita di tempat yang paling membutuhkan. Dan kita semua punya tempat seperti itu.

Berjalannya waktu saya belajar bahwa pengalaman kita adalah ilustrasi pengetahuan yang lebih besar tentang pernikahan. Pertanyaan yang harus ditanyakan di dalam komitmen pernikahan yang signifikan adalah "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

Itulah cinta. Novel romantis (dan saya sudah menulis beberapa) adalah tentang hasrat dan bahagia sampai akhir, namun bahagia sampai akhir tidak datang dari hasrat - setidaknya tidak dalam bayangan potret keromantisan yang ditawarkan.

Cinta sejati bukan karena menginginkan seseorang, namun hasrat untuk kebahagiaan mereka - kadang, bahkan, kebahagiaan kita sendiri dikorbankan. Cinta sejati tidak membuat satu sama lain jadi serupa. Cinta sejati akan memperbesar kapasitas kita untuk bertoleransi dan peduli, untuk secara aktif mencari kebahagiaan pasangan.

"Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"

sumber : brightside.me

No comments:

Post a Comment