Tuesday, January 21, 2014

Pertolongan Tuhan Tidak Pernah Terlambat

Suatu hari, keadaan keuangan Anggun begitu mendesak. Uang kost udah ditagih, setelah dua hari lamanya dari masa tenggat uang kost belum dibayar. Hari Minggu itu, Anggun menunggu transfer dari teman yang telah berjanji akan membayar uang hasil jasanya dari fotografi. Uang kostnya pun terpakai Rp 100.000 dalam pekerjaan itu sehingga dia kekurangan uang. Tunggu punya tunggu, Anggun tetap tidak dikirimin uang.
Dia mencoba cara lain, meminta temannya yang lain yang berhutang padanya.
"Ani, kalau bisa kirimin aku uang, hutangmu yang waktu itu dong, penting banget nih..."
"Aduh, Anggun, kok ga bilang dari tadi? Aku barusan dari ATM. Kamu kan tahu sendiri daerah di sini, ATM-nya jauh dan perlu satu jam untuk pergi ke sana."
Anggun pun menyadari hal itu dan dia mengerti mengapa Ani tak bisa mengirim uang itu pada saat dia butuhkan. Jadi dia pun tambah kebingungan.

***

Di tempat yang lain, pada waktu yang hampir bersamaan, Lisa baru saja selesai ibadah. Dia berniat mampir ke pernikahan temannya, Nani, meskipun terlambat. Sudah beberapa kali Nani bilang ke Lisa bahwa dia harus datang. Mungkin karena Nani bertemu dengan suaminya karena kegiatan yang diadakan oleh Lisa. Bahkan Nani mengirimkan undangan pernikahan itu khusus untuk Lisa. Lisa pun sudah berdandan, maksud hati biar langsung tampil oke sesampainya di pesta, sandal widges-nya yang cantik itu pun sudah dipakainya (cuit-cuitttt)
Namun, ternyata hujan deras mengguyur jalanan dengan derasnya, padahal Lisa ga bawa payung. Setengah jam kemudian, hujan pun menjadi rintik-rintik. Jam menunjukkan pukul 19.30 WIB, dia sudah terlambat setengah jam ke pernikahan Nani.
Lisa buru-buru ke tempat perhentian bus, menunggu bus yang menuju tempat pernikahan itu dilangsungkan. Setengah jam menunggu, ternyata bus nya tak juga datang. Lisa pun akhirnya membatalkan niatnya ke pernikahan Nani karena percuma saja. Sesampainya di sana, pesta pasti sudah bubar. Ternyata ada maksud Tuhan dari kejadian tersebut.

***
Penantian Anggun tak juga berbuahkan jawaban. Anggun yang duduk di kursi salah satu gerai toko itu hanya bisa termenung. Lama-kelamaan, air mata menetes di pipinya. Dia merasa saat itu berada pada titik yang paling rendah dalam hidupnya.
Uangnya hanya kurang Rp 100.000 untuk membayar kost, namun sepertinya tidak ada jalan keluar lagi. Temannya yang bekerjasama dengannya saat melakukan job itu pun tidak punya uang di banknya. Semua cara yang ditempuh Anggun mengalami jalan buntu.
Di tengah hujan yang mengguyur, air matanya pun membasahi pipinya. Namun nampaknya tidak seorang pun yang duduk di sana peduli. Anggun hanya menangis dalam diam. Berjam-jam menunggu janji yang tak pasti, Anggun pun akhirnya pulang. Dia menunggu bus yang akan membawanya pulang.
Sebelum pulang, Anggun sempat berdoa. "Tuhan, jikalau memang uang itu belum ada malam ini, maka jangan biarkan aku bertemu dengan pemilik kost." doa Anggun sungguh-sungguh. Dia malu bertemu pemilik kost karena tak mampu bayar uang sewa kamar.

***
Lisa berlari-lari menuju halte untuk menunggu bus yang lain yang akan membawanya pulang ke rumah. (Bukan rumah Bapa yang di surga ya, hehehhe). Lama ditunggu, busnya tidak datang-datang juga. Tapi apa daya, karena memang bus itu shuttle khusus pulang ke rumahnya dan satu-satunya, Lisa pun menunggu.
Singkat cerita, setelah sejam menunggu, bus shuttle itupun datang.
"Lisa..."
"Wah, bisa ketemuan di sini yaa, aku duduk di sebelahmu aja yaa"
Lisa pun langsung duduk di sebelah Anggun.
Dalam perjalanan, mereka bercerita tentang segala hal yang terjadi di dalam hidup mereka. Perjalanan satu setengah jam itu pun tak terasa.
Setelah sampai di terminal, Lisa dan Anggun masih harus melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor sekitar 10 menit lamanya. Lisa mengajak Anggun membonceng motornya, karena kebetulan saat itupun hujan masih terus turun meski hanya rintik-rintik.
Di situlah Anggun meminta pertolongan Lisa untuk meminjam uang Rp 100.000. Lalu, apa yang terjadi? Percaya atau tidak, di dompet Lisa sendiri tersisa Rp 100.000, uangnya pas untuk menolong Anggun.

***
Keesokan harinya, uang hasil jasanya Anggun sudah ditransfer (ingat, dia menunggu uang itu kemarin sore sampai malam hari), sehingga dia pun bisa membayarnya kembali kepada Lisa. Saat itu, Anggun bercerita bahwa kemarin dia mengalami kesulitan keuangan gara-gara uang Rp 100.000 saja. Bagaimana Anggun berusaha mencari jalan, namun tak ada jalan keluar.
"Mungkin bagi orang lain Rp 100.000 itu kecil, tapi bagi saya kemarin, saya begitu terpuruk. Saya berada di titik yang paling rendah. Saya sama sekali ga bisa bayar uang kost meski hanya kurang Rp 100 ribu," cerita Anggun kepada Lisa.
"Tapi ketika saya menyerah, Tuhan baru campur tangan. Seolah-olah Tuhan mau mengajarkan saya agar saya bergantung pada-Nya dan melihat bagaimana Dia bekerja," ujar Anggun kemudian. Memang pertolongan Tuhan tak pernah terlambat. Di saat Anggun begitu putus asa, Tuhan mengirimkan Lisa untuk membantunya.
Ini kisah nyata yang mengajarkan pada kita bahwa ada Tuhan yang bersama kita. Di saat masalah itu datang, berserah aja pada Tuhan. Mungkin kita sudah putus asa banget, ga tahu harus gimana, ga tahu harus ngapain, tapi jangan menyerah. Lihatlah, pertolongan Tuhan tak pernah terlambat. Apa yang ga kita pikirkan, itulah yang Tuhan sediakan. Kita akan terkagum-kagum dibuat-Nya.

No comments:

Post a Comment