Thursday, April 20, 2017

Cinta Monyet

source : google
Jaman sekarang anak-anak lebih terbuka ya. Klo aku dulu mah, cinta monyet dari kelas 6 SD tapi diem-diem aja, ga berani ngomong. Jangankan ngomong ke keluarga, ngomong ke sobat sendiripun nggak. Ya maklum aja, pemalu banget aku orangnya.

Ga begitu dengan sepupuku yang masih duduk di kelas 3 SD. Sepupuku yang masih kecil itu, suatu hari cerita kalo ada yang dia suka. Dia bahkan udah tanya ke gurunya dan kata gurunya hal itu wajar-wajar aja. Jadi sering dia ngeliat diem-diem gitu.ke arah cowok yang dia suka Kalo malem (ini ceritanya ya), dia bakal bayangin apa yg terjadi siang harinya termasuk pertemuan dengan someone special tersebut.

Lalu ada cerita lain lagi. Baru beberapa lama perjalanan setelah menjemputku dan mama dari bandara, dua keponakanku yang merupakan kakak adik saling menuding satu sama lain sudah suka sama seseorang, bahkan ada yang manggil "mami" ke ortu orang yang dia sukai ini. Mereka bicara gitu di hadapan papa mamanya, tantenya yaitu aku, dan juga di depan neneknya. Nampaknya hal yang begitu wajar.

Malam berikutnya, keponakanku yang cowok cerita tentang orang yang disukainya. Dengan polos, dia bercerita bahwa sudah dua kali dia duduk sebangku dengan cewek ini. Lantas aku tanya aja, "Emang guru boleh?"

"Boleh, bahkan guru yang atur supaya aku duduk sebangku dengan dia," begitu jawabnya.

Hal ini bisa terjadi karena di sekolahnya setiap seminggu sekali ada pergantian teman sebangku. Kalo dulu perasaanku, kita boleh di bangku mana aja dan milih dengan siapa kita mau duduk sebangku deh jadi ga pindah-pindah, sebangku terus dengan teman yang kita suka. Yang pasti, kalo udah gitu, aku ga bakalan mau sebangku dengan orabg yang kusuka. Soalnya rasanya ga karuan pasti rasanya, bisa-bisa ga konsen belajar deh.

Makanya lalu kutanya apakah dia konsen saat duduk sebangku dengan orang yang dia suka. Keponakanku langsung menjawab "Tidak."

Ya terang aja...

Hahahahha

Penasaran, malam berikutnya aku tanya dia lagi. Emang kenapa dia suka sama cewek ini? Menurutnya, karena dia sangat cantik. Hmmm, emang secantik apa ya? Sekarang ini, banyak anak-anak yang emang cantik atau cakep dan menggemaskan.

Tapi itu memang masalah hati, cantiknya menurut keponakanku ini belum tentu cantik bagi orang lain. Namun, aku jadi mengerti juga sedikit banyak mengapa cinta monyet itu ada.

Menurut aku, itulah pertanda bagaimana seseorang bisa dianggap normal, karena hormon yang ada di dalam tubuhnya bekerja sesuai dengan yang Tuhan rancangkan. Meskipun saat ini, LGBT sudah dianggap lumrah, namun tidak menurut kodrat sejatinya manusia.

Jadi, wajar-wajar aja kalau sejak kecil kita sudah punya perasaan suka terhadap lawan jenis. Namun, jika perasaan suka itu ada untuk sesama jenis, maka kita perlu berhati-hati. Jika kita tanyakan pada anak kita (aku sendiri sih belum punya) tentang cinta monyetnya, jika dia tak mau cerita apa-apa. Berhati-hatilah terhadap dua kemungkinan yang ada di dalam pikiranku ini. Yang pertama, dia memang tidak menyukai lawan jenis. Yang kedua, dia tidak cukup percaya kepada kita untuk menceritakan cinta monyetnya ini, termasuk ketika tidak mau cerita pada kita karena takut dilarang.

Karena itu, jika anak-anak bisa cerita seperti itu, karena dia percaya pada kita dan dia yakin bahwa hal itu wajar adanya. Jadi, jangan melarang anak untuk jatuh cinta. Lama-kelamaan cinta monyet itu pasti akan berlalu kok. Bukankah kita sendiri tahu bagaimana akhirnya? Hanya untuk dikenang. Meski mungkin, dalam kejadian langka, ada juga sih yang malah jadi suami istri berkat cinta monyet.




No comments:

Post a Comment