Aku nangis abis baca kisah ini, kisah ini dibuat oleh seorang pria Amerika bernama Richard Paul Evans, yang bergumul di dalam pernikahannya yang sudah hampir di ambang kehancuran. Ketika aku baca artikel ini, aku ngerasa ada hal yang penting di dalam sebuah pernikahan yaitu menempatkan ego pribadi untuk kepentingan bersama. Nah, setuju atau nggak, coba baca aja deh.
"Anak tertua saya, Jenna, baru-baru ini mengatakan kepada saya, "Ketakutan terbesar saya dalam menjadi anak adalah bahwa papa dan mama akan bercerai. Lalu, ketika saya berumur 12 tahun, saya memutuskan bahwa itu memang langkah yang lebih baik," Lalu dia menambahkan dengan senyuman, "Saya senang bahwa kalian berdua mampu mengatasi kesulitan itu."
Selama bertahun-tahun, istri saya Keri dan saya bergumul. Melihat ke belakang, saya tidak tahu persis apa yang membuat kami bersatu, padahal kepribadian kami sangat jauh berbeda. Mendapatkan 'ketenaran dan kekayaan' tidak membuat pernikahan kami jauh lebih mudah. Kenyataannya, malah memperburuk persoalan kami.
Tensi di antara kami sangat buruk sehingga pergi keluar rumah merupakan sebuah kelegaan, namun sepertinya setelah itu kami harus 'membayarnya' lagi. Pertengkaran kami menjadi konstan sehingga sulit membayangkan kedamaian dalam hubungan. Kami menjadi mempertahankan diri masing-masing, membangun benteng-benteng emosi di hati kami. Kami di ujung perceraian dan lebih dari sekali kami telah mendiskusikannya.
Saya sedang dalam perjalanan ketika sesuatu muncul di kepala. Kami baru saja bertengkar hebat di telepon dan Keri memutuskan telepon. Saya merasa sendirian dan kesepian, frustasi dan marah. Saya sudah mencapai batas saya Itu ketika saya datang ke Tuhan. Atau 'menyalakan` Tuhan. Saya tidak tahu jika Anda mungkin menyebutnya sebagai doa - mungkin berteriak kepada Tuhan bukanlah doa, mungkin itu adalah - tapi apapun yang saya rasakan waktu itu tidak akan pernah saya lupakan.
Saya sedang berdiri di bawah pancuran air di Buckhead, Atlanta Ritz Carlton sambil berteriak kepada Tuhan atas pernikahan yang salah dan saya tidak bisa lagi melakukannya. Meskipun saya membenci ide perceraian namun rasa sakit saat bersama sudah terlalu besar. Saya juga bingung. Saya tidak bisa mengerti mengapa pernikahan dengan Keri begitu berat. Saya adalah seorang yang baik. Mengapa kami tidak bisa bersama? Mengapa saya menikah dengan seseorang yang begitu berbeda dengan saya? Mengapa dia tidak berubah?
Sampai akhirnya, serak dan patah, saya duduk di pancuran dan mulai menangis. Di tengah keputusasaan saya terdalam, sebuah inspirasi datang kepada saya. "Kamu tidak bisa mengubahnya, Rick. kamu hanya bisa mengubah dirimu sendiri."
Saat itu juga saya mulai berdoa. "Tuhan, kalau begitu ubahlah saya."
Saya berdoa sampai larut malam. Saya berdoa keesokan harinya dalam perjalanan saya pulang. Saya berdoa ketika saya membuka pintu dan bertemu dengan istri yang begitu 'dingin' yang bahkan tak mempedulikan saya. Malam itu, saat kami berbaring di kamar tidur kami, sebuah inspirasi datang. Saya tahu apa yang harus saya lakukan.
Keesokan harinya, saya berguling di ranjang ke sebelah Keri dan bertanya, "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"
Keri melihat saya dengan rasa marah. "Apa?"
"Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"
"Kamu tidak bisa," katanya. "Mengapa kamu bertanya itu?"
"Karena saya sungguh-sungguh." jawab saya. "Saya hanya ingin tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membuat harimu lebih baik."
Dia memandang sinis kepada saya, "Engkau ingin melakukan sesuatu? Pergilah membersihkan dapur." Lalu dia sepertinya mengharapkan saya marah.
Namun saya hanya mengangguk. "Oke." Saya bangun dan membersihkan dapur.
Keesokan harinya, saya bertanya hal yang sama. ""Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"
Matanya menyipit. "Bersihkan garasi."
Saya mengambil nafas panjang. Saya sebenarnya sudah menghadapi hari yang sibuk dan saya tahu bahwa permintaannya itu dia buat seenaknya. Saya tertantang untuk mengamuk, namun saya hanya berkata, "Oke."
Saya bangun dan untuk dua jam ke depan saya membersihkan garasi. Keri tidak tahu harus berpikir bagaimana.
Keesokan harinya datang. "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"
"Tidak ada!" katanya. "Kamu tidak bisa melakukan apa-apa. Hentikan ucapan itu."
"Saya minta maaf." kata saya. "Tapi saya tidak bisa. Saya sudah membuat komitmen kepada diri saya sendiri. Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"
"Mengapa kamu melakukan ini?"
"Karena saya peduli padamu," kata saya lagi. "dan pada pernikahan kita,"
Hari berikutnya saya tanyakan lagi dan begitu juga hari berikutnya, dan berikutnya. Lalu, selama minggu kedua, sebuah mujizat terjadi. Saat saya menanyakan pertanyaan tersebut, mata Keri dipenuhi dengan air mata. Lalu dia menangis. Ketika dia bisa bicara dia berkata," Tolong hentikan menanyakan hal itu. Bukan kamu masalahnya. Tapi aku. Aku susah diajak hidup bersama. Aku tidak mengerti mengapa kamu masih bersamaku."
Dengan lembut saya mengangkat dagunya sampai dia melihat mata saya. "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"
"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu."
"Kamu harus." kata saya. "Tapi tidak sekarang. Saat ini, saya yang harus berubah. Kamu harus tahu betapa berartinya kamu bagiku."
Dia menaruh kepalanya di dada saya. "Saya minta maaf sudah begitu kasar."
"Saya mencintaimu." kata saya.
"Saya mencintaimu." balasnya.
"Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"
Dia melihat mata saya dengan manis, "Bisakah kita mungkin menghabiskan waktu bersama-sama?"
Saya tersenyum. "Saya suka itu."
Saya terus bertanya hal yang sama selama lebih dari sebulan. Dan keadaan memang berubah. Pertengkaran berhenti. Lalu Keri mulai bertanya, "Apa yang kamu butuhkan dariku? Bagaimana saya bisa menjadi istri yang lebih baik?"
Tembok-tembok di antara kami mulai runtuh. Kami mulai mempunyai diskusi yang bermakna tentang apa yang kami inginkan dalam hidup dan bagaimana kami bisa membuat satu sama lain lebih bahagia. Tidak, kami tidak bisa menyelesaikan semua masalah kami. Saya bahkan tidak bisa berkata bahwa kami tidak pernah bertengkar lagi. Namun pertengkaran kami tidak sama seperti dulu lagi.
Bukan hanya makin hari makin berkurang, pertengkaran itu tidak lagi punya energi. Kami menghilangkannya bersama udara. Kami hanya tidak punya hati untuk menyakiti satu sama lain lagi.
Saat ini Keri dan saya sudah menikah lebih dari 30 tahun. Saya tidak hanya mencintai istri saya, saya menyukainya. Saya suka saat bersamanya. Saya lapar akan dia. Saya butuh dia. Banyak perbedaan kami menjadi kekuatan dan perbedaan lainnya jadi tidak begitu penting. Kami belajar bagaimana menjaga satu sama lain dan yang paling penting, kami meraih hasrat untuk melakukannya.
Pernikahan itu keras. Namun begitu juga dengan menjadi orangtua, tetap sehat, menulis buku, dan hal lain yang penting dalam hidup saya. Untuk memiliki pasangan hidup adalah hadiah yang begitu berharga. Saya juga belajar bahwa institusi pernikahan bisa memulihkan kita di tempat yang paling membutuhkan. Dan kita semua punya tempat seperti itu.
Berjalannya waktu saya belajar bahwa pengalaman kita adalah ilustrasi pengetahuan yang lebih besar tentang pernikahan. Pertanyaan yang harus ditanyakan di dalam komitmen pernikahan yang signifikan adalah "Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"
Itulah cinta. Novel romantis (dan saya sudah menulis beberapa) adalah tentang hasrat dan bahagia sampai akhir, namun bahagia sampai akhir tidak datang dari hasrat - setidaknya tidak dalam bayangan potret keromantisan yang ditawarkan.
Cinta sejati bukan karena menginginkan seseorang, namun hasrat untuk kebahagiaan mereka - kadang, bahkan, kebahagiaan kita sendiri dikorbankan. Cinta sejati tidak membuat satu sama lain jadi serupa. Cinta sejati akan memperbesar kapasitas kita untuk bertoleransi dan peduli, untuk secara aktif mencari kebahagiaan pasangan.
"Bagaimana saya bisa membuat harimu jadi lebih baik?"
sumber : brightside.me
Tuesday, October 18, 2016
Wednesday, October 5, 2016
Dalam Mencari Pasangan Hidup
Berkali-kali gagal mencari pasangan hidup, membuatku bertanya-tanya, akankah kutemukan pasangan hidup yang sejati. Dulu sih, aku ga begitu fokus mencari, sampai akhirnya tiba-tiba aja aku berkepala 3. Sekarang aku sih udah fokus, tapi selalu dapet yang salah.
Masalah pacaran, saat aku putus, aku menyadari bahwa yang salah itu bukan salah satu pihak saja, tapi keduanya. Dalam hal pacaran yang terakhir, aku menyadari bahwa saat dia berbuat sesuatu yang salah, aku juga punya tanggapan yang salah. Aku menanggapinya dengan sikap yang salah, sehingga hubungan makin buruk. Seharusnya, ketika kita tahu hubungan itu sudah salah, kita seharusnya berani ambil tindakan untuk mengakhirinya, sesakit apapun itu.
Ga tau kenapa, kayaknya di dunia ini ga ada yang cocok buatku. Banyak orang yang bilang, aku mungkin terlalu memilih. Aku jadi bertanya-tanya, apakah mereka ga memilih saat menikah? Yang penting nikah saja tanpa memikirkan bahwa orang yang mereka nikahi akan terus bersama mereka sampai akhir hayat. Kalau salah pilih, bukankah bisa gawat.
Ada pula yang bilang, bahwa mungkin standarku terlalu tinggi. Aku lalu me-list standarku.
1. Anak Tuhan yang takut pada Tuhan
2. Tingginya ya minimal tinggi dari aku deh (Aku sih 160cm)
3. Kalau bisa chinese (karena aku sendiri pun chinese dan pengen punya pacar chinese)
4. Berkomitmen dan setia
Menurut kamu, standarku itu tinggi ga?
Lalu, ada banyak lagi yang bilang macam-macam. Tapi ya terus terang, aku sendiri ga merasa bahwa aku punya standar yang begitu tinggi sehingga hal itu hanya bisa terjadi di angan-anganku saja.
Tapi ada satu pelajaran yang aku tarik dari hubungan ini, hubungan yang membuat aku semakin dewasa dan makin tahu bagaimana mencari pasangan yang sejati. Nah, inilah yang ingin aku bagikan, semoga kamupun merasakan manfaatnya dari pelajaran hidup yang kutarik ini :
1. Seseorang Haruslah Benar-benar Mencintai Allah
Percaya atau tidak, Allah punya andil yang besar di sini. Saat kita mencintai Allah, kita tahu bahwa kita ini cuma manusia biasa yang berada dalam kuasa-Nya. Karena tahu bahwa ada Sesuatu yang lebih besar dari kita, kita jadi percaya pada-Nya dan mengikuti apa yang dikatakan-Nya.
Sama seperti kita sewaktu kecil harus mengikuti apa yang dikatakan ortu, sekalipun kita tidak setuju, ini karena mereka lebih berkuasa daripada kita. Cuma bedanya, di dalam mengikut Allah, kita perlu jatuh cinta pada-Nya, maka kita baru mengikuti-Nya dengan sukarela.
Ajaran-Nya yang utama adalah KASIH. Jadi, sangatlah tepat kalau kita mengikuti Dia dan mengikuti perintah-Nya untuk saling mengasihi. Beda kalau kita mengasihi seseorang dengan kemampuan kita. Suatu hari nanti, kita akan kehilangan kekuatan kita (karena kita cuma manusia biasa, bo) lewat berbagai cobaan, saat itulah kedagingan kita kembali lagi dan menjadi pribadi yang lama, yang mungkin rusak akibat pengalaman masa lalu.
Jadi, sangatlah tepat untuk mencari seorang teman hidup yang takut akan Tuhan. Ada juga lho, dan jumlahnya banyak, kalau boleh aku katakan, bahwa ada anak Tuhan namun kelakuannya tidak menunjukkan rasa takut pada Allah.
2. Seseorang yang Menghormati Kedua Orangtuanya
Sikap yang ditunjukkannya kepada kedua orangtuanya, merupakan cerminan bagaimana dia dibesarkan dan bagaimana dia akan memperlakukan orang lain. Jika dia saja tidak menghormati kedua orangtuanya yang telah membesarkannya, bagaimana dia akan menghargai kamu yang baru akan dijadikannya pasangan hidup.
Saya juga melihat banyak hal. Saat seseorang mencintai orangtuanya, janji Allah baginya ditepati. Banyak orang yang sukses karena dia menghormati orangtuanya. Coba saja lihat sekelilingmu dan buktikan sendiri perkataan ini.
3. Seseorang yang Tahu Menghargai Dirimu
Kamu itu berharga. Bahkan ketika dunia menentangmu, dia akan berada di sisimu dan menerimamu apa adanya. Dia tidak melihat kemana-mana, tapi hanya kepadamu. Saat kamu ngomong, dia akan serius menatapmu dan bukannya matanya jelalatan kemana-mana. Percaya deh, orang yang seperti ini patut kamu pertahankan, karena dia tahu bagaimana menghargai dirimu.
Masalah pacaran, saat aku putus, aku menyadari bahwa yang salah itu bukan salah satu pihak saja, tapi keduanya. Dalam hal pacaran yang terakhir, aku menyadari bahwa saat dia berbuat sesuatu yang salah, aku juga punya tanggapan yang salah. Aku menanggapinya dengan sikap yang salah, sehingga hubungan makin buruk. Seharusnya, ketika kita tahu hubungan itu sudah salah, kita seharusnya berani ambil tindakan untuk mengakhirinya, sesakit apapun itu.
Ga tau kenapa, kayaknya di dunia ini ga ada yang cocok buatku. Banyak orang yang bilang, aku mungkin terlalu memilih. Aku jadi bertanya-tanya, apakah mereka ga memilih saat menikah? Yang penting nikah saja tanpa memikirkan bahwa orang yang mereka nikahi akan terus bersama mereka sampai akhir hayat. Kalau salah pilih, bukankah bisa gawat.
Ada pula yang bilang, bahwa mungkin standarku terlalu tinggi. Aku lalu me-list standarku.
1. Anak Tuhan yang takut pada Tuhan
2. Tingginya ya minimal tinggi dari aku deh (Aku sih 160cm)
3. Kalau bisa chinese (karena aku sendiri pun chinese dan pengen punya pacar chinese)
4. Berkomitmen dan setia
Menurut kamu, standarku itu tinggi ga?
Lalu, ada banyak lagi yang bilang macam-macam. Tapi ya terus terang, aku sendiri ga merasa bahwa aku punya standar yang begitu tinggi sehingga hal itu hanya bisa terjadi di angan-anganku saja.
Tapi ada satu pelajaran yang aku tarik dari hubungan ini, hubungan yang membuat aku semakin dewasa dan makin tahu bagaimana mencari pasangan yang sejati. Nah, inilah yang ingin aku bagikan, semoga kamupun merasakan manfaatnya dari pelajaran hidup yang kutarik ini :
1. Seseorang Haruslah Benar-benar Mencintai Allah
Percaya atau tidak, Allah punya andil yang besar di sini. Saat kita mencintai Allah, kita tahu bahwa kita ini cuma manusia biasa yang berada dalam kuasa-Nya. Karena tahu bahwa ada Sesuatu yang lebih besar dari kita, kita jadi percaya pada-Nya dan mengikuti apa yang dikatakan-Nya.
Sama seperti kita sewaktu kecil harus mengikuti apa yang dikatakan ortu, sekalipun kita tidak setuju, ini karena mereka lebih berkuasa daripada kita. Cuma bedanya, di dalam mengikut Allah, kita perlu jatuh cinta pada-Nya, maka kita baru mengikuti-Nya dengan sukarela.
Ajaran-Nya yang utama adalah KASIH. Jadi, sangatlah tepat kalau kita mengikuti Dia dan mengikuti perintah-Nya untuk saling mengasihi. Beda kalau kita mengasihi seseorang dengan kemampuan kita. Suatu hari nanti, kita akan kehilangan kekuatan kita (karena kita cuma manusia biasa, bo) lewat berbagai cobaan, saat itulah kedagingan kita kembali lagi dan menjadi pribadi yang lama, yang mungkin rusak akibat pengalaman masa lalu.
Jadi, sangatlah tepat untuk mencari seorang teman hidup yang takut akan Tuhan. Ada juga lho, dan jumlahnya banyak, kalau boleh aku katakan, bahwa ada anak Tuhan namun kelakuannya tidak menunjukkan rasa takut pada Allah.
2. Seseorang yang Menghormati Kedua Orangtuanya
Sikap yang ditunjukkannya kepada kedua orangtuanya, merupakan cerminan bagaimana dia dibesarkan dan bagaimana dia akan memperlakukan orang lain. Jika dia saja tidak menghormati kedua orangtuanya yang telah membesarkannya, bagaimana dia akan menghargai kamu yang baru akan dijadikannya pasangan hidup.
Saya juga melihat banyak hal. Saat seseorang mencintai orangtuanya, janji Allah baginya ditepati. Banyak orang yang sukses karena dia menghormati orangtuanya. Coba saja lihat sekelilingmu dan buktikan sendiri perkataan ini.
3. Seseorang yang Tahu Menghargai Dirimu
Kamu itu berharga. Bahkan ketika dunia menentangmu, dia akan berada di sisimu dan menerimamu apa adanya. Dia tidak melihat kemana-mana, tapi hanya kepadamu. Saat kamu ngomong, dia akan serius menatapmu dan bukannya matanya jelalatan kemana-mana. Percaya deh, orang yang seperti ini patut kamu pertahankan, karena dia tahu bagaimana menghargai dirimu.
Kalau ketiganya ada pada orang yang kamu sukai, maka pertahankan dia. Dialah orang yang tepat untuk dijadikan teman hidup. Namun, tentu ini ada dampaknya. Kamu pun harus menjadi orang yang seperti itu. Jika tidak, jangan-jangan kamu yang ditolaknya.
Tuesday, September 27, 2016
Cara Cepet Move On Untuk Jomblo yang Baru Putus
Yang namanya baru putus itu, rasanya kayak nano-nano. Cuma nggak seenak nano-nano, putus itu nyakitin. Ya, namanya juga putus, berarti ada sesuatu yang dulunya tersambung jadi terlepas. Mungkin bisa dikiaskan dengan kita dibunuh dengan berbagai macam alat, seperti ditusuk dengan pisau, kemudian ditembak di kaki, lalu dicekik. Ih syerem amat yakkk
Kalau baru putus, kamu kayak orang gila, Kadang kalau ingat hal-hal yang lucu tentang kalian berdua, kamu ketawa sendiri atau minimal senyum deh. Tapi kalau lagi inget pertengkaran-pertengkaran atau penyebab kalian putus, hati kamu jadi sedih. Ga peduli kamu lagi ada di pesta, tiba-tiba air mata mengalir aja. Bener ga?
Biar ga disangka orang gila, ini demi kebaikan kamu sendiri, kamu harus cepet-cepet move on dari perasaan itu. Entah nanti kamu nyambung lagi sama dia, entah nggak, kamu harus bisa memandang dengan objektif. Jadi ketika kamu pun nyambung lagi dengan dia, kamu tahu bahwa dialah pilihanmu yang tepat. Bukan dipengaruhi oleh perasaan sayang yang masih kamu rasakan ataupun karena pengen bales dendam. Jangan yaaa
Nah, ini dia cara cepet buat kamu bisa kembali memandang dengan perspektif yang tepat dan biasanya efektif banget.
1. Jalan-jalan ke Tempat yang Kamu Suka
Maunya kamu sih mendep di kamar, mandangin foto si dia di hp (karena udah ga jaman tarok foto di pigura), menangis sampe ga ada lagi air mata dan terus ngeliat chating-an, berharap si dia menghubungi kamu. Mungkin cewek gitu kali ya. Kalau cowok, maen game yang disuka, ngebanyol sama temen-temen, atau mungkin nongkrong ga karuan dimana gitu atau ada juga yang fokusin diri ke kerjaan. Bahkan ada yang ngelakuin hal-hal yang ga baik, namun bukan itu solusinya.
Di saat kamu lagi putus, berarti jiwa kamu lagi stres kan. Itu artinya, kamu perlu refreshing. Nah, cara cepat untuk bisa memulihkan jiwa yaitu dengan jalan-jalan. Jalan-jalan di sini bukan cuma sehari ya, minimal ambillah waktu tiga hari buat jalan-jalan. Jalan aja ke tempat yang kamu suka. Misalnya, kamu sebenernya pengen sendirian di tempat sunyi, ya udah pegi aja ke gunung. Kamu suka banget dengan pantai, duduk-duduk bengong atau malah berenang di pantai juga bisa refreshing.
2. Tidak Sekalipun Menghubungi si Dia
Kalau kamu udah putus, jangan sekali-kali menghubungi si dia ataupun memikirkan si dia. Jadi, selama itu fokuslah pada membina hubungan yang lebih erat dengan keluarga, dengan teman, ataupun jaringanmu. Perluas pergaulan agar ada banyak input dan pengertian baru yang kamu dapatkan mengenai suatu hubungan.
Kenapa memikirkannya pun jangan, karena kamu kemudian akan kembali ke siklus di atas. Kamu ga hanya memikirkan dia, tapi juga kejadian-kejadian di masa lampau. Ketika kamu melihat ke masa lampau, kamu ga akan bisa memandang ke depan.
3. Lakukan Perenungan
Setelah kamu udah dua minggu - satu bulan putus sama dia, di saat kamu udah lebih tenang (Kamu bakalan tahu kapan hatimu udah agak tenang), cari waktu buat meneliti hatimu. Apakah si dia adalah orang yang tepat buatmu, apakah kamu bisa terima sisi jeleknya, apakah kalian bisa melangkah bersama lagi. Kalau misalnya, dia ternyata gandengan dengan cewek/cowok lain, gimana hatimu? Coba teliti, apakah hatimu benar-benar mencintai dia ataukah karena kamu cuma terbiasa aja dengan dia.
Teliti juga, apakah ke depan ada masa depan buat kalian? Misalnya dia terus melakukan hal yang sama, apakah kamu bisa terima. Jika hubungan kalian tetap seperti sekarang, apakah kalian bisa terus maju? Apakah hubungan kalian membawa kalian lebih dekat pada Tuhan? Apakah kelebihannya merupakan hal yang paling kamu cari dalam sebuah hubungan? Jika jawabannya tidak, maka sebaiknya cari yang lain.
Jangan berfokus pada masa lampau, buka hatimu lebar-lebar. Perluas pergaulan, dan yang paling penting adalah terus ajak ngobrol Tuhan. Kamu punya uneg-uneg, sampaikan aja sama Dia. Mungkin kamu ga mendengar jawaban-Nya, namun hatimu pasti menemukan ketenangan kalau terus dekat Dia. Gimana bisa dekat? Ya, fokuslah dalam membaca Surat Cinta-Nya. Ambil kejadian dalam kehidupanmu, karena dari situlah kamu belajar untuk mengerti hatimu. Serahkan rasa pedihmu pada-Nya, serahkan kekuatiran akan masa depanmu, dan mulailah melangkah.
Kalau baru putus, kamu kayak orang gila, Kadang kalau ingat hal-hal yang lucu tentang kalian berdua, kamu ketawa sendiri atau minimal senyum deh. Tapi kalau lagi inget pertengkaran-pertengkaran atau penyebab kalian putus, hati kamu jadi sedih. Ga peduli kamu lagi ada di pesta, tiba-tiba air mata mengalir aja. Bener ga?
Biar ga disangka orang gila, ini demi kebaikan kamu sendiri, kamu harus cepet-cepet move on dari perasaan itu. Entah nanti kamu nyambung lagi sama dia, entah nggak, kamu harus bisa memandang dengan objektif. Jadi ketika kamu pun nyambung lagi dengan dia, kamu tahu bahwa dialah pilihanmu yang tepat. Bukan dipengaruhi oleh perasaan sayang yang masih kamu rasakan ataupun karena pengen bales dendam. Jangan yaaa
Nah, ini dia cara cepet buat kamu bisa kembali memandang dengan perspektif yang tepat dan biasanya efektif banget.
1. Jalan-jalan ke Tempat yang Kamu Suka
Maunya kamu sih mendep di kamar, mandangin foto si dia di hp (karena udah ga jaman tarok foto di pigura), menangis sampe ga ada lagi air mata dan terus ngeliat chating-an, berharap si dia menghubungi kamu. Mungkin cewek gitu kali ya. Kalau cowok, maen game yang disuka, ngebanyol sama temen-temen, atau mungkin nongkrong ga karuan dimana gitu atau ada juga yang fokusin diri ke kerjaan. Bahkan ada yang ngelakuin hal-hal yang ga baik, namun bukan itu solusinya.
Di saat kamu lagi putus, berarti jiwa kamu lagi stres kan. Itu artinya, kamu perlu refreshing. Nah, cara cepat untuk bisa memulihkan jiwa yaitu dengan jalan-jalan. Jalan-jalan di sini bukan cuma sehari ya, minimal ambillah waktu tiga hari buat jalan-jalan. Jalan aja ke tempat yang kamu suka. Misalnya, kamu sebenernya pengen sendirian di tempat sunyi, ya udah pegi aja ke gunung. Kamu suka banget dengan pantai, duduk-duduk bengong atau malah berenang di pantai juga bisa refreshing.
2. Tidak Sekalipun Menghubungi si Dia
Kalau kamu udah putus, jangan sekali-kali menghubungi si dia ataupun memikirkan si dia. Jadi, selama itu fokuslah pada membina hubungan yang lebih erat dengan keluarga, dengan teman, ataupun jaringanmu. Perluas pergaulan agar ada banyak input dan pengertian baru yang kamu dapatkan mengenai suatu hubungan.
Kenapa memikirkannya pun jangan, karena kamu kemudian akan kembali ke siklus di atas. Kamu ga hanya memikirkan dia, tapi juga kejadian-kejadian di masa lampau. Ketika kamu melihat ke masa lampau, kamu ga akan bisa memandang ke depan.
3. Lakukan Perenungan
Setelah kamu udah dua minggu - satu bulan putus sama dia, di saat kamu udah lebih tenang (Kamu bakalan tahu kapan hatimu udah agak tenang), cari waktu buat meneliti hatimu. Apakah si dia adalah orang yang tepat buatmu, apakah kamu bisa terima sisi jeleknya, apakah kalian bisa melangkah bersama lagi. Kalau misalnya, dia ternyata gandengan dengan cewek/cowok lain, gimana hatimu? Coba teliti, apakah hatimu benar-benar mencintai dia ataukah karena kamu cuma terbiasa aja dengan dia.
Teliti juga, apakah ke depan ada masa depan buat kalian? Misalnya dia terus melakukan hal yang sama, apakah kamu bisa terima. Jika hubungan kalian tetap seperti sekarang, apakah kalian bisa terus maju? Apakah hubungan kalian membawa kalian lebih dekat pada Tuhan? Apakah kelebihannya merupakan hal yang paling kamu cari dalam sebuah hubungan? Jika jawabannya tidak, maka sebaiknya cari yang lain.
Jangan berfokus pada masa lampau, buka hatimu lebar-lebar. Perluas pergaulan, dan yang paling penting adalah terus ajak ngobrol Tuhan. Kamu punya uneg-uneg, sampaikan aja sama Dia. Mungkin kamu ga mendengar jawaban-Nya, namun hatimu pasti menemukan ketenangan kalau terus dekat Dia. Gimana bisa dekat? Ya, fokuslah dalam membaca Surat Cinta-Nya. Ambil kejadian dalam kehidupanmu, karena dari situlah kamu belajar untuk mengerti hatimu. Serahkan rasa pedihmu pada-Nya, serahkan kekuatiran akan masa depanmu, dan mulailah melangkah.
Thursday, August 4, 2016
5 Manfaat Bertengkar Lewat Tulisan Berdasarkan Pengalaman
Bertengkar itu memang ga mengenakkan. Sebuah film yang pernah kutonton mengatakan bahwa dua orang saling teriak karena hati mereka saling menjauh. Saat hati saling menjauh, saat itulah mereka bertengkar. Mereka berharap dengan bertengkar, hati dapat saling memahami tapi yang terjadi adalah kebalikannya.
Menurut aku, bertengkar itu emang bikin kita rugi sendiri, bertengkar berarti LOST-LOST SOLUTION. Namun, aku melihat dari pengalaman, bertengkar lewat tulisan itu ada manfaatnya lho. Ini dia manfaatnya :
1. Saat hati kamu udah adem, ambil waktu sendiri untuk baca tulisan pertengkaran tersebut, baik tulisan itu dalam bentuk wa, surat, bbm, messenger, line, dll. Baca hanya yang ditulis lawan saja. Kamu akan menemukan inti dari apa yang ingin dia ungkapkan. Ingat, sekalipun itu buat kamu marah, ambil bagian apa yang ingin dia ungkapkan
2. Saat kita membaca lagi tulisan tersebut, kita akan tahu orang macam apa lawan bicara kita. Seperti apakah dia ketika emosi dan seperti apakah kita menanggapinya. Ini buat pelajaran bagi kita untuk ke depannya bisa lebih baik. Laen kali kalau bertengkar, kita jadinya benar-benar bertengkar untuk hal yang perlu-perlu aja
3. Tulisan di pertengkaran, membuat kita menyadari bahwa lawan bicara TIDAK AKAN MENGERTI apa yang ingin kita ungkapkan, begitu pula sebaliknya. Saat bertengkar, tidak akan membawa hasil apa-apa. Jadi sadari hal itu dan gunakan kekuatan untuk menyabarkan diri dan menggunakan logika / kata-kata normal untuk mengungkapkan keberatan daripada mengajaknya bertengkar.
4. Tulisan di pertengkaran tersebut juga bisa mengungkapkan alasan-alasan di balik terjadinya pertengkaran. Apakah benar kita bertengkar untuk hal yang pantas diperdebatkan ataukah hanya untuk ego semata.
5. Kita jadi tidak cepat untuk berkata-kata, karena cukup susah juga untuk menulis cepat. Hal ini membuat kita sempat berpikir. Selain itu, hal tersebut tidak membuat kita saling teriak.
Semoga kelima manfaat ini dapat membuat kita jadi lebih dewasa dan mampu melihat kejadian lebih objektif setelahnya.
Menurut aku, bertengkar itu emang bikin kita rugi sendiri, bertengkar berarti LOST-LOST SOLUTION. Namun, aku melihat dari pengalaman, bertengkar lewat tulisan itu ada manfaatnya lho. Ini dia manfaatnya :
1. Saat hati kamu udah adem, ambil waktu sendiri untuk baca tulisan pertengkaran tersebut, baik tulisan itu dalam bentuk wa, surat, bbm, messenger, line, dll. Baca hanya yang ditulis lawan saja. Kamu akan menemukan inti dari apa yang ingin dia ungkapkan. Ingat, sekalipun itu buat kamu marah, ambil bagian apa yang ingin dia ungkapkan
2. Saat kita membaca lagi tulisan tersebut, kita akan tahu orang macam apa lawan bicara kita. Seperti apakah dia ketika emosi dan seperti apakah kita menanggapinya. Ini buat pelajaran bagi kita untuk ke depannya bisa lebih baik. Laen kali kalau bertengkar, kita jadinya benar-benar bertengkar untuk hal yang perlu-perlu aja
3. Tulisan di pertengkaran, membuat kita menyadari bahwa lawan bicara TIDAK AKAN MENGERTI apa yang ingin kita ungkapkan, begitu pula sebaliknya. Saat bertengkar, tidak akan membawa hasil apa-apa. Jadi sadari hal itu dan gunakan kekuatan untuk menyabarkan diri dan menggunakan logika / kata-kata normal untuk mengungkapkan keberatan daripada mengajaknya bertengkar.
4. Tulisan di pertengkaran tersebut juga bisa mengungkapkan alasan-alasan di balik terjadinya pertengkaran. Apakah benar kita bertengkar untuk hal yang pantas diperdebatkan ataukah hanya untuk ego semata.
5. Kita jadi tidak cepat untuk berkata-kata, karena cukup susah juga untuk menulis cepat. Hal ini membuat kita sempat berpikir. Selain itu, hal tersebut tidak membuat kita saling teriak.
Semoga kelima manfaat ini dapat membuat kita jadi lebih dewasa dan mampu melihat kejadian lebih objektif setelahnya.
Monday, August 1, 2016
Belajar Untuk Jadi Orang yang Baik dari Hari ke Hari
Setiap manusia punya persoalan hidup. Saat mengalaminya, semua orang merasa bahwa masalahnya begitu berat. Tapi setelah kita melewati masalah itu, sering ga kita merasa begini, "Wah ternyata masalahnya ga begitu berat." atau "Kayaknya masalahnya jadi sekecil kelingking doang ya"
Dulu waktu aku masih kecil, aku sudah bercita-cita untuk punya satu pacar dan kemudian menikah. Makanya, ketika aku pacaran pertama kali, aku menghabiskan waktu 7 tahun untuk menyadari bahwa aku tidak bisa menikah hanya dengan pacaran satu kali.
Aku pun perlu bertahun-tahun sampai akhirnya aku berhasil membuka diri kembali, sayangnya lagi-lagi dengan orang yang salah.Hal itu masih berlangsung sampai sekarang. Sepertinya, aku masih saja mencari orang yang salah untuk dijadikan pendamping hidup.
Awalnya, aku berpikir dia adalah yang terakhir di dalam hidupku. Kami bertemu di sebuah situs jodoh. Meskipun jarak jauh, aku bisa tenang menjalani hubungan ini. Kami bertemu sebulan dua kali, kadang aku yang ke tempatnya, kadang dia yang datang ke tempatku. Aku suka traveling, jadi rasanya menyenangkan mengenal dunia baru. Sampai akhirnya, aku tahu bahwa dia masih menghubungi mantannya. Saat itu, aku masih berharap dia berubah, namun ternyata aku yang berubah. Aku tak bisa percaya lagi padanya, kami sering bertengkar dan kami pun putus sambung beberapa kali. Sampai akhirnya, aku menyadari bahwa diapun bukan yang aku cari.
Lalu datang lagi seseorang dalam hidupku. Meskipun sudah setahun lebih aku putus dari yang sebelumnya, aku belum siap menghadapi hubungan yang baru. Namun kegigihannya, membuat aku bertanya-tanya, "Apakah dia Tuhan?" Jika dulu-dulu aku tidak berdoa saat hendak berpacaran, kali ini aku berdoa puasa selama sebulan. Namun, sebenarnya tanda-tandanya cukup jelas dan harusnya aku sudah dapat melihat dengan jelas. Sebelum sebulan doa puasa itu selesai, aku menemukan bahwa dia pun masih menghubungi mantannya.
"Apa yang kutakutkan, itulah yang terjadi padaku" Itulah yang Ayub katakan saat dia dicobai. Aku berpikir bahwa aku tak mau lagi punya pacar yang ga sungguh-sungguh, yang masih menoleh ke belakang, tapi ternyata itulah yang kudapatkan.
Sepertinya aku belum dewasa dalam menentukan sebuah keputusan. Aku juga punya harapan yang tinggi bahwa kali ini akan jadi yang terakhir. Aku berharap inilah yang terakhir. Kami punya banyak perbedaan, meski kami juga punya banyak kesamaan. Ketika kami sedang baik-baik saja, maka kami seperti seorang sahabat. Melakukan hal-hal konyol dan menyenangkan hati. Namun ketika perbedaan itu muncul, kami seperti musuh bebuyutan.
Lama-kelamaan, kami saling egois dan beberapa kali pula kami putus sambung. Namun sepertinya keadaan tidak membaik. Makin lama makin runcing. Masalah kecil jadi besar. Sampai suatu hari, kami juga bertengkar hebat.
Sama seperti mantanku yang lainnya, akupun diajak bertemu dengan kedua orangtuanya. Bedanya dengan yang lain adalah ketika kami pulang dari sana, kami pun bertengkar hebat dan saat itulah dia memutuskanku. Ironis bukan? Diputuskan hanya setelah diajak bertemu camer. Aku kecewa berat. Sebelum bertemu camer, mungkin hubungan kami belum serius. Jadi wajar saat emosi memuncak, kami mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan dan kemudian kami putus sambung. Aku pikir saat hubungan ini sudah semakin serius, maka kata-kata itu jadi tabu. Kecuali jika benar-benar ingin berpisah, namun nyatanya tidak begitu.
Ironisnya lagi, setelah aku diputusin, dia malah memberikanku cincin pertunangan. Aku jadi bingung, baru kali ini aku benar-benar bingung, hubungan macam apa yang sedang aku jalani. Kalau aku itung-itung, sejak dia mengajakku bertemu camer, empat kali aku diputusin. Empat kali pula aku diajak baikan lagi. Yang keempat ini sebenarnya kami tidak bisa dibilang putus karena sejak yang ketiga, kami ga pacaran lagi meskipun tetap dekat.
Empat kali diputusin itu seperti menderaku. Apakah aku begitu tidak berharganya sampai harus terus menerus diputusin dan diajak balikan lagi, seperti dianggap enteng. Apakah sifatku begitu jeleknya sampai pantas diperlakukan seperti itu. Belum lagi, ternyata dia juga mulai langsung 'bergerak'. Saat pacaranpun tidak ada status ataupun foto tentang kebersamaan kami. Apakah itu yang pantas aku dapatkan, untuk apapun kekurangan yang ada padaku.
Aku tidak mau mengalami siklus yang sama terus-menerus, sampai kapan aku harus mengalami hal itu. Makanya aku mau melangkah. Tuhan pasti mau mengajarkan sesuatu padaku meski saat ini yang kurasakan hanyalah rasa sakit. Aku mau seperti Daniel, yang berdoa untuk mengucap syukur dan pujian pada-Nya. Aku percaya, pujian dan ucapan syukur jauh lebih menguntungkan daripada bersedih tak ada ujungnya. Sebenarnya, bukanlah waktu yang akan benar-benar menyembuhkan kita, tapi hanyalah lewat belajar dan bersandar. Kita punya Tuhan yang hebat. Makanya aku juga perlu belajar untuk lebih baik lagi, menjadi orang yang terbaik dari diriku. Tapi aku juga perlu belajar untuk lebih bersandar pada Allah. Menggantungkan harapanku di tempat yang tepat.
Dulu waktu aku masih kecil, aku sudah bercita-cita untuk punya satu pacar dan kemudian menikah. Makanya, ketika aku pacaran pertama kali, aku menghabiskan waktu 7 tahun untuk menyadari bahwa aku tidak bisa menikah hanya dengan pacaran satu kali.
Aku pun perlu bertahun-tahun sampai akhirnya aku berhasil membuka diri kembali, sayangnya lagi-lagi dengan orang yang salah.Hal itu masih berlangsung sampai sekarang. Sepertinya, aku masih saja mencari orang yang salah untuk dijadikan pendamping hidup.
Awalnya, aku berpikir dia adalah yang terakhir di dalam hidupku. Kami bertemu di sebuah situs jodoh. Meskipun jarak jauh, aku bisa tenang menjalani hubungan ini. Kami bertemu sebulan dua kali, kadang aku yang ke tempatnya, kadang dia yang datang ke tempatku. Aku suka traveling, jadi rasanya menyenangkan mengenal dunia baru. Sampai akhirnya, aku tahu bahwa dia masih menghubungi mantannya. Saat itu, aku masih berharap dia berubah, namun ternyata aku yang berubah. Aku tak bisa percaya lagi padanya, kami sering bertengkar dan kami pun putus sambung beberapa kali. Sampai akhirnya, aku menyadari bahwa diapun bukan yang aku cari.
Lalu datang lagi seseorang dalam hidupku. Meskipun sudah setahun lebih aku putus dari yang sebelumnya, aku belum siap menghadapi hubungan yang baru. Namun kegigihannya, membuat aku bertanya-tanya, "Apakah dia Tuhan?" Jika dulu-dulu aku tidak berdoa saat hendak berpacaran, kali ini aku berdoa puasa selama sebulan. Namun, sebenarnya tanda-tandanya cukup jelas dan harusnya aku sudah dapat melihat dengan jelas. Sebelum sebulan doa puasa itu selesai, aku menemukan bahwa dia pun masih menghubungi mantannya.
"Apa yang kutakutkan, itulah yang terjadi padaku" Itulah yang Ayub katakan saat dia dicobai. Aku berpikir bahwa aku tak mau lagi punya pacar yang ga sungguh-sungguh, yang masih menoleh ke belakang, tapi ternyata itulah yang kudapatkan.
Sepertinya aku belum dewasa dalam menentukan sebuah keputusan. Aku juga punya harapan yang tinggi bahwa kali ini akan jadi yang terakhir. Aku berharap inilah yang terakhir. Kami punya banyak perbedaan, meski kami juga punya banyak kesamaan. Ketika kami sedang baik-baik saja, maka kami seperti seorang sahabat. Melakukan hal-hal konyol dan menyenangkan hati. Namun ketika perbedaan itu muncul, kami seperti musuh bebuyutan.
Lama-kelamaan, kami saling egois dan beberapa kali pula kami putus sambung. Namun sepertinya keadaan tidak membaik. Makin lama makin runcing. Masalah kecil jadi besar. Sampai suatu hari, kami juga bertengkar hebat.
Sama seperti mantanku yang lainnya, akupun diajak bertemu dengan kedua orangtuanya. Bedanya dengan yang lain adalah ketika kami pulang dari sana, kami pun bertengkar hebat dan saat itulah dia memutuskanku. Ironis bukan? Diputuskan hanya setelah diajak bertemu camer. Aku kecewa berat. Sebelum bertemu camer, mungkin hubungan kami belum serius. Jadi wajar saat emosi memuncak, kami mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan dan kemudian kami putus sambung. Aku pikir saat hubungan ini sudah semakin serius, maka kata-kata itu jadi tabu. Kecuali jika benar-benar ingin berpisah, namun nyatanya tidak begitu.
Ironisnya lagi, setelah aku diputusin, dia malah memberikanku cincin pertunangan. Aku jadi bingung, baru kali ini aku benar-benar bingung, hubungan macam apa yang sedang aku jalani. Kalau aku itung-itung, sejak dia mengajakku bertemu camer, empat kali aku diputusin. Empat kali pula aku diajak baikan lagi. Yang keempat ini sebenarnya kami tidak bisa dibilang putus karena sejak yang ketiga, kami ga pacaran lagi meskipun tetap dekat.
Empat kali diputusin itu seperti menderaku. Apakah aku begitu tidak berharganya sampai harus terus menerus diputusin dan diajak balikan lagi, seperti dianggap enteng. Apakah sifatku begitu jeleknya sampai pantas diperlakukan seperti itu. Belum lagi, ternyata dia juga mulai langsung 'bergerak'. Saat pacaranpun tidak ada status ataupun foto tentang kebersamaan kami. Apakah itu yang pantas aku dapatkan, untuk apapun kekurangan yang ada padaku.
Aku tidak mau mengalami siklus yang sama terus-menerus, sampai kapan aku harus mengalami hal itu. Makanya aku mau melangkah. Tuhan pasti mau mengajarkan sesuatu padaku meski saat ini yang kurasakan hanyalah rasa sakit. Aku mau seperti Daniel, yang berdoa untuk mengucap syukur dan pujian pada-Nya. Aku percaya, pujian dan ucapan syukur jauh lebih menguntungkan daripada bersedih tak ada ujungnya. Sebenarnya, bukanlah waktu yang akan benar-benar menyembuhkan kita, tapi hanyalah lewat belajar dan bersandar. Kita punya Tuhan yang hebat. Makanya aku juga perlu belajar untuk lebih baik lagi, menjadi orang yang terbaik dari diriku. Tapi aku juga perlu belajar untuk lebih bersandar pada Allah. Menggantungkan harapanku di tempat yang tepat.
Thursday, May 19, 2016
Penjambretan di Siang Bolong
Hari itu aku
sedang banyak pikiran. Di atas motor itu, aku memikirkan apa yang sedang
terjadi pada hidupku. Cuacanya sedikit panas, namun cukup adem karena banyak
pepohonan. Angin juga semilir bertiup. Jadi, aku ga ngebut mengendarai motor,
seperti yang biasanya aku lakukan.
Aku liat di sisi
kanan jalan, seorang cowok yang sedang mengendarai motornya juga nampak santai.
Aku pikir dia juga sedang menikmati cuaca yang indah itu. Sampai aku dapatin
bahwa dia sudah berada di sisiku, mepet dengan motorku.
Dengan tangan
kanan tetap memegang stang motor, tangan kirinya mulai meraih ke arah leherku,
di situlah terletak kalung perak yang aku beli beberapa bulan lalu. Dia
mengerahkan tenaga dan berhasil menariknya.
Saat itu aku kaget
karena sedang galau, jadi yang kulakukan hanyalah berteriak. Aku berusaha membuat
motorku tidak jatuh. Aku berusaha menjauh dan mau menendang motornya, tapi
ternyata dia sudah kabur duluan membawa kalung senilai Rp 300.000an itu. Aku
sempet liat dia ngebut sambil melihat ke tangannya, hasil penjambretan yang
baru dia lakukan.
Mungkin saat itu
dia kecewa, karena langsung fokus ke arah jalan lagi. Pantas aja sih dia
kecewa, karena kalung itu sudah ‘berlumuran’ benang dari setiap pakaian yang
aku kenakan. Jadi kalung itu terlihat murahan. Ga tau juga sih apakah dia buang
atau gimana pada akhirnya.
Kayaknya dia emang
udah biasa menjambret deh. Sayang aku ga liat plat kendaraannya. Yang kutahu
hanyalah orangnya berbadan atletis, sedikit coklat, dan menggunakan motor
putih.
Tapi ada 2 hal
yang aku syukuri dari kejadian itu. Yang pertama, aku bersyukur aku tidak jatuh
ataupun terluka. Itu menurutku karena kaitan kalungnya udah ga kencang jadi
mudah ditarik. Jadi sebulan yang lalu, kalung itu sempat rusak kaitannya, jadi
aku benerin aja apa adanya. Ternyata, rusaknya kaitan membuat kalung itu mudah
dijambret. Aku ga jatuh bahkan leherpun hanya merah sedikit. Yang kedua, dia
mengincar kalungku dan bukannya tasku yang juga aku panggul di depan bahu. Coba
yang dia incar tas, aku setidaknya jatuh dan banyak barang berharga yang bisa
raib. Setidaknya, menyusahkan banget untuk buat KTP baru misalnya.
Satu lagi hilang
dalam hidupku, kalung putih yang memang kuinginkan ada di leherku. Suatu hari
nanti, aku juga akan kehilangan yang lainnya. Meski mungkin aku mendapatkan hal
yang baru, tapi aku kehilangan juga. Kita belajar banyak dari rasa kehilangan
ini. Ada yang nggak berani lanjut karena takut hilang dan gagal, ada yang tidak
menyerah dan tetap bangkit untuk hal baru. Ada yang merasa sangat terluka dan
ga mau mengalaminya lagi, namun ada yang terus mencoba.
Kalau kamu
kehilangan sesuatu, jangan sampai itu membuatmu takut dan tidak berani mencoba
lagi. Jangan takut gagal, jangan menyerah. Manusia yang hidup di dunia ini,
setidaknya sudah menang dari satu juta sperma lainnya agar bisa hidup di dunia
ini.
Thursday, April 7, 2016
Pelajaran yang Diberikan Oleh Kehidupan
Hidup ini aku jalani begitu saja, karena aku tahu tidak ada hal yang bermakna di dalam hidup. Sejak aku masih kecil, aku mengalami banyak kesulitan hidup, bahkan tak jarang kesulitan hidup itu datang dari orang-orang terdekatku.
Waktu kecil, hidup keluarga kami sangat sederhana. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, mamaku harus cermat memikirkan cara. Tak jarang kami sebagai anak-anaknya harus minta kepada papa agar dapat uang, kalau nggak uang itu akan habis begitu saja.
Lucunya, meskipun dibilang sederhana, meskipun makan kadang hanya dengan kecap dan sering sekali makan mie instan aja, tapi kami sudah punya mobil waktu itu. Gaya yang ditampilkan ke orang lainkah? Aku juga ga mengerti.
Seringkali aku harus menunggak pembayaran SPP sekolah. Ya, seringkali pula sudah minta pada papa tapi dibilang belum ada uang. Jadi harus gimana lagi?
Intinya, hidup ini aku jalani begitu saja. Aku ga tahu apa tujuan hidupku ke depan, aku ga bisa melihat apa yang indah dalam hidup. Jadi, jika ada kesempatan yang bisa membuatku tertawa, maka aku ambil saja. Aku pikir setiap peristiwa yang membuatku tertawa, akan membuat hidupku lebih bahagia. Tapi ternyata tidak.
Melihat kehidupan yang telah kujalani, aku mungkin banyak mengambil keputusan-keputusan yang salah. Aku bertindak semaunya, melanggar larangan ortu, tidak berpikir panjang dan bertindak sesuai dengan impuls, dan perbuatan bodoh lainnya.
Benar kata pujangga Salomo, ketika kita lebih dewasa dan melihat ke belakang, kita tahu bahwa apa yang kita lakukan dulu hanyalah sia-sia belaka. Namun, ada satu sisi lagi yang kulihat di dalam hidup. Yang kita anggap sia-sia di masa lalu, membuat kita seringkali ragu untuk melangkah di masa depan. Apakah aku akan melakukan kesalahan lagi? Apakah ini tindakan yang benar?
Pelajaran yang diberikan oleh kehidupan, membuat aku kemudian menyadari bahwa :
- Segala sesuatu kita sendiri yang tentukan, karena Tuhan sudah berikan kehendak bebas. Tapi berbahagialah mereka yang dari kecil sudah mengenal-Nya, ini akan membawa banyak kebaikan di dalam hidup.
- Saat memutuskan / menentukan sesuatu, tanyakanlah pada dirimu sendiri : Apakah ini bermanfaat buat masa depanmu? Apakah kamu merasa hidupmu akan jadi berarti dengan keputusan yang kamu ambil? Apakah ini berguna bagi orang lain? Apakah ini yang sesungguhnya kamu mau? Jika jawabannya "tidak" untuk salah satu saja, maka jangan putuskan.
-Jika kamu telah salah mengambil keputusan, jangan menyesal. Seringkali Tuhan mengubah kondisinya menjadi hal yang indah untukmu. Belajarlah untuk tetap percaya, meski sulit.
- Kita tidak hidup sendirian. Tuhan adalah yang utama yang kita butuhkan, namun kita juga butuh orang lain. Bukan penilaian mereka atas kita, karena kita bisa dinilai oleh Tuhan semata, tapi kita butuh hubungan yang bisa dibina dengan orang-orang. Hubungan yang baik akan membawa pada banyak kebaikan pula.
Saat aku ngerasa sedih dengan kehidupanku yang normal-normal bahkan cenderung sepi ini, aku ingat kembali bahwa aku sendiri yang memutuskan. Aku akan buat hidup ini indah, tentunya bersama Tuhan.
Jika kamu belum percaya apakah Tuhan itu ada, maka cobalah tanyakan pada dirimu sendiri, mengapa ada perasaan kosong di dalam hidupmu / dirimu untuk sesuatu yang lebih besar.
Pelajaran yang terpenting yang diberikan oleh kehidupan adalah selalu akan ada kematian. Jadi, jangan pernah berharap kamu akan hidup selamanya. Kalau tahu begitu, isilah dengan hal-hal yang tidak akan membuatmu menyesal di kemudian hari. Jadilah yang terbaik dari dirimu sendiri.
Monday, November 23, 2015
Kenapa Wanita Bisa Menstruasi dan Pria Tidak?
Menurut wikipedia, Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron.
Biasanya siklus menstruasi datang pertama kali pada wanita usia 10-12 tahun dan berhenti di usia 40-50 tahun (yang disebut sebagai monopause). Menstruasi adalah pertanda bahwa seorang wanita sudah bisa bereproduksi atau menghasilkan keturunan. Saat sel telur siap dibuahi, namun tidak terjadi, maka akan terjadi menstruasi.
Rata-rata siklus ini terjadi setiap 21-30 hari berikutnya selama 2-15 hari maksimal. Jika lebih dari 15 hari, maka harus konsultasi ke dokter. Adapun darah yang keluar normalnya berkisar 10mL-80mL.
Karena tubuh wanita yang terdiri dari ovarium inilah yang menyebabkan dia bisa menstruasi dan hamil sedangkan laki-laki tidak. Jadi jelas saja pria tidak bisa hamil, karena mereka tidak memiliki ovarium yang memproduksi sel telur.
Ini siklus menstruasi pada wanita sampe kehamilannya juga ada...Klik di sini
Sedikit tambahan tentang sel telur. Jika hendak dibuahi, ada baiknya dilakukan 14 hari sebelum rata-rata masa menstruasi datang. Misalnya, seorang wanita selalu datang menstruasi sekitar tanggal 20-25 setiap bulannya. Maka, ada baiknya untuk dapat menghasilkan anak, harus dibuahi sekitar tanggal 6-11 setiap bulannya.
Menstruasi bisa menyebabkan wanita lebih emosi. Pertanyaannya, mengapa?
Karena pada saat dinding rahim sedang meluruhkan darah, maka daya tahan tubuh wanita akan menurun. Saat itu, tubuh mulai lelah. Setiap orang yang mudah lelah, tentu akan mengalami perasaan yang naik turun. Itulah penyebab wanita lebih emosi saat sedang mengalami menstruasi.
Biasanya siklus menstruasi datang pertama kali pada wanita usia 10-12 tahun dan berhenti di usia 40-50 tahun (yang disebut sebagai monopause). Menstruasi adalah pertanda bahwa seorang wanita sudah bisa bereproduksi atau menghasilkan keturunan. Saat sel telur siap dibuahi, namun tidak terjadi, maka akan terjadi menstruasi.
Rata-rata siklus ini terjadi setiap 21-30 hari berikutnya selama 2-15 hari maksimal. Jika lebih dari 15 hari, maka harus konsultasi ke dokter. Adapun darah yang keluar normalnya berkisar 10mL-80mL.
Karena tubuh wanita yang terdiri dari ovarium inilah yang menyebabkan dia bisa menstruasi dan hamil sedangkan laki-laki tidak. Jadi jelas saja pria tidak bisa hamil, karena mereka tidak memiliki ovarium yang memproduksi sel telur.
Ini siklus menstruasi pada wanita sampe kehamilannya juga ada...Klik di sini
Sedikit tambahan tentang sel telur. Jika hendak dibuahi, ada baiknya dilakukan 14 hari sebelum rata-rata masa menstruasi datang. Misalnya, seorang wanita selalu datang menstruasi sekitar tanggal 20-25 setiap bulannya. Maka, ada baiknya untuk dapat menghasilkan anak, harus dibuahi sekitar tanggal 6-11 setiap bulannya.
Menstruasi bisa menyebabkan wanita lebih emosi. Pertanyaannya, mengapa?
Karena pada saat dinding rahim sedang meluruhkan darah, maka daya tahan tubuh wanita akan menurun. Saat itu, tubuh mulai lelah. Setiap orang yang mudah lelah, tentu akan mengalami perasaan yang naik turun. Itulah penyebab wanita lebih emosi saat sedang mengalami menstruasi.
Thursday, October 15, 2015
Percaya Saja
Banyak di dunia ini yang mengharuskan kita untuk mempercayai seseorang/sesuatu padahal belum pernah kita buktikan. Contohnya aja waktu kecil, ingat kan disuruh ortu gosok gigi, cuci muka dan kaki kalau mau tidur? Nah, kita dibilangin kalau ga gosok gigi ntar bisa rusak. Kalau kita ga mau percaya, ya bisa rusak beneran.
Si boss nyuruh kita untuk melakukan tindakan A, karena si boss ngerasa itu tindakan yg seharusnya ngasih dampak baik. Kalau kita ga percaya? Bisa jadi kita malah dipecat. Kita harus percaya sama perkataan boss dan melakukannya.
Pagi itu aku denger seseorang yang ngomong tentang iman. Aku duduk di antara para manusia lainnya yang juga sedang mendengarkan. Ketika aku liat muka mereka, aku ngeliat ada yang cuma ekspresi datar. Piring kalah datarnya.
Ada yang sepertinya mendengarkan tapi keliatan kok lagi mikirin yang lain, bukan pada pembicaranya. Ada pula yg sebenernya bosen karena apa yang dibicarakan udah umum, dan kalau aku mau jujur, emang aku pun sering denger hal ini.
Tapi tiba-tiba..... AHAAAAA
Hal yang sama, bisa kita dapatin dengan cara yang berbeda dan punya sudut pandang yang berbeda. Kemaren2, aku bakalan bosen dgr org ngmg ttg iman Abraham. Udah sering banget dengernya. Twpi ketika aku memandang ekspresi yang berbeda dari tiap orang, akupun menemukan kalau ternyata ada juga yang ekspresinya bener2 haus dan menangkap semua yang dikatakan pembicara. Aku mulai menyadari sesuatu.
Abraham punya iman dan percaya bahwa Tuhan pasti tahu yang terbaik, makanya dia mau serahin Ishak ke Tuhan meski itu anaknya yang lahir saat dia sudah berumur 100tahun. Hal yang sama juga terjadi pada peserta yang mendengarkan si pembicara itu. Dia percaya bahwa dirinya pun bisa punya iman seperti Abraham.
Semuanya terletak pada HATI. Kalau kamu ngerasa bosen, yajadilah sesuai yang kamu maui. Kalau kamu mau ngerasa haus dan rindu, maka kamupun akan dipuaskan. Semuanya sangat tergantung hati, apakah hatimu mau mendengarkan atau membiarkan. Iman itu seperti PERCAYA SAJA APAPUN ITU YANG TUHAN MAU DAN HENDAK PERBUAT. SUDAH PASTI DIA KASIH YANG TERBAIK. JADI YA PERCAYA SAJA
Si boss nyuruh kita untuk melakukan tindakan A, karena si boss ngerasa itu tindakan yg seharusnya ngasih dampak baik. Kalau kita ga percaya? Bisa jadi kita malah dipecat. Kita harus percaya sama perkataan boss dan melakukannya.
Pagi itu aku denger seseorang yang ngomong tentang iman. Aku duduk di antara para manusia lainnya yang juga sedang mendengarkan. Ketika aku liat muka mereka, aku ngeliat ada yang cuma ekspresi datar. Piring kalah datarnya.
Ada yang sepertinya mendengarkan tapi keliatan kok lagi mikirin yang lain, bukan pada pembicaranya. Ada pula yg sebenernya bosen karena apa yang dibicarakan udah umum, dan kalau aku mau jujur, emang aku pun sering denger hal ini.
Tapi tiba-tiba..... AHAAAAA
Hal yang sama, bisa kita dapatin dengan cara yang berbeda dan punya sudut pandang yang berbeda. Kemaren2, aku bakalan bosen dgr org ngmg ttg iman Abraham. Udah sering banget dengernya. Twpi ketika aku memandang ekspresi yang berbeda dari tiap orang, akupun menemukan kalau ternyata ada juga yang ekspresinya bener2 haus dan menangkap semua yang dikatakan pembicara. Aku mulai menyadari sesuatu.
Abraham punya iman dan percaya bahwa Tuhan pasti tahu yang terbaik, makanya dia mau serahin Ishak ke Tuhan meski itu anaknya yang lahir saat dia sudah berumur 100tahun. Hal yang sama juga terjadi pada peserta yang mendengarkan si pembicara itu. Dia percaya bahwa dirinya pun bisa punya iman seperti Abraham.
Semuanya terletak pada HATI. Kalau kamu ngerasa bosen, yajadilah sesuai yang kamu maui. Kalau kamu mau ngerasa haus dan rindu, maka kamupun akan dipuaskan. Semuanya sangat tergantung hati, apakah hatimu mau mendengarkan atau membiarkan. Iman itu seperti PERCAYA SAJA APAPUN ITU YANG TUHAN MAU DAN HENDAK PERBUAT. SUDAH PASTI DIA KASIH YANG TERBAIK. JADI YA PERCAYA SAJA
Wednesday, September 30, 2015
Ide Bisnis : Penyedia Informasi
Ide bisnis yang satu ini sangat berkaitan dengan jasa menyediakan informasi yang diperlukan oleh suatu daerah tertentu. Dimana di dalam informasi itu, mencakup segala hal tentang apa saja yang terjadi di daerah tersebut.
Ide ini terus terang terpikirkan berorientasi pada sosial media dan website. Jadi, kita memberikan informasi yang ada kepada para pengguna melalui sosial media dan website.
Nah, bagaimana tepatnya? Kamu bisa cari tahu sendiri. Yang pasti, informasi yang kita sampaikan bisa berupa apa saja. Beberapa di antaranya seperti alamat dan nomor penting, pariwisata yang ada di sana, bahkan mungkin keadaan lalu lintas daerah tersebut.
Aku rasa aku sudah cukup jelas mengatakan jasa seperti apa yang saya uraikan di sini, tapi bisa jadi kamu punya ide yang lebih wah, hasil pengembangan dari ide ini.
Bekerjasama dengan pihak-pihak terkait yang ada di daerah tersebut akan sangat berguna. Misalnya saja, memasukkan aplikasi Go-Jek di sana, atau bekerjasama dalam hal diskon, atau lainnya.
Darimana uang yang didapatkan? Ada banyak cara. Melalui google adsense, melalui iklan-iklan, melalui kerjasama, ataupun melalui event yang ada.
Jika sudah besar, kembangkanlah ke daerah-daerah yang lain. Hal ini dapat memperluas jaringan yang ada dan orang pun terbantu dengan informasi yang kamu berikan.
Ide ini terus terang terpikirkan berorientasi pada sosial media dan website. Jadi, kita memberikan informasi yang ada kepada para pengguna melalui sosial media dan website.
Nah, bagaimana tepatnya? Kamu bisa cari tahu sendiri. Yang pasti, informasi yang kita sampaikan bisa berupa apa saja. Beberapa di antaranya seperti alamat dan nomor penting, pariwisata yang ada di sana, bahkan mungkin keadaan lalu lintas daerah tersebut.
Aku rasa aku sudah cukup jelas mengatakan jasa seperti apa yang saya uraikan di sini, tapi bisa jadi kamu punya ide yang lebih wah, hasil pengembangan dari ide ini.
Bekerjasama dengan pihak-pihak terkait yang ada di daerah tersebut akan sangat berguna. Misalnya saja, memasukkan aplikasi Go-Jek di sana, atau bekerjasama dalam hal diskon, atau lainnya.
Darimana uang yang didapatkan? Ada banyak cara. Melalui google adsense, melalui iklan-iklan, melalui kerjasama, ataupun melalui event yang ada.
Jika sudah besar, kembangkanlah ke daerah-daerah yang lain. Hal ini dapat memperluas jaringan yang ada dan orang pun terbantu dengan informasi yang kamu berikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

